PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Sempat mengalami penurunan secara signifikan selama beberapa hari terakhir, hotspot atau titik panas di Riau kembali naik, Rabu (2/8). Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mendeteksi sebanyak 64 titik panas tersebar di Riau, naik tiga kali lipat dari sebelumnya yang hanya terdeteksi 20 titik.
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Putri Santy S menjelaskan, bukan hanya di Riau tetapi, secara keseluruhan terdapat peningkatan jumlah titik panas di Pulau Sumatera yang berkisar 1.553 pukul 16.00 WIB. ‘’Hotspot di Riau tersebar di delapan kabupaten dan kota,’’ ujarnya, kemarin.
Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 17. Diikuti Indragiri Hulu (Inhu) 13, Pelalawan 12, Siak 9, Kepulauan Meranti 7, Kuantan Singingi (Kuansing) 3, Kota Dumai 2, dan Rokan Hulu 1 titik.
Baca Juga: Naik Lagi, Hari Ini 64 Hotspot Terdeteksi di Provinsi Riau
“Di tengah peningkatan hotspot tersebut, jarak pandang di sejumlah wilayah Riau masih tergolong cukup baik. Pada pukul 16.00 WIB, jarak pandang di Pekanbaru tercatat 7 kilometer (km), Rengat (Inhu, red) 6 kilometer, Pelalawan 8 kilometer, dan Tambang (Kampar, red)8 kilometer,” jelasnya.
Sementara itu, titik panas yang sebar di Pulau Sumatera masih didominasi Provinsi Sumatera Selatan, yakni 998 titik. Disusul Bangka Belitung (Babel) 259, Jambi 88, Lampung 81, Kepulauan Riau (Kepri) 29, Sumatera Utara (Sumut) 12, Aceh 8, Bengkulu 8, dan Sumatera Barat (Sumbar) 6 titik.
Karhutla Tersisa di Tiga Daerah
Meski titik panas di Riau menurun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau mencatat, hingga kemarin kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hanya tersisa di tiga daerah. Yakni di Bengkalis, Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir.
Baca Juga: Dosen Unri Latih Kelompok HKm Mandiri Sejahtera lewat Eco Fashion
Namun titik karhutla tersebut tidak terlalu besar dan masih terus dilakukan upaya pemadaman. “Untuk titik karhutla hanya tinggal di tiga daerah saja. Yakni Bengkalis, Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir. Saat ini juga masih terus dilakukan pemadaman,” sebut Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal, kemarin.
Pihaknya tetap menekankan pentingnya proses pendinginan, khususnya pada lahan gambut. Pendinginan dilakukan untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa dan berpotensi kembali memicu kebakaran setelah api di permukaan berhasil dipadamkan.
“Jadi kita tetap waspada karena upaya penanganan tentu memastikan seluruh sumber api benar-benar padam sehingga tidak menimbulkan kebakaran kembali. Begitu juga OMC (Operasi Modifikasi Cuaca), tetap kami lakukan setiap hari,” ujarnya.
Baca Juga: Nalladia Ayu Mundur dari Ketua Fraksi Golkar DPRD Riau, Ini Penggantinya
Edy menambahkan, secara akumulasi sejak 1 Januari 2026, total hotspot di Riau mencapai 12.677 titik dengan 618 firespot (titik api) dan total luasan lahan terbakar 18.582,90 hektare (ha). Untuk wilayah Sumatera, total hotspot mencapai 45.775 titik.
Lakukan Pendinginan di Inhu dan Rohul
Upaya pemadaman karhutla di Desa Kuantan Babu Kecamatan Rengat, Kabupaten Inhu mulai ada tanda-tanda akan padam. Tim gabungan mulai melakukan mopping up atau pendinginan. Tim gabungan masih terkendala sumber air yang cukup jauh.
“Untuk menjangkau sumber air, peralatan tambahan dikerahkan ke lokasi,” ujar Kepala DOPS Manggala Agni Sumatera VII Rengat, Muhammad Ilham Sidik, Rabu (2/9). Peralatan tambahan itu sebutnya, berupa 15 rol selang. Penambahan selang air tersebut untuk menjangkau sumber air agar mencapai titik api dengan jarak mencapai 500 meter.
Baca Juga: Kemenkum Riau Harmonisasi Ranperbup Pengendalian Gratifikasi Kabupaten Siak
Ia memastikan tidak ada penambahan luasan areal Karlahut di Desa Kuantan Babu. “Kami maksimalkan jangkauan selang dan sumber air yang cukup besar agar tidak terjadi penambahan luas yang terbakar,” terangnya.
