BENGKALIS (RIAUPOS.CO) - Sudah sepekan terakhir masyarakat Pulau Bengkalis mengeluhkan sulitnya mendapatkan BBM bersubsidi jenis pertalite dan solar. Bahkan setiap hari di tengah terik panas matahari dan hujan, pengendara sepeda motor rela antrian panjang di jalan menuju SPBU.
Dari pantauan di lapangan pada, Ahad (3/5/2026) sekitar pukul 16.15 WIB ratusan sepeda motor dan mobil pribadi antrean panjang di Jalan Bantan Desa Senggoro, Kecamatan Bengkalis mengantre untuk membeli BBM jenis Pertalite.
Bahkan antrean yang mereka lakukan sejak pukul 15.13 WIB, karena menunggu mobil muatan BBM yang belum masuk ke SPBU tersebut, karena mengalami kendala penyeberangan Roro Bengkalis.
Baca Juga: BBM Subsidi Langka di Pelalawan, Antrean Kendaraan Mengular ke Badan Jalan
Antrean panjang juga terlihat di SPBU di Jalan Lembaga Desa Wonosari, Kecamatan Bengkalis. Pagar SBPU yang masih terkunci rapat, sedangkan antrean yang terlihat berjejer panjang adalah mobil dan pengisi BBM eceran yang menggunakan grobak muatan jeriken.
"Sudah dua jam menunggu, katanya mobil tangki BBM belum masuk. Tak taulah apa masalahnya antrean terus untuk mendapatkan BBM jenis Pertalite," ucap Andi yang menunggu antrean BBM di SPBU Jalan Bantan, Ahad (3/5/2026).
Ia mengaku sangat resah, karena sudah dua jam mengantre namun belum juga datang BBM di SPBU tersebut. Seharusnya pukul 14.30 WIB sudah masuk BBM ke SPBU, tapi sampai sore ini belum juga masuk.
Baca Juga: Koordinasi dengan Pertamina, Plt Gubri Pastikan Stok BBM di Riau Aman
Hal yang sama juga disampaikan Anto, salah seorang pengemudi mobil pribadi. Ia mengaku sudah satu jam lebih menunggu membeli BBM jenis Pertalite. Karena tangki mobilnya sudah kosong minyaknya.
"Kalau tak mengantre kami khawatirkan tak dapat. Makanya saya rela nganter lama untuk membeli pertalite, karena di SPBU Jalan Lembaga tidak menjual BBM jenis Pertalite melainkan solar saja," ujarnya.
Ia berharap agar kondisi seperti ini tidak terjadi. Karena sebagai daerah penghasil minyak tapi masyarakat susah mendapatkan BBM. Ini sebuah negeri yang sangat ironis dan ibadar ayam mati dilumbung padi.
Sedangkan pengemudi yang menunggu di SPBU Jalan Lembayan juga mengeluhkan lamanya antrean untuk membeli BBM jenis solar bersubsidi.
"Sudah dua jam menunggu, katanya BBM jenis solar yang masuk. Tapi sampai pukul 16.35 WIB belum juga masuk mobil tangki BBM nya," ucap Ijul, pengemudi mobil pickup di Jalan Lembaga.
Ia mengaku, kondisi sulit mendapatkan BBM jenis Pertalite dan solar sudah sepekan lamanya. Dirinya tak mengetahui apakah ada pengurangan jatah BBM ke pulau atau ada kebijakan lain.
Baca Juga: BBM di Kampar Dipastikan Aman, Warga Diminta Tidak Terpengaruh Hoaks
"Kami berharap agar pemerintah mencarikan solusi atas penderitaan masyarakat saat ini. Karena semuanya serba sulit dan ekonomi masyarakat terus melesu akibat kebijakan pemerintah pusat," jelasnya.
