Riau Dikepung Kabut Asap 

Tim Redaksi • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 08:46 WIB
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti kawasan Jalan Raya Pekanbaru-Bangkinang, Ahad (23/8/2026). Kondisi ini membuat kualitas udara di Pekanbaru berstatus tidak sehat.(EVAN GUNANZAR/RIAU POS)
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan menyelimuti kawasan Jalan Raya Pekanbaru-Bangkinang, Ahad (23/8/2026). Kondisi ini membuat kualitas udara di Pekanbaru berstatus tidak sehat.(EVAN GUNANZAR/RIAU POS)

Pekanbaru (RIAUPOS.CO) - Riau dikepung kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Ahad (23/8). Sebagian besar wilayah Riau seper­ti Pekanbaru, Rokan Hilir, Kuantan Singingi, Siak, Kampar, dan Pelalawan diselimuti kabut asap. Bahkan, di Pekanbaru, kualitas udara masuk kategori tidak sehat.

Kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru terlihat sejak pagi dan pada malam hari kian pekat. Hal ini membuat konsentrasi partikulat halus (PM2.5) terpantau berada pada kategori tidak sehat.

Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada pukul 16.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru mencapai 133,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut masuk kategori tidak sehat.

Kondisi serupa juga terlihat dari pemantauan IQAir. Pada pukul 17.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Pekanbaru berada di angka 117 atau kategori tidak sehat. Polutan utama yang terdeteksi adalah PM2.5 dengan konsentrasi 92,4 µg/m³.

Baca Juga: Hari Ini, Presiden Prabowo Dijadwalkan Tinjau Karhutla di Kampar 

Angka tersebut menunjukkan kualitas udara masih berada pada level yang mengkhawatirkan. Sebelumnya, pemantauan BMKG pada pukul 07.00 WIB mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 62,5 µg/m³. Sementara IQAir pada pukul 21.00 WIB mencatat PM2.5 sebesar 150,3 µg/m³ dengan AQI 226 yang menyatakan kualitas udara di Pekanbaru masuk kategori sangat tidak sehat.

Prakirawan BMKG Pekanbaru Yudhistira M menjelaskan, kondisi ini turut membuat jarak pandang di sejumlah daerah di Riau mengalami penurunan. Terpantau Pekanbaru jarak pandang hanya tersisa 2.5 kilometer (km). Di Rengat Indragiri Hulu, jarak pandang tersisa 5 km, Pelalawan 6 km, dan Tambang Kampar 9 km.

Kabut tipis juga menyelimuti sejumlah wilayah di kawasan Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), kemarin. Kondisi ini terlihat dari udara yang cenderung berkabut dan jarak pandang yang menurun dibandingkan biasanya.

Baca Juga: Pekanbaru dan Pelalawan Liburkan Sekolah

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Rohil H Syafnurizal menjelaskan, kemarin. H Syafnurizal di Rohil memang sempat terjadi karhutla. Namun, sudah terkendali. “Di Rohil terdapat tiga titik panas di Pujud dan Tanah Putih,” ujarnya. “Memang terjadi karhutla namun saat ini sudah dapat dikendalikan. Dalam artian tidak begitu luas,” tambahnya.

Syafnurizal menjelaskan, kabut asap yang dirasakan masyarakat di Bagansiapiapi diperkirakan tidak seluruhnya berasal dari kebakaran yang terjadi di wilayah Rohil. Kondisi ini tidak terlepas dari meningkatnya karhutla di sejumlah wilayah lain di Sumatera. 

“Yang paling penting masyarakat tetap waspada. Jangan melakukan pembakaran lahan dan segera laporkan apabila melihat adanya kebakaran,” katanya. ‘’Kurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi kabut asap semakin pekat. Penggunaan masker saat berada di luar rumah menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan asap,’’ tambahnya.

Baca Juga: Perempuan Penenun Riau, Penjaga Warisan Songket di Tengah Perubahan Zaman 

Kabut asap juga menyelimuti wilayah Telukkuantan Kecamatan Kuantan Tengah, Kuansing. Asap terlihat jelas meski belum menganggu jarak pandang kendaraan. Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Bencana BPBD Kuansing, Koko Mahyudi menjelaskan, kabut asap berasal dari kiriman kabupaten tetangga. 