Proses pendinginan bekas lahan gambut terbakar seluas lebih kurang satu hektare di ruas Jalan Provinsi Sontang-Duri, tepatnya di Desa Sontang, Kecamatan Bonai Darussalam, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul) juga masih berlanjut, Rabu (2/9) siang.
Kalaksa BPBD Rohul Zulhendri mengatakan, proses pemadaman tidak cukup hanya dengan memastikan api di permukaan sudah tidak terlihat. Khusus pada lahan gambut, petugas harus memastikan bara yang berada di dalam tanah benar-benar padam.
“Kalau gambut ini harus benar-benar dipastikan dingin. Walaupun api di atas sudah tidak kelihatan, di bawahnya bisa saja masih ada bara. Karena itu pendinginan tetap kita lakukan sampai benar-benar aman,” kata Zulhendri.
Baca Juga: Berpotensi Hujan, Riau Masih Sumbang 26 Hotspot di Sumatera
Menurutnya, tim gabungan di lapangan terus melakukan pemantauan terhadap areal lahan gambut bekas terbakar. Pendinginan dilakukan secara berulang, terutama pada bagian lahan yang masih mengeluarkan asap atau memiliki indikasi panas.
‘’Alhamdulilah, proses pendinginan di lahan terbakar di tepi ruas jalan Sontang-Duri tepatnya di Desa Sontang sudah selesai tadi sore (kemarin, red). Tim relawan memastikan tidak ada mucul asap dan bara dari lahan yang terbakar,’’ katanya.
Ia mengingatkan seluruh pihak agar tidak lengah meski kondisi cuaca dan titik panas mulai menunjukkan perkembangan yang lebih baik. “Kita minta masyarakat tetap waspada. Jangan melakukan pembakaran lahan, sekecil apa pun. Kondisi lahan gambut sangat mudah terbakar dan kalau sudah terbakar penanganannya cukup sulit,” tegasnya.
Baca Juga: Program Pemutihan Denda PKB Hasilkan Rp123,25 M
“Kalau masyarakat melihat ada asap atau titik api, segera laporkan. Jangan menunggu api membesar. Semakin cepat diketahui, semakin mudah kita melakukan penanganan,” tambah mantan Kadiskop UKM Nakertrans Rohul.
Lahan 12 Ha di Talang Muandau Masih Berasap
Satgas gabungan masih berjibaku melakukan pemadaman dan pendinginan di lahan seluas 12 ha terbakar di Kecamatan Talang Muandau, Kabupaten Bengkalis. Meski api telah padam setelah kawasan tersebut diguyur hujan, petugas masih menemukan kepulan asap di sejumlah titik.
“Ya, meski api sudah padam setelah diguyur hujan, kita tetap melakukan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara atau titik api yang dapat kembali menyala,” ujar Kapolres Bengkalis AKBP Fahrian Saleh Siregar, Rabu (2/9).
Baca Juga: Jelang HUT Ke-81 Kejaksaan, Kajati Riau Ingatkan Jajaran Jaga Integritas
Selain melakukan pembasahan lahan, tim juga melakukan verifikasi titik panas melalui Dashboard Lancang Kuning. Pemantauan dilakukan secara berkala untuk memastikan tidak terdapat titik api baru di sekitar lokasi.
“Ya, kami bersama seluruh unsur terkait terus melakukan pemantauan di lapangan. Pendinginan ini penting dilakukan meskipun kondisi api sudah padam, karena masih ada asap dan potensi bara yang dapat memicu kebakaran kembali,” jelasnya.
Di Rimbo Panjang Dipasang Plang
Polres Kampar bersama unsur Forkopimda memasang plang peringatan larangan kegiatan di areal bekas karhutla seluas sekitar 14 ha di Jalan Keluarga, RT 002/RW 001, Dusun II, Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Rabu (2/9).
Pemasangan plang tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya penegakan hukum sekaligus mencegah adanya aktivitas ilegal di kawasan yang sebelumnya terdampak kebakaran. Kapolres Kampar AKBP Boby Putra Ramadhan mengatakan pemasangan plang merupakan bentuk penegasan bahwa kawasan tersebut menjadi perhatian dalam proses penegakan hukum.
