BAGANSIAPIAPI (RIAUPOS.CO) - Pelaksanaan Bakar Tongkang kembali digelar di Kota Bagansiapiapi, Rokan Hilir (Rohil) kali ini berlangsung pada Rabu (1/7/2026).
Puncaknya berupa arak-arakan replika tongkang menempuh ruas jalan yang menjadi rute dari prosesi yang mengandung ritual khas masyarakat Tionghoa tersebut.
Rangkaiannya diawali dengan proses pembuatan replika kapal tongkang, yang letaknya berada di sebuah ruko di sebelah kiri dari klenteng Ing Hok King di Bagansiapiapi. Setelah replika siap, dibawa ke arah klenteng kemudian diarak untuk rute yang pendek. Mengikuti ruas jalan yang berdekatan dengan areal klenteng.
Baca Juga: Biro Tapem Pemprov Menghubungi Kabag Tapem, Sampaikan Soal Persiapan Pengangkatan Plt Bupati
Setelah beberapa diletakkan di sekitaran klenteng, baru pada hari H replika tongkang tersebut diarak menempuh rute yang jauh yakni mulai dari areal Klenteng Ing Hok King menempuh jalan Perniagaan dengan jarak tempuh lebih dari dua kilometer.
Di sebelah kanan dari jalan Perniagaan tersebut terdapat lapangan yang menjadi tempat pembakaran tongkang setiap tahunnya.
Suasana yang khas dengan pemandangan para peserta yang memakai kaos berwarna tertentu memadati setiap ruas jalan. Begitu juga penduduk sekitar yang antusias menyaksikan jalannya acara itu menyaksikan dari tepi jalan.
Baca Juga: KPK Periksa Sekda Riau dan Bupati Inhu
Begitu replika Tongkang sampai di tempat kemudian diletakkan, dengan diperkuat beberapa pancang melalui badan tongkang. Ini sebagai penyangga agar tongkang tak goyah baik pada saat dinaiki sebelum pembakarannya maupun sampai pembakaran.
Beberapa orang dengan cekatan naik ke dalam tongkang tersebut memasang peralatan-peralatan yang diperlukan. Tampak ada dua tiang yang terpancang di badan tongkang namun lebih dekat ke bagian depan. Dua tiang itu menjadi penyangga dari layar berukuran lebar, berwarna putih layaknya perahu tongkang tradisional pada masa dulu yang mengandalkan layar untuk bergerak.
Begitu dipastikan kondisi tongkang sudah kokoh, beberapa orang baik dari kalangan pejabat, tokoh masyarakat Tionghoa, berdatangan menaiki replika Tongkang yang tinggal menunggu waktu untuk segera dibakar.
Baca Juga: Hari Pertama SPMB Tingkat SDN dan SMPN di Inhu Sempat Terganggu Jaringan Lelet
Mereka yang masuk ke dalam tongkang kompak melambaikan tangan, sementara iringan bunyi-bunyian yang terdengar seperti tabuhan peralatan khusus yang dipukul terdengar terus, sejalan dengan semakin dekatnya waktu puncak ritual tersebut.
Sejalan dengan terus berlangsungnya proses itu, para tokoh yang mengambil waktu beberapa saat di dalam tongkang kemudian segera keluar kembali. Pada saat ini pula disusul dengan dihamburkannya kertas sembayang kim cua, berwarna kuning emas (kim) atau perak.
Begitu mulai dibakar, api dengan cepat melahap setiap bagian dari tongkang yang terbuat dari paduan papan, kayu, hingga lapisan kertas. Begitu juga tumpukan kertas kim di bagian bawah tongkang turut terbakar.
Baca Juga: Suhardiman Amby Tersangka, Mukhlisin Ditunjuk Jadi Plt Bupati Kuansing
Sekitar pukul 17.00 WIB kondisi api menjalari bagian tongkang dan tumpukan kertas kim terjadi, api semakin membesar. Berikutnya proses tersebut berlangsung sekitar setengah jam, dimana bagian demi bagian tongkang melepuh, menghitam, dibalut si jago merah. Ditengah suasana itu orang-orang berdoa sambil mengangkat hio tinggi-tinggi di atas kepala.
Kemudian momen yang paling ditunggu terjadi dimana tiang tongkang baik yang kecil dan tiang utama mulai goyah, sampai akhirnya tumbang. Arah jatuhnya ke arah barat, yang identik diartikan mengarah ke laut karena di sebelah barat mengarah ke perairan Bagansiapiapi.
Bentuk tongkang kemudian hampir tak bersisa, semakin habis dimakan api. Tumbangnya tiang tongkang tersebut menjadi penanda puncak dan berakhirnya ritual bakar tongkang tahun ini.
Baca Juga: PHR dan Komisi III DPRD Riau Perkuat Sinergi Pemulihan Lingkungan
Bagi masyarakat Tionghoa Bagansiapiapi hal itu dijadikan pedoman untuk mencari keberuntungan pencaharian setahun ke depan. "Hokinya lebih banyak ke laut," kata salah seorang warga, Sadirman atau Sin Teng. Menurutnya hal itu dapat dimaknai usaha yang berkaitan dengan kelautan akan memberikan lebih banyak untung. Tidak harus berarti pekerjaan yang dilakukan melaut.
"Misalnya berkaitan dengan usaha jual beli peralatan perikanan, dan sebagainya," katanya.
Sementara dari informasi diperoleh tingkat kunjungan pada bakar tongkang kali ini terkesan menurun. Ditandai dengan tidak adanya kepadatan di jalan, di perkotaan, bila dibandingkan dengan yang terjadi pada tahun 2025 lalu.
Baca Juga: Wawako Pekanbaru Hadiri Upacara Hari Bhayangkara ke-80, Dorong Penguatan Sinergi dengan Polri
Hal itu dibenarkan Sekdakab Rohil H Fauzi Efrizal usai pelaksanaan iven Bakar Tongkang 2026. "Kalau animo masyarakat sepertinya berkurang. Kalau tahun lalu luar biasa padatnya lautan manusia, tapi kali ni tidak, kita jalan pun santai (tidak berdesakan-red)," katanya.
Ia mengharapkan agar iven yang menjadi ciri khas daerah Rohil itu dapat kembali dikunjungi lebih banyak oleh masyarakat, wisatawan dan berbagai komunitas yang ada. "Kami harap bisa lebih semarak lagi," katanya.
Kendati begitu dirinya menilai iven Bakar Tongkang tetap memiliki dampak terhadap aktifitas perekonomian masyarakat. Pelaku UMKM, yang bergerak di sektor jasa, angkutan, akomodasi penginapan/hotel mendapatkan pesanan yang lebih dibandingkan biasanya. (fad)
Editor : M. Erizal