Sebab, sampai kemarin tidak ada terpantau titik api di Kuansing. “Baik hari kemarin ataupun hari ini (kemain, red), tidak ada terpantau titik api. Sabtu (22/8) lalu hotspot hanya di Kecamatan Singingi dan Logas Tanah Darat dari pabrik PKS. Asap sekarang, positif dari kabupaten tetangga,” ujarnya.

Ini pun diungkapkan oleh Plt Kadis Lingkungan Hidup (DLH) Kuansing, Dody Fitrawan. “Iya. Hasil pantauan kami sampai hari ini (kemarin, red) tidak ada titik api di Kuansing. Ini kiriman daerah lain,” ujarnya. ‘’Meski demikian, dari hasil pengukuran kualitas udara yang dilakukan, Ahad (23/8), sebagian besar daerah berstatus tidak sehat,’’ tambahnya.

Baca Juga: Hadir di Tepian Narosa, BRK Syariah Bawa Kemudahan Transaksi Digital untuk Festival Pacu Jalur 2026

Di Siak juga berasap meski nihil karhutla. “Kabut asap yang saat ini ada di Kabupaten Siak, merupakan kiriman dari kabupaten tetangga,” terang Kalaksa BPBD Siak Novendra. “Waspada ISPA, sebaiknya kurangi aktivitas di luar rumah, terutama balita dan lansia,” tambahnya.

Demikian juga di Kampar. Kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah di perbatasan Kampar dan Pekanbaru akibat karhutla yang terjadi di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang.

Asap terlihat cukup pekat di kawasan yang menjadi jalur penghubung Kampar dan Pekanbaru. Kondisi ini membuat jarak pandang di sejumlah lokasi tampak berkurang, terutama pada waktu-waktu tertentu ketika asap terbawa angin dan berkumpul di kawasan permukiman maupun sepanjang jalan.

Kalaksa BPBD Kampar Azwan melalui Kepala Pusdalops PB BPBD Kampar, Adi Candra Lukita, mengatakan kabut asap yang menyelimuti kawasan perbatasan tidak sepenuhnya berasal dari kebakaran lahan yang terjadi di wilayah Kampar.

Baca Juga: Operasi Modifikasi Cuaca Dilanjutkan, 9 Ton Garam Siap Disemai untuk Hujan Buatan

Menurutnya, asap yang terpantau di sejumlah wilayah Kampar juga merupakan kiriman dari daerah lain yang saat ini mengalami karhutla, seperi wilayah Jambi dan Pelalawan. “Asap selain kiriman dari Jambi dan Pelalawan, juga terjadi kebakaran di dua titik di wilayah Rimbo Panjang,” jelas Adi Candra.

Ia menjelaskan, keberadaan dua titik karhutla di Rimbo Panjang turut memperburuk kondisi udara di kawasan perbatasan Kampar-Pekanbaru. Asap dari titik kebakaran kemudian terbawa angin sehingga menyebar ke wilayah di sekitarnya.

Meski demikian, kondisi kabut asap tersebut belum dirasakan secara merata di seluruh wilayah Kabupaten Kampar. “Untuk wilayah Bangkinang dan Kampar lainnya masih aman dari kabut asap. Untuk kualitas udara masih aman,” ujarnya.

BPBD Kampar, lanjut Adi Candra, terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan titik api di Rimbo Panjang. Pemantauan dilakukan untuk mengetahui pergerakan dan perkembangan kebakaran sekaligus mengantisipasi agar api tidak meluas ke kawasan lainnya.

Baca Juga: BRK Syariah Raih Dua Penghargaan Program KEJAR 2026 dari OJK Riau

Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan kemunculan titik api baru di sekitar permukiman atau lahan terbuka. Langkah cepat diperlukan agar kebakaran dapat ditangani sebelum meluas dan menghasilkan kepulan asap yang lebih besar.

