NEW YORK (RIAUPOS.CO) - Seorang pejabat senior di Departemen Pendidikan Amerika Serikat (AS) mengundurkan diri pada hari Rabu (3/1/2024). Pengundurannya disebabkan oleh kekecewaannya terhadap kebijakan Presiden Joe Biden atas konflik di Jalur Gaza.
Pejabat tersebut adalah Tariq Habash. Ia merupakan asisten khusus di Kantor Perencanaan, Evaluasi dan Pengembangan Kebijakan Departemen Pendidikan.
Habash merupakan seorang Palestina-Amerika yang ditunjuk pada awal masa kepresidenan Biden sebagai bagian