RENGAT (RIAUPOS.CO) - Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau belum juga tuntas. Selain masih adanya asap yang menyebabkan kualitas udara menjadi tidak sehat di beberapa daerah, titik api baru juga muncul di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), tepatnya di Kecamatan Batang Gansal.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (BPBD-PKP) Kabupaten Inhu Mulyadi Titik Api Baru Muncul di Batang Gansal mengatakan, titik karhutla yang terjadi di Kecamatan Batang Gansal berada di Desa Penyaguhan. “Luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 20 hektare (ha) dan sudah berhasil dipadamkan dan pendinginan sekitar 3 hektare,” ujarnya, Senin (21/9).
Dijelaskan Mulyadi, karhutla yang terjadi di Desa Penyaguhan terjadi sejak Ahad (20/9). Bahkan, areal yang terbakar sudah ditangani oleh Satgas sejak pertama kali kejadian. Mulyadi menerangkan, personel BPBD-PKP Inhu yang diturunkan ke lokasi sebanyak 10 orang. Juga ada personel gabungan TNI dan Polri serta pihak lainnya.
Baca Juga: FGD Sejarah UIN Suska Riau Menuju Rekam Jejak Transformasi dan Meneguhkan Jati Diri
Sementara itu, untuk penanganan beberapa titik karhutla di Kecamatan Kuala Cenaku tinggal pendinginan. Sebab, sekat kanal di wilayah yang terbakar sudah tersambung. Sedangkan karhutla di Desa Kuantan Babu dan Sungai Guntung Hilir Kecamatan Rengat, sudah terkendali dan dapat dipadamkan pada Sabtu (19/9) akhir pekan lalu.
Senin (21/9) sekitar pukul 17.00 WIB sejumlah wilayah di Inhu diguyur hujan sehingga dapat mempercepat padamnya titik karhutla yang terjadi. Hujan turun di Rengat, Rengat Barat, Pasir Penyu, Lirik, Kuala Cenaku, Sungai Lala, Lubuk Batu Jaya, Batang Peranap, dan Batang Gansal.
Di tempat terpisah, Kepala Daerah Operasional (DAOPS) Manggala Agni Sumatera VII Rengat, Muhammad Ilham Sidik ketika dikonfirmasi mengatakan, pihaknya saat ini menangani karhutla di Desa Pulau Jumat dan Desa Tanjung Sari Kecamatan Kuala Cenaku. “Kondisi di TKP sudah relatif kondusif. Karena posisi api sudah tersekat keliling,’’ ujarnya.
Baca Juga: Mantan Finalis Putri Indonesia Divonis Bersalah Tiga Perkara, Jaksa Masih Pikir-Pikir Banding
Penanganan karhutla di daerah itu sambungnya, tinggal masuk fase pendinginan dan mengurai sisa asap. Bahkan, berdasarkan informasi yang diterima dari rekan-rekannya di lapangan juga sempat terjadi hujan pada Senin (21/9).
Lebih jauh disampaikanmya, penanganan karhutla di Desa Sungai Guntung Hilir dan Kuantan Babu Kecamatan Rengat sudah dapat diatasi pada Sabtu akhir pekan lalu. “Alhamdulillah, pemadaman di Desa Sungai Guntung Hilir dan Kuantan Babu sudah tuntas,” terangnya.
Sementara itu, Kepala BMKG Kelas III Japura Kabupaten Inhu Nancy Luciana Damanik menyampaikan, Senin (21/9) pukul 16.00 WIB terpantau sebanyak 9 titik panas di Inhu yang tersebar di Kecamatan Batang Gansal sebanyak 7, Kecamatan Batang Cenaku 1, dan Kecamatan Kuala Cenaku 1.
Baca Juga: Pekanbaru dan Sejumlah Daerah Riau Diguyur Hujan Ringan hingga Sedang
Lahan Terbakar di Riau Tembus 20.597 Ha
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD-Damkar) Riau, luas lahan yang terbakar di Riau telah mencapai 20.597,23 ha. Kepala BPBD Damkar Riau M Edy Afrizal mengatakan, Kabupaten Bengkalis paling luas terbakar yaitu 8.569,25 ha dari 4.305 hotspot dan 73 fire spot.
Disusul Pelalawan dengan luas terbakar 6.710,21 ha dari 3.787 hotspot, Indragiri Hulu (Inhu) 1.631,95 ha, Indragiri Hilir (Inhil) 1.381,54 ha, dan Dumai 651,09 ha. Di Rokan Hilir (Rohil) 445,47 ha, Siak 429,72 ha, Kepualaun Meranti 307,91 ha, Kampar 171,67 ha, Kuantan Singingi (Kuansing) 129,32 ha, Pekanbaru 106,73 ha, dan Rokan Hulu (Rohul) 62,37 ha.