Adi Chandra Lukita, menjelaskan ada tiga lokasi kebakaran yakni berada di Jalan Dirgantara Desa Tarai Bangun, Kecamatan Tambang, Desa Salo, Kecamatan Salo, serta Jalan Keluarga H1 Desa Tarai Bangun, Kecamatan Tambang. “Satgas gabungan di lokasi mengalami kendala karena keterbatsa sumber air. Sementara lahan yang terbakar cukup luas,’’ jelas Adi Candra.

Di Inhu, kabut asal juga mulai menyelimuti, Ahad (23/8) pagi. Kabut asap tipis itu, salah satunya disebabkan oleh karhutla yang terjadi di Desa Sungai Guntung Hilir, Kecamatan Rengat yang terjadi sejak beberapa hari lalu.

Dokter Destika, salah seorang warga Peranap Kabupaten Inhu membenarkan bahwa kabut asap mulai terlihat pada Ahad (23/8) pagi. “Kabut asapnya masih tipis dan aroma asapnya juga tercium,” ujarnya.

Baca Juga: Kabut Asap Kiriman Kembali Selimuti Pekanbaru, BMKG: Pelalawan Terpantau 216 Hotspot

Kondisi kabut asap itu terjadi sejak pagi dan masih terlihat hingga pukul 09.00 WIB. “Kabut asap itu akan berdampak langsung kepada penderita asma. Jika harus keluar rumah upayakan menggunakan masker,” harapnya.

Hal yang sama juga disampaikan salah seorang warga Rengat, Rahmadi. “Tadi (kemarin, red) sekitar pukul 07.00 WIB saat lari pagi memang ada asap tipis tapi tidak terlalu terlihat,” ujarnya. “Untuk saat ini belum terlalu mengganggu. Apabila terus terjadi karhutla tentunya akan berdampak lebih luas,” sebutnya. Senada disampaikan seorang warga Kecamatan Batang Cenaku, Syamsurizal. “Benar, pagi memang terlihat asap tipis,” katanya. 

Di tempat terpisah, Kepala BMKG Inhu, Nancy Luciana Damanik ST MSI ketika dikonfirmasi mengatakan, di Inhu terdapat tiga titik. “Tiga titik terpantau di Kecamatan Rengat, Kecamatan Batang Cenaku, dan Kecamatan Seberida,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau M Edy Afrizal mengatakan saat ini mewaspadai sebaran asap yang bergerak dari wilayah selatan menuju Riau. Kondisi ini seiring dengan arah angin yang bergerak dari selatan menuju utara. “Ini asap kiriman dari Lampung, Sumatera Selatan dan Jambi yang masuk ke Riau, bercampur dengan asap yang dari Kerumutan Riau,” ujarnya.

Baca Juga: Sisir Bara Api di Lahan Gambut 434 Ha

Ia menyebutkan, sebaran asap bahkan telah terpantau hingga wilayah Sumatera Utara. Namun, asap tersebut belum seluruhnya masuk ke kawasan permukiman. “Asapnya juga sudah sampai ke Sumatera Utara, cuma belum sampai masuk ke permukiman karena memang arah anginnya dari Selatan ke Utara, ke sana,” ujarnya.

Menurutnya, arah angin menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan dan sebaran asap. Karena itu, kondisi tersebut terus dipantau guna mengantisipasi dampaknya terhadap masyarakat. 

Edy menegaskan, asap perlu diantisipasi terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan seperti ibu hamil, bayi, dan balita. “Untuk mengantisipasi, jangan sampai masyarakat terdampak. Kita perlu ada pembagian masker juga di sana,” ujarnya. 

Sekretaris Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Provinsi Riau, dr Indra Yovi mengatakan, dengan kondisi saat in,  masyarakat diimbau untuk menggunakan masker.

Baca Juga: Polda Riau Libatkan 5 Ahli Selidiki Karhutla di Areal PT Teguh Karsa Wana Lestari

“Masker yang paling direkomendasikan yakni masker N95. Tetapi minimal pakai masker bedah biasa untuk kondisi sekarang sudah cukup karena masker N95 kadang susah didapat dan harganya relatif mahal,” katanya.

