SIAK SRI INDRAPURA (RIAUPOS.CO) - Lantai 2 Tangsi Belanda di Kabupaten Siak runtuh, Sabtu (31/1). Sebanyak 16 anak dan seorang guru terjatuh dari ketinggian 4 meter. Untuk sementara lantai 2 tangsi ditutup, termasuk lantai 2 Istana Asserayah Alhasyimiah dan Balai Kerapatan Tinggi.
Rencananya, Tim dari Balai Pelestarian Kebudayaan akan turun, Senin (2/2) hari ini. Sementara itu, hasil peninjauan dari Tim Ahli Penilai Bangunan Gedung yang turun kemarin akan dilaporkan ke Dinas Pekerjaan Umum untuk disampaikan ke Bupati Siak Afni Z.
Ahli Pelestari Cagar Budaya Irham Temas menjelaskan kondisi bagian Lantai 2 Tangsi Belanda yang rubuh, salah satu ruangan 3x3 yang diduga balok utamanya keropos akibat dimakan rayap. Alhasil, balok tersebut tidak kuat menahan beban. Dia bersama Tim Ahli Penilai Bangunan Gedung turun saat hari kejadian.
Irham Temas mengungkapkan Tangsi Belanda dibangun tahun 1865 setelah traktat Siak dengan tanggul tanah tinggi mengelilingi bangunan, di dalamnya sebagai benteng. Selanjutnya tangsi tanggul itu dibongkar dan digantikan dengan pagar kawat dan tangsi menjadi basis militer tentara KNIL di Siak.
Tahun 1915 pernah menjadi sekolah untuk anak anak pribumi Siak sebelum Holand Indische School (HIS) yang di Siak lanjut dibangun. Di masa Jepang, Tangsi menjadi rumah sakit tentara Jepang dan barak tentara. “Tahun 2018 Kementerian PUPR melakukan revitalisasi,dengan anggaran Rp4,9 miliar dengan masa pelaksanaan 17 Mei- 27 Desember 2018,” terangnya.
Revitalisasi mencakup lima bagian, gedung utama, gedung barak, mekanikal elektrikal, plambing, dan toilet. Pekerjaan dilakukan dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya. “Perlu dilakukan investigasi lanjut tentang kerusakan dan keterawatan bangunan karena hampir di setiap ruangan lantai 2 terindentifikasi ada permasalahan rayap,” jelasnya.
Sementara itu, Kapolres Siak AKBP Sepuh Ade Irsyam Siregar turut berduka cita atas musibah yang menimpa. Lebih jauh dikatakannya, Polres Siak bergerak cepat menangani peristiwa ini. “Saat ini kami sedang mengumpulkan keterangan-keterangan,” ujarnya.
Peristiwa tersebut mengakibatkan 17 orang dari rombongan studi tour SD IT Baitul Ridho Kampung Rawang Kao, Kecamatan Lubuk Dalam, mengalami luka-luka, terdiri dari 15 siswa, 1 orang guru, dan 1 orang pemandu wisata Tangsi Belanda.
Kapolres menjelaskan, kejadian bermula saat rombongan yang berjumlah 55 murid dan 12 orang guru tiba di lokasi sekitar pukul 08.49 WIB untuk melakukan kegiatan wisata edukasi. Rombongan dipandu oleh pemandu setempat berkeliling area Tangsi Belanda, termasuk naik ke lantai dua bangunan.
“Setibanya di salah satu ruangan lantai dua, lantai bangunan yang terbuat dari papan kayu lama dan telah lapuk tidak mampu menahan beban, sehingga runtuh dan menyebabkan rombongan terjatuh ke lantai dasar dengan ketinggian kurang lebih empat meter,” ujarnya.
Di tempat terpisah, Kepala Dinas Budaya Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Kadisbudparpora) Syafrizal mengatakan, 10 dari 16 korban runtuhnya tangsi ini harus menjalani perawatan di RSUD Tengku Rafi’an Siak dan satu masih dirujuk ke RSUD Arifin Achmad, Pekanbaru, Ahad (1/2).
Korban yang dirujuk ke RSUD Arifin Achmad saat ini menjalani observasi. Namun, ia belum mendapatkan kabar kondisi terakhir anak atas nama Keisya Lutfi Latifatunnisa itu. “Silakan tanya ke Plt Kadiskes dr Handri,” ujarnya, Ahad (1/2).
Namun, hingga berita ini ditulis, dokter Handri belum menjawab saat dikonfirmasi melalui pesan singkat maupun dihubungi melalui panggilan telepon seluler.
Sementara itu, Kepala SD IT Baitul Ridho Kampung Rawang Kao, Kecamatan Lubuk Dalam, Rahmad Junaidi mengatakan Keisya Lutfi Latifatunnisa masih dirawat. “Informasi terakhir kondisinya mulai membaik, sampai saat ini masih menjalani perawatan,” jelasnya.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak pihak terkait yang sudah memberikan pertolongan kepada anak didik kami saat kejadian sehingga bisa mendapatkan pertolongan dengan sangat cepat, terutama buat para petugas kesehatan baik di puskesmas maupun RSUD Siak,” katanya.(mng)
Editor : Arif Oktafian