Edy menambahkan, saat ini dilaporkan karhutla di Riau relatif terkendali. Meskipun demikian, tim masih melakukan pendinginan lokasi karhutla di Bengkalis, Inhu, dan Inhil. Di sisi lain, keberadaan asap masih menjadi perhatian, meskipun jumlah titik api di Riau telah menurun secara signifikan.
Baca Juga: MAN 1 Pekanbaru Kembali Ukir Prestasi di OSN 2026
Edy mengatakan berdasarkan arah angin dan kondisi titik panas di wilayah sekitar, asap yang terpantau di Riau diduga berpotensi berasal dari provinsi tetangga. Edy juga menegaskan, penanganan kahutla di tingkat lokal tetap menjadi prioritas utama.
Seluruh personel Satgas Karhutla dikerahkan secara konsisten untuk menyisir dan memadamkan setiap titik api yang muncul. “Setiap titik api tetap menjadi tanggung jawab kita untuk ditangani. Namun, penjelasan BMKG juga memberikan gambaran bahwa kondisi kabut asap saat ini dipengaruhi dinamika atmosfer dan pergerakan asap lintas wilayah,” katanya.
Upaya pemadaman darat dilakukan secara terpadu oleh personel gabungan BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, serta Masyarakat Peduli Api. Satgas Karhutla Riau juga memperkuat penanganan lewat udara menggunakan helikopter water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Baca Juga: Langgar Ketentuan, Imigrasi Pekanbaru Deportasi WN Malaysia
“Tidak perlu saling menyalahkan dari mana asap berasal. Fokus kita adalah memastikan setiap kebakaran di Riau ditangani, mencegah munculnya titik api baru, dan melindungi masyarakat dari dampak asap. Karhutla adalah persoalan bersama karena asap tidak mengenal batas wilayah,” kata Edy.
Tembilahan Diguyur Hujan, Udara Masih Tidak Sehat
Hujan kembali mengguyur Tembilahan, Inhil, Senin (21/9). Namun, hujan yang turun belum sepenuhnya menghilangkan kabut asap. Kualitas udara masih berada pada kategori Tidak Sehat dengan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat 139.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena masyarakat masih terpapar partikulat di udara, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan. Namun, karhutla di sejumlah wilayah Inhil mulai terkendali. Titik api yang sebelumnya ditangani BPBD Inhil di Teluk Kelasa, Sialang Panjang, Belantaraya dan Semambu Kuning telah dinyatakan selesai.
Baca Juga: Lantik 5 Pejabat Fungsional, Kakanwil Kemenkum Riau Ingatkan Integritas
Kalaksa BPBD Inhil R Arliansyah mengatakan, meski kondisi titik api di sejumlah lokasi sudah terkendali, pemantauan tetap dilakukan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru. “Tim terus melakukan pemantauan di wilayah yang sebelumnya terdapat titik api. Kita juga tetap mengikuti perkembangan hotspot yang terdeteksi,” ujarnya.
Dengan hujan yang belum sepenuhnya menghilangkan asap dan ISPU masih berada pada angka 139, maka kondisi kualitas udara di Tembilahan masih perlu menjadi perhatian. Masyarakat, terutama kelompok sensitif diimbau menyesuaikan aktivitas luar ruangan dengan kondisi udara.
Ancam Kesehatan Masyarakat
Kabut asap yang menyelimuti wilayah Kuansing sudah berlangsung cukup lama. Dinas Kesehatan (Diskes) Kabupaten Kuansing mencatat, asap sudah mencemari kualitas udara sudah satu bulan. Terhitung sejak 19 Agustus 2026 hingga sekarang.
Baca Juga: Satu Prestasi, Seribu Inspirasi: Pelajar Binaan EMP Energi Riau Raih Prestasi di GFLN
Artinya, sudah satu bulan pula masyarakat Kuansing kontak fisik dan terpapar asap. Kondisi ini mengancam kondisi kesehatan masyarakat Kuansing. Tidak saja ancaman infeksi saluran pernapasan akut tetapi ancaman serangan penyakit lainnya.
“Jadi kalau kita sudah kontak terlalu lama, menghirup udara yang tercemar oleh asap, jelas akan mengancam kesehatan kita. Tidak saja ISPA, tetapi juga gangguan kesehatan lainnya,” ungkap Kepala Diskes Kuansing Aswandi SKM melalui Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Diskes Kuansing Helma Muliani, Senin (21/9).
