BENGKALIS (RIAUPOS.CO) -- Kemarau panjang membuat kondisi lahan gambut dan semak belukar kering dan menyebutkan api kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kecamatan Rupat, Bengkalis sulit dipadamkan. Bahkan asap dari kebakaran tersebut menyelimuti ruang udara di Kecamatan Rupat dan sekitarnya, Rabu (25/3/2026).
Bahkan sampai Rabu siang, Kapolsek Rupat AKP Faisal bersama satuan tugas (Satgas) pemadam kebakaran masih berjibaku memadamkan api Karhutla di Jalan Meranti Kelurahan Pergam, Jalan Parit Jawa Dusun Sungai Mesim 2 RT 004/RW 002 dan di Jalan Sukajadi Desa Sukarjo Mesim tembus hingga Jalan Perjuangan Desa Kebumen Kecamatan Rupat, Bengkalis.
"Ya, kami masih siaga di lapangan untuk pemadaman dan juga pendinginan api. Luas lahan terbakar di Jalan Meranti Kelurahan Pergam seluas 10 Ha, di Jalan Parit Jawa Dusun Sungai Mesim 2 RT 004/RW 002 dan di Jalan Sukajadi Desa Sukarjo Mesim tembus hingga jalan perjuangan Desa Kebumen Kecamatan Rupat seluas 40 Ha, total keseluruhan lahan terbakar 50 hektar," jelas Kapolsek Rupat, AKP Faisal, Rabu (25/3/2026).
Ia menyebutkan, kondisi lahan terbakar adalah semak belukar, daun pakis, dan kebun kelapa sawit. Jenis tanah gambut kering, tiupan angin kencang dan kerap berubah arah jadi tantangan. Cuaca panas terik dan sudah 1 bulan tidak turun hujan. Sebagian lahan merupakan hutan pohon mahang.
Sementara itu, upaya pemadaman karhutla di Kabupaten Bengkalis masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan, mulai dari akses yang sulit hingga keterbatasan sumber air.
Manajer Pusdalops BPBD Bengkalis, Erzan Syah, mengatakan beberapa titik kebakaran berada jauh dari akses jalan utama, bahkan mencapai jarak hingga 13 kilometer dari titik terdekat yang dapat dijangkau kendaraan roda empat.
"Kondisi ini membuat petugas harus menggunakan kendaraan roda dua, bahkan berjalan kaki sambil membawa peralatan pemadaman ke lokasi," ujarnya.
Ia menyebutkan, medan yang sulit tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi tim di lapangan, terutama dalam mendistribusikan peralatan dan logistik.
Selain itu, kondisi lahan gambut yang kering juga menyebabkan sumber air sangat terbatas. Hal ini berdampak langsung pada proses pemadaman yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar.
"Air menjadi faktor utama dalam pemadaman. Ketika sumber air jauh atau sulit didapat, tentu ini menghambat proses penanganan," ujarnya.
Faktor cuaca seperti suhu udara tinggi dan angin kencang juga mempercepat penyebaran api, sehingga memperbesar area yang terdampak kebakaran. Meski menghadapi berbagai kendala, tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, serta masyarakat tetap berupaya maksimal dalam melakukan pemadaman.
Ia mengatakan, salah satu strategi yang dilakukan adalah pembuatan sekat bakar guna mencegah api meluas ke wilayah lain. Selain itu, proses pendinginan juga terus dilakukan untuk memastikan tidak ada bara api yang tersisa, terutama di lahan gambut yang rawan terbakar kembali.
Erzan menegaskan, koordinasi antarinstansi terus diperkuat agar penanganan karhutla dapat berjalan lebih efektif. Dengan berbagai upaya, diharapkan kebakaran dapat segera dikendalikan meskipun menghadapi tantangan yang cukup kompleks di lapangan.
Ia menjelaskan, ada tiga faktor utama penyebab kebakaran hutan dan lahan yang saat ini terjadi, yakni meteorologis, hidrologis, dan aktivitas manusia.
Erzan Syah menjelaskan, faktor meteorologis berkaitan dengan kondisi cuaca ekstrem seperti suhu udara tinggi, angin kencang, serta meningkatnya suhu permukaan laut. "Kondisi ini memicu timbulnya panas yang dapat menyebabkan kebakaran apabila terdapat unsur oksigen, bahan bakar, dan sumber panas," ujarnya.
Sementara itu, faktor hidrologis berhubungan dengan kondisi lahan gambut yang mengalami kekeringan akibat degradasi lingkungan. Gambut yang kering sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
Ia menambahkan, faktor antropogenik atau aktivitas manusia menjadi penyebab terbesar, baik karena kelalaian maupun unsur kesengajaan. "Sekitar 99 persen kebakaran disebabkan faktor tersebut, sedangkan faktor alami seperti petir sangat kecil kemungkinannya," jelasnya.
Menurut Erzan, pemahaman masyarakat terhadap penyebab karhutla menjadi kunci utama dalam upaya pencegahan. BPBD terus melakukan edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta lebih bijak dalam menggunakan api.
Selain itu, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha sangat dibutuhkan dalam mengurangi risiko kebakaran. Dengan kesadaran bersama, diharapkan angka kejadian karhutla di Bengkalis dapat ditekan secara signifikan.
Editor : Rinaldi