Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pengusaha Minta Penundaan Pajak Ekspor, BPDPKS Dukung Stabilitas Industri Sawit

Edwar Yaman • Rabu, 28 Mei 2025 | 22:20 WIB
Mohammad Alfansyah SH, MH Direktur Penyaluran Dana–BPDPKS memberi paparan peran BPDP terhadap rencana strategis pemerintah Indonesia menuju ketahanan energi dan pengembangan energi baru terbarukan.
Mohammad Alfansyah SH, MH Direktur Penyaluran Dana–BPDPKS memberi paparan peran BPDP terhadap rencana strategis pemerintah Indonesia menuju ketahanan energi dan pengembangan energi baru terbarukan.

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Baru-baru ini di Pekanbaru Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mendesak pemerintah menunda pengenaan tarif pajak ekspor (PE) terhadap minyak sawit mentah (CPO) di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menegaskan, industri sawit nasional saat ini menghadapi tekanan berat, terlebih dengan memanasnya konflik geopolitik antara India dan Pakistan—dua negara yang menjadi pasar utama ekspor sawit Indonesia.

Hal ini disampaikan Eddy Martono dalam sambutannya pada Forum Andalas V yang digelar GAPKI Riau pada 22–23 Mei 2025 di SKA Co-Ex Pekanbaru. Forum ini mengangkat tema “Hambatan, Tantangan, dan Sinergi dalam Pengelolaan Industri Kelapa Sawit Indonesia yang Berkelanjutan” dan didukung penuh oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS).

“Kami berharap pemerintah bisa menunda pengenaan PE, karena situasi global sangat dinamis dan mempengaruhi ekspor. Perang antara India dan Pakistan menambah beban bagi pelaku usaha. Kalau pasar ekspor terganggu, maka dampaknya bisa sangat serius bagi industri dalam negeri,” ujar Eddy Martono.

“Industri kelapa sawit telah menjadi penopang utama ekonomi nasional, terutama dalam menghadapi tekanan global. BPDP akan terus mendorong penguatan daya saing dan keberlanjutan industri ini, baik dari sisi hulu maupun hilir,” ungkap Mohammad Alfansyah.

Ia juga menambahkan, keberlanjutan industri sawit tak hanya soal ekspor, tetapi juga soal kontribusinya dalam penyediaan energi terbarukan, seperti biodiesel, serta program peremajaan sawit rakyat (PSR) yang menyasar peningkatan produktivitas petani kecil.

Forum ini turut dihadiri Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Heru Tri Widarto yang hadir mewakili Menteri Pertanian. Ia menyebut, forum Andalas ini strategis dalam merumuskan masukan kebijakan di tengah tekanan luar negeri.

 Baca Juga: Dibunuh, Jasad Korban Dibuang ke Sungai Indragiri dan Belum Ditemukan, Tim Polsek Peranap Bekuk Dua Pelaku Pembunuhan

“Kebijakan Amerika Serikat, konflik India-Pakistan, hingga kampanye negatif Eropa harus disikapi secara kolektif. Forum seperti ini menjadi wadah penting menyatukan suara pelaku industri,” ujar Heru.

Kepala Dinas Perkebunan Riau, Syahrial Abdi, turut mengapresiasi pemilihan Riau sebagai lokasi penyelenggaraan.

“Riau adalah pusat sawit nasional. Rekomendasi dari forum ini diharapkan bisa memperkuat tata kelola sawit berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan petani,” ujarnya.

 Baca Juga: Diputar 1 Juli, 27 Tim Mendaftar Suratin Zona Riau

Ketua Panitia Forum Andalas V, Dede Putra Kurniawan, menambahkan forum ini menjadi etalase kolaborasi antar pelaku industri sawit. Berbagai perusahaan menampilkan inovasi teknologi pengolahan ramah lingkungan serta berbagi pengalaman dalam pengelolaan industri yang berkelanjutan. Dengan semangat sinergi, Forum Andalas V 2025 menjadi simbol tekad bersama untuk menjaga industri sawit tetap adaptif, kompetitif, dan inklusif di tengah gejolak global yang terus berubah.(rls)

 

 

Editor : Edwar Yaman
#Eddy Martono #BPDPKS #gapki riau #Penundaan Pajak Ekspor