Dijelaskan Helma Muliani, untuk kasus ISPA mungkin saja semua masyarakat sudah terserang ISPA, namun tidak disadari. Tetapi yang ditangani oleh puskesmas se-Kuansing sejak 19 Agustus 2026 sampai 20 September 2026, kasus ISPA mencapai 1.388 orang. “Ini yang tercatat dan yang ditangani. Kalau kasus jauh lebih dari ini, cuma kita tidak menyadarinya,” katanya.
Baca Juga: Yamaha Riau Kepri Ajak Warga Nikmati Beragam Aktivitas Seru Gelar Karnaval Ultima
Gejala batuk, sakit kepala, pusing, beberapa tanda terserang ISPA. Akibat kebutuhan udara yang sehat tidak terpenuhi, tidak mencukupi untuk otak. Selain itu, ancaman penyakit pernapasan, paru juga akan bertambah oleh udara yang tercemar asap. Apalagi untuk kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, balita, anak-anak dan lansia (lanjut usia).
Mereka yang memiliki penyakit akut akan bisa semakin memperburuk kondisinya. Karena itu, Diskes selalu mengingat agar mengurangi aktivitas di luar rumah. ‘’Gunakan masker saat keluar, makan makanan bergizi, minum air putih yang banyak. Selain itu, pasang alat air purifier atau penyaring udara dalam rumah. Alat ini membantu menyaring racun atau udara yang kotor,” ujarnya.
Kualitas udara di wilayah Kuansing bertahan di level tidak sehat. “Kualitas udara masih bertahan di level tidak sehat. Hari ini (kemarin, red), sedikit turun dari hari kemarin,” ujar Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kuansing, Dody Fitrawan. Kabut asap yang menyelimuti Kuansing, kata Dody diyakini asap kiriman dari kabupaten tetangga.
Baca Juga: X-MOC Riau Rayakan 8 Tahun Kebersamaan Gelar Musda Ke-4
BPBD Rohil Sebut Kondisi Karhutla Masih Nihil
Kondisi kabut asap di Bagansiapiapi, Rohil mulai menunjukkan perbaikan dalam beberapa hari terakhir. Lapisan asap kini terlihat semakin tipis dan aktivitas masyarakat di pusat kota masih berjalan relatif normal. Pantauan di Bagansiapiapi, Senin (21/9), masih terlihat adanya kabut tipis di sejumlah kawasan.
Namun, kondisi tersebut tidak sampai mengganggu aktivitas masyarakat. Kendaraan tetap ramai melintas di ruas jalan perkotaan, aktivitas perdagangan berjalan seperti biasa, begitu pula kegiatan masyarakat di pasar, warung kopi hingga perkantoran.
Sejumlah warga juga terlihat beraktivitas di ruang terbuka tanpa menggunakan masker. Kondisi ini menunjukkan bahwa secara kasatmata kabut asap di Bagansiapiapi tidak sampai menimbulkan gangguan. Membaiknya kondisi tersebut tidak terlepas dari turunnya hujan di sejumlah wilayah Rohil dalam beberapa hari terakhir.
Baca Juga: 55 Ribu Ha Kebun Sawit di Riau Dapat Program PSR
Di sisi lain, tidak adanya kejadian karhutla yang sedang ditangani di wilayah Rohil juga menjadi faktor penting. Kalaksa BPBD Rohil H Syafnurizal SE mengatakan, hingga kemarin, karhutla di Rohil masih nihil. “Alhamdulillah sejauh ini masih nihil,” ujarnya.
Meski demikian, BPBD Rohil tidak menganggap kondisi tersebut sebagai alasan untuk mengurangi kewaspadaan. Pemantauan dan pengawasan tetap dilakukan, terutama di wilayah-wilayah yang selama ini memiliki tingkat kerawanan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Syafnurizal meminta jajaran pemerintah kecamatan agar meningkatkan kepedulian dan kecepatan respons apabila ditemukan adanya indikasi kebakaran di wilayah masing-masing. Menurut dia, pemerintah kecamatan memiliki posisi penting karena berada paling dekat dengan masyarakat dan wilayah yang menjadi lokasi kejadian.
Baca Juga: BMKG Pekanbaru Sebut Potensi Hujan Masih Tinggi di Riau
“Yang kami harapkan ke depan, pihak kecamatan dapat lebih meningkatkan kepedulian dan respons terhadap kejadian karhutla yang ada,” katanya. Selain mengandalkan pemadaman langsung di lapangan, upaya pengendalian karhutla di Rohil juga mendapat dukungan melalui operasi modifikasi cuaca yang dilakukan Pemerintah Provinsi Riau.(kas/sol/*2/dac/fad)
Editor : Arif Oktafian