Baca Juga: Kemenkum Riau Ikuti Desk Evaluasi WBBM, Tampilkan Inovasi dan Budaya Kerja Berintegritas
“Pemasangan plang ini bukan sekadar tanda batas wilayah, melainkan teguran hukum yang sangat serius. Lahan seluas 14 hektare ini kini resmi berada dalam status penegakan hukum terkait dugaan tindak pidana pembakaran lahan serta pemanfaatan kawasan hutan tanpa izin sah,” ujar Boby.
Ia menegaskan, setiap pihak harus menghormati status lokasi dan tidak melakukan aktivitas yang dapat mengganggu proses penegakan hukum. “Kami ingin masyarakat memahami dengan jelas bahwa siapa pun yang berusaha mengerjakan, menduduki, atau merusak tanda peringatan ini akan berhadapan dengan proses hukum,” tegasnya.
Plang peringatan yang dipasang memuat ketentuan mengenai larangan aktivitas di areal bekas terbakar serta ancaman pidana berdasarkan sejumlah peraturan perundang-undangan terkait kehutanan, lingkungan hidup, dan pencegahan serta pemberantasan perusakan hutan.
Baca Juga: 764 Penerima PKH Meranti Terdeteksi Judi Online, Dinsos Verifikasi Data
Sekolah di Batang Cenaku Masih Daring
Kegiatan pembelajaran pada satuan pendidikan, khususnya di Kecamatan Batang Cenaku, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) masih menerapkan belajar dari rumah atau daring. Sementara satuan pendidikan di 13 kecamatan dalam wilayah Kabupaten Inhu, sudah melaksanakan pembelajaran tatap muka, sejak Senin (31/8).
Koordinator Wilayah (Korwil) Pendidikan Kecamatan Batang Cenaku pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Inhu, Herianto mengatakan, pihaknya masih menunggu arahan dari Pemkab Inhu melalui Disdikbud tentang pelaksanaan pembelajaran secara tatap muka.
Namun demikian, sebagai gambaran untuk kabut asap dalam wilayah Kecamatan Batang Cenaku pada Rabu (2/9) masih terlihat. “Kondisi kabut asap hari ini (kemarin, red) sudah mulai berkurang dibandingkan pada pekan kemarin,” ujar Herianto, Rabu (2/9).
Baca Juga: Hakim Tolak Eksepsi Rida K Liamsi, Sidang Lanjut Pembuktian Perkara
Sementara itu, Plt Kepala Disdikbud Inhu Joni Maryanto melalui Kabid Dikdas Muhammad Faizin mengatakan, berdasarkan laporan dari sejumlah instansi terkait, kualitas udara di wilayah Kecamatan Batang Cenaku masih tergolong belum baik. “Karena kabut asap masih terlihat, pembelajaran di wilayah Kecamatan Batang Cenaku masih daring,” ujarnya.
Kabid Dikdas berharap dalam waktu dekat pelaksanaan pembelajaran di Kecamatan Batang Cenaku dapat dilaksanakan secara tatap muka. “Semoga dalam satu atau dua hari ini, kualitas udara di Kecamatan Batang Cenaku terus membaik dan proses pembelajaran dapat dilaksanakan secara tatap muka,” harapnya.
Sesuai dengan keputusan Pemkab Kuantan Singingi (Kuansing), Rabu (2/9), seluruh jenjang pendidikan, mulai PAUD, TK, SD, SMP, negeri dan swasta melakukan pembelajaran tatap muka kembali. Aktivitas pembelajaran tatap muka pun berjalan normal seperti biasa.
“Alhamdulillah, hari ini (kemarin, red) pembelajaran tatap muka berjalan normal seperti biasa. Tidak ada murid di sekolah yang harus pulang lebih awal,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kuansing Herizon melalui Sekretaris Disdikpora Zulmaswan, Rabu (2/9).
Kebijakan ini diambil setelah melihat kondisi udara mulai membaik dan asap sudah jauh berkurang. Meski demikian, Disdikpora Kuansing akan terus melakukan evaluasi sesuai kondisi lapangan. “Mudah-mudahan kondisi segera pulih dengan terus berkurangnya asap,” kata Zulmaswan.
Dari data pantauan kualitas udara yang dilakukan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kuansing, indeks kualitas udara terus membaik. “Indeks kualitas udara sudah membaik. Sudah di level sedang. Makanya hari ini kembali pembelajaran tatap muka,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kadis DLH Kuansing, Dody Fitrawan yang dikonfirmasi terpisah.(ayi/sol/kas/epp/ksm/kom/dac)
Editor : Arif Oktafian