Terhadap persoalan itu, Agus Kurniawan salah seorang pengawas SPBU Nomor 16287050 di Jalan Bantan mengatakan, kondisi ini sudah terjadi selama sepekan. Ini akibat keterlambatan masuknya mobil tangki BBM ke SPBU yang diakibatkan oleh penyeberangan Roro.
"Jadi kendalanya penyeberangan Roro. Kemaren (Sabtu) dari empat mobil tangki BBM hanya 3 yang bisa masuk ke pulau. Karena tidak bisa semuanya dibawa oleh kapal Roro. Sedangkan hari ini (Ahad) ada tiga mobil tangki yang masuk, tapi datangnya sudah sore sekitar pukul 16.45 WIB dan baru bisa dijual melayani masyarakat pukul 17.00 WIB, karena menunggu proses bongkar," jelasnya.
Baca Juga: Jaga Keamanan Malam Hari, Tim Raga Res Kampar Sisir Taman Kota dan Jalan Lingkar
Ia mengaku, jatah BBM jenis Pertalite sebanyak 10 kiloliter (Kl) dan solar juga 10 Kl. Namun untuk sore ini untuk solar hanya 5 kl dan pertalite sebanyak 10 Kl atau dua mobil tangki.
"Sebenarnya tak ada pengurangan BBM ke SPBU yang dikelola bosnya. Namun antrean ini akibat kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM non subsidi. Jadi banyak masyarakat yang berakhir ke BBM subsidi, akhirnya terjadi antrean pembelian.
Ia juga mengaku, saat ini ada kebijakan pemerintah melalui Pertamina untuk penjualan BBM yang menggunakan aplikasi XStar. Di mana pembelinya harus mendapatkan rekomendasi dari instansi terkait. Makanya saat ini untuk tingkat pengecer tidak ada masalah karena mereka boleh membeli BBM tersebut dengan menunjukan surat rekomendasi.
Baca Juga: Selain Melakukan Ibadah Arbain, JCH Kuansing Lakukan City Tour ke Tempat Bersejarah
"Ya, termasuk usaha UMKM yang mendapatkan surat rekom melalui instansi terkait. Makanya kami melayani pembelian BBM," jelasnya.
Sementara itu, untuk wilayah daratan pulau Sumatera, seperti di SPBU di Sungai Pakning, Kecamatan Bukitbatu dan SBPU Dompas Kecamatan Siak Kecil pada Ahad (3/5/2026) sekitar pukul 10.15 WIB terlihat tidak terjadi antrean dan masih lengang.
Dari pantauan di lapangan hanya di SPBU Dompas di Jalan Lintas Siak-Pakning yang mengalami antrean mobil. Namun antrenya hanya berjarak sekitar 20 meter dari pintu SPBU tersebut.
Baca Juga: Ribuan Peserta Ramaikan Gerak Jalan Hari Buruh Internasional di Bangkinang
"Kalau di sini aman dan tak ada antrean BBM. Karena mobil tangki BBM masuk telat waktu ke SPBU sehingga tak terjadi antrean," ucap Lina, salah seorang petugas SPBU di Pakning.
Sementara itu, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Kabupaten Bengkalis, Zulpan, juga menyampaikan kondisi antrean di SPBU akibat keterlambatan pasokan BBM ke SPBU di pulau bengkalis. Makanya masyarakat mengalihkan anteran untuk mendapatkan BBM jenis Pertalite dan solat.
“Kami berharap masyarakat tidak panik buying atau terpengaruh isu-isu yang belum tentu benar,” harapnya.
Baca Juga: Baitul Arqom Umri Siapkan Alumni yang Tak Hanya Cerdas, tapi Berdampak
Ia turut mengajak, seluruh pihak untuk terus memberikan dukungan serta masukan demi menjaga stabilitas distribusi BBM di daerah tersebut.
“Kami mohon dukungan semua pihak. Jika ada kekurangan, silakan beri kritik dan saran demi kebaikan bersama. InsyaAllah kondisi BBM di Pulau Bengkalis sudah kembali normal,” harapnya.
Editor : M. Erizal