
Pekanbaru (RIAUPOS.CO) - Riau dikepung kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Ahad (23/8). Sebagian besar wilayah Riau seperti Pekanbaru, Rokan Hilir, Kuantan Singingi, Siak, Kampar, dan Pelalawan diselimuti kabut asap. Bahkan, di Pekanbaru, kualitas udara masuk kategori tidak sehat.
Kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru terlihat sejak pagi dan pada malam hari kian pekat. Hal ini membuat konsentrasi partikulat halus (PM2.5) terpantau berada pada kategori tidak sehat.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada pukul 16.00 WIB, konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru mencapai 133,7 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut masuk kategori tidak sehat.
Kondisi serupa juga terlihat dari pemantauan IQAir. Pada pukul 17.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) Pekanbaru berada di angka 117 atau kategori tidak sehat. Polutan utama yang terdeteksi adalah PM2.5 dengan konsentrasi 92,4 µg/m³.
Angka tersebut menunjukkan kualitas udara masih berada pada level yang mengkhawatirkan. Sebelumnya, pemantauan BMKG pada pukul 07.00 WIB mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 62,5 µg/m³. Sementara IQAir pada pukul 21.00 WIB mencatat PM2.5 sebesar 150,3 µg/m³ dengan AQI 226 yang menyatakan kualitas udara di Pekanbaru masuk kategori sangat tidak sehat.
Prakirawan BMKG Pekanbaru Yudhistira M menjelaskan, kondisi ini turut membuat jarak pandang di sejumlah daerah di Riau mengalami penurunan. Terpantau Pekanbaru jarak pandang hanya tersisa 2.5 kilometer (km). Di Rengat Indragiri Hulu, jarak pandang tersisa 5 km, Pelalawan 6 km, dan Tambang Kampar 9 km.
Kabut tipis juga menyelimuti sejumlah wilayah di kawasan Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil), kemarin. Kondisi ini terlihat dari udara yang cenderung berkabut dan jarak pandang yang menurun dibandingkan biasanya.
Baca Juga: Pekanbaru dan Pelalawan Liburkan Sekolah
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Rohil H Syafnurizal menjelaskan, kemarin. H Syafnurizal di Rohil memang sempat terjadi karhutla. Namun, sudah terkendali. “Di Rohil terdapat tiga titik panas di Pujud dan Tanah Putih,” ujarnya. “Memang terjadi karhutla namun saat ini sudah dapat dikendalikan. Dalam artian tidak begitu luas,” tambahnya.
Syafnurizal menjelaskan, kabut asap yang dirasakan masyarakat di Bagansiapiapi diperkirakan tidak seluruhnya berasal dari kebakaran yang terjadi di wilayah Rohil. Kondisi ini tidak terlepas dari meningkatnya karhutla di sejumlah wilayah lain di Sumatera.
“Yang paling penting masyarakat tetap waspada. Jangan melakukan pembakaran lahan dan segera laporkan apabila melihat adanya kebakaran,” katanya. ‘’Kurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi kabut asap semakin pekat. Penggunaan masker saat berada di luar rumah menjadi salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi paparan asap,’’ tambahnya.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




