PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Suasana Gedung Integrated Classroom Universitas Riau (Unri) terasa lebih hidup pada Selasa (18/11). Ratusan mahasiswa, dosen, dan tamu undangan memenuhi ruangan untuk mengikuti seminar nasional bertajuk “Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan”, yang digelar BKKBN Riau bersama Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau (FEB Unri).
Di antara peserta yang antusias mencatat dan mengajukan pertanyaan, hadir pula pembicara utama, Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kemendukbangga/BKKBN Dr Bonivasius Prasetya Ichtiarto SSi MEng. Kehadirannya menjadi magnet tersendiri bagi para peserta yang ingin memahami lebih jauh arah pembangunan kependudukan Indonesia.
Kepala Perwakilan BKKBN Riau Mhd Irzal SE ME menyampaikan apresiasi kepada pihak kampus yang telah memfasilitasi kegiatan ini. Ia menekankan bahwa BKKBN kini telah bertransformasi menjadi Kemendukbangga/BKKBN, dengan fokus pada pengendalian penduduk dan pembangunan keluarga berbeda dari peran Disdukcapil yang mengurus administrasi kependudukan.
“BKKBN tidak mengurus administrasi. Tugas kami meningkatkan kualitas penduduk sekaligus mengendalikan kuantitasnya,” jelas Irzal.
Ia menambahkan, jumlah penduduk yang besar dapat menjadi kekuatan pembangunan bila kualitasnya terjamin. Sebaliknya, tanpa kualitas, populasi besar justru menjadi beban bagi negara.
Karena itu, katanya, perguruan tinggi memiliki peran penting. Kampus tidak hanya mencetak lulusan sesuai disiplin ilmu, tetapi juga generasi muda yang memahami isu kependudukan secara lebih luas.
“Kami ingin mahasiswa mengenal program-program BKKBN, termasuk layanan seperti Pusat Konseling,” ucapnya.
Sementara Wakil Dekan III FEB Unri Rendra Wasnury SE MIB menyebut, kegiatan ini sebagai kesempatan berharga. Menurutnya, perguruan tinggi memang harus membuka ruang dialog dengan BKKBN agar isu-isu kependudukan dapat dipahami lebih mendalam oleh mahasiswa.
“Mahasiswa bisa bertanya langsung, memahami program terkini, dan memperluas cakrawala tentang kependudukan,” ujarnya.
Seminar yang berlangsung hangat itu pun diharapkan menjadi pintu awal bagi mahasiswa untuk lebih peduli pada isu kependudukan, isu yang kelak akan mereka hadapi langsung, baik sebagai akademisi, profesional, maupun bagian dari masyarakat.(***)
Narasi : Joko Susilo
Editor : Arif Oktafian