ACEH (RIAUPOS.CO) - Terbakarnya Pondok Pesantren Babul Maghfirah, Kabupaten Aceh Besar pada Jumat pekan lalu (31/10/2025) pekan lalu ternyata disebabkan oleh santrinya. Berdasarkan hasil penyelidikan pihak berwajib, kebakaran disebabkan oleh aksi seorang santri yang merasa sakit hati karena sering dibully.
Emosinya santri kelas XII itu memuncak hingga meluapkan dengan nekat membakar pondok karena kerap dihina dan direndahkan.
Keterangan tersebut disampaikan oleh Kapolresta Banda Aceh Kombes Joko Heri Purwono sebagaimana dikutip dari pemberitaan Kaltim Post (Jawa Pos Group).
Kombes Joko menyampaikan bahwa pelaku yang membakar pondok tersebut masih berusia 18 tahun. Pelaku mengaku sakit hati karena sering disebut idiot dan tolol selama yang bersangkutan mondok.
”Motifnya karena sakit hati. Korban kerap dibully dan dipanggil dengan kata-kata menghina seperti idiot dan tolol,” ungkap Joko dikutip pada Jumat (7/11/2025).
Berdasar rekaman Closed Circuit Television (CCTV) yang kini beredar luas di media sosial, tampak seseorang dalam rekaman CCTV tersebut menyulut api hingga membakar kabel dan triplek di asrama putra lantai dua hingga api menjalar ke bangunan pesantren. Api melalap asrama putra dan kantin di kompleks pesantren.
Belakangan diketahui bahwa orang itu adalah salah satu santri yang mondok di Pondok Pesantren Babul Maghfirah.
Joko mengatakan setelah membakar pesantren pelaku melarikan diri ke rumah orang tuanya. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
Meski demikian, pihak pondok kehilangan fasilitas yang terbakar habis. Kombes Joko memastikan, kebakaran itu dilatari persoalan pribadi. Tidak ada motif lain dari pelaku pembakaran pondok.
”Murni karena tekanan dan perundungan yang sudah terjadi berulang kali,” terang dia.
Pondok Pesantren Babul Maghfirah diasuh oleh Teungku Haji Masrul Aidi berlokasi di Desa Lam Alue Cut, Kecamatan Kuta Baro, Aceh Besar.
Kebakaran terjadi sekitar pukul 03.49 WIB, saat sebagian besar santri masih terlelap. Menurut polisi, pelaku tidak pernah melapor kepada pihak pesantren karena takut. Sehingga dia menanggung tekanan seorang diri.
Polisi memastikan kasus ini murni dipicu persoalan pribadi dan tidak terkait unsur lain.
Editor : M. Erizal