PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kriminolog Universitas Islam Riau Associate Prof Dr Kasmanto Rinaldi menilai, peristiwa penganiayaan berat di UIN Suska Riau sebuah kejadian luar biasa. Diduga karena asmara, seorang mahasiswa tega mengayunkan kapak justru pada orang yang ia sukai.
Kasmanto menyoroti interaksi apa yang terjadi dan melatari perbuatan yang tergolong sadis itu. Dari informasi yang ia terima hingga Kamis (26/2/2026), kurang dari 12 pasca peristiwa pembacokan itu, ia melihat ada pemicu yang luar biasa.
''Jadi kalau kita melihat fenomena tindak kekerasan ini, pasti di latar belakangnya, adanya interaksi antara pelaku dan korban. Yang menjadi persoalan adalah sejauh mana interaksi antara mereka. Kan itu yang kemudian kita nggak tahu kan. Apakah mereka sudah istilahnya pada level PDKT atau bagaimana,'' paparnya.
Kasmanto melihat fenomena hubungan antar individu lawan jenis dewasa ini, bahkan ada istilahnya Hubungan Tanpa Status (HTS). Atau sudah sering nongkrong, sering ngumpul bersama tapi tidak ada ikatan.
Ketika salah satu pihak merasa ada sesuatu semacam jatuh cinta, sebut Kasmanto, namun si mahasiswi tidak menaruh rasa yang sama. Artinya, kata dia, bisa jadi pelaku salah arti dalam berteman atau salah pemahaman.
''Mungkin pelaku merasa korban membuka pintu hati hingga ada celah. Namun kita tidak tahu ini apakah terjadi atau tidak seperti kita asumsikan,'' kata dia.
Informasi dari peristiwa ini masih sangat awal, Kasmanto tidak ingin mendahului penyidikan. Namun ia menyoroti logika umum tindakan manusia yang kecewa atau patah hati.
''Tapi kalau rasa saya misalnya kita nih suka sama orang misalnya. Ditolak, nggak mungkin kita demikian. Nggak mungkin bawa kapak setidaknya. Cuman kita kan nggak tau interaksi antara si korban dan pelaku sebelumnya,'' ujarnya.
Kasmanto mengatakan, dalam teori kriminologi, ada tiga hal yang mengakibatkan seseorang itu melakukan kejahatan. Salah satunya motivasi pribadi pelaku.
''Jadi salah satu yang perlu ditelusuri itu apa motivasi si offender, apa yang memicu, emosional kah, dendam kah, sakit hati kah. Yang sampai pada level dia itu sudah mau membunuh si korban. Ini kan nggak main-main. Nah, jadi motivasi offender atau motivasi pribadi dia ini yang membuat dia melakukan seperti itu apa,'' ujarnya.
Selain itu, kata dia, masih perlu diteliti atau mencari tau si pelaku ini ada nggak gangguan mental atau kejiwaan. Bahkan bila perlu harus diperiksa apakah dia sedang di bawah pengaruh zat-zat tertentu.
''Saya lebih meyakini ada sesuatu di dalam diri si pelaku ini. Atau mungkin ada pengaruh obat atau apa. Apakah layak dicurigai begitu. Makanya tadi apakah mental ataukah obat-obat terlarang. Atau psikis dia yang memang lagi goncang atau apa gitu kan. Jadi kalau saya melihat dalam konteks ini tuh ada beberapa hal tadi yang membuat dia jadi begini,'' ujarnya.
Kasmanto kembali mengulangi bahwa informasi dari peristiwa ini masih sangat awal. Ia tidak ingin mendahului penyidikan.
Namun ia berharap peristiwa ini menjadi pelajaran penting dalam memulai atau menjalin interaksi dengan lawan jenis.
Kasmanto menilai masih terlalu dini untuk memberikan assesment terhadap tindak kekerasan yang terjadi antar dua mahasiswa ini.
''Pasti ada jalur panjang ini yang kita tidak atau belun tahu secara jelas. Jadi pembelajaran bagi generasi muda, jiwa muda ini kan jiwa yang masih labil. Jadi dalam berkomunikasi dan berinteraksi itu, terutama dengan lawan jenis, secara sehat sajalah. Kangan berlebihan,'' tutupnya.
Editor : M. Erizal