Selain itu, pihaknya juga merekomendasikan pemakaian air purifier di dalam ruangan, bila asap masuk ke dalam rumah bisa dibersihkan sehingga tidak terjadi indoor pollution. “Aktivitas olahraga di luar rumah seperti bersepeda ataupun joging dengan kondisi sekarang sebaiknya ditunda,” sebutnya.

Masyarakat juga diimbau untuk minum air putih yang cukup. Hal tersebut sangat diperlukan untuk menghindari dehidrasi dan tenggorokan kering. “Masyarakat kami imbau untuk dapat menjaga kesehatan, seperti minum air putih yang cukup. Serta makan makanan yang sehat dan bergizi,” imbaunya.

Dalam kesempatan tersebut, pihaknya juga mengimbau kelompok rentan terutama lansia dan orang-orang yang punya masalah atau penyakit paru dan saluran napas sebaiknya menghindari aktifitas diluar rumah. “Kelompok rentan seperti lansia, mereka yang memiliki penyakit paru sebaiknya menghindari aktivitas di luar rumah,” katanya. 

Baca Juga: Kabut Asap Mengancam, Pemerintah Diminta Siapkan Masker 

Kapolda: Titik Api Harus Segera Ditindaklanjuti

Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan mengatakan, patroli dan pemantauan udara terus dilakukan untuk memperoleh gambaran faktual mengenai kondisi karhutla sekaligus memastikan penanganan di lapangan berlangsung cepat, tepat dan terkoordinasi.

Menurutnya, pemantauan dari udara dapat memberikan informasi mengenai keberadaan titik-titik api. Namun, informasi tersebut harus segera ditindaklanjuti dengan tindakan nyata di lapangan.

“Melalui udara kita dapat melihat titik-titik api, tetapi yang terpenting adalah bagaimana informasi itu segera diterjemahkan menjadi tindakan di lapangan. Karena itu, kami turun langsung untuk memastikan seluruh sumber daya bergerak bersama,” ujarnya.

Baca Juga: Pemprov Riau Perkuat Kolaborasi Perlindungan dan Pemulihan Ekosistem 

Ia menegaskan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kecepatan respons dan kolaborasi seluruh unsur. Setiap titik api harus segera ditangani sejak dini agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas, terutama pada kawasan dengan karakteristik lahan yang rentan terbakar.

“Karhutla tidak bisa ditangani sendiri-sendiri. TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni, perusahaan dan masyarakat harus berada dalam satu gerak. Prinsipnya, begitu terdeteksi ada titik api, kita harus cepat datang, cepat memadamkan dan memastikan tidak terjadi kebakaran ulang,” tegasnya.

Pangdam: Semua Unsur Harus Bergerak Bersama

Baca Juga: Berkurang, Hotspot di Riau Tersisa 25 Titik, Ini Sebarannya

Senada  diungkapkan Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen TNI Dr Agus Hadi Waluyo. “Kami memastikan personel di lapangan tetap bekerja bersama dan saling mendukung. Kondisi seperti ini membutuhkan kekuatan terpadu. Tidak ada sekat TNI, Polri maupun instansi lainnya ketika yang kita hadapi adalah ancaman terhadap masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.

Pangdam juga mengapresiasi seluruh personel gabungan yang terus bekerja di garis depan meskipun harus menghadapi panas, asap dan medan yang cukup berat. “Yang berada di garis depan adalah personel kita di lapangan. Mereka menghadapi panas, asap dan medan yang berat. Karena itu kami hadir untuk memastikan mereka mendapat dukungan dan penanganan dilakukan secara maksimal sampai api benar-benar padam,” tambahnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau (Gubri) SF Hariyanto, bersama Pangdam XIX/Tuanku Tambusai, Kapolda Riau, dan Danrem 031/WB Danrem 031/Wira Bima Brigjen TNI Agustatius Sitepu didampingi Bupati Kampar Ahmad Yuzar turun langsung membantu pemadaman karhutla bersama di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Ahad (23/8). (sol/ayi/dac/fad/mng/kas/kom/ilo)

 

Editor : Arif Oktafian
kabut asap riau karhutla riau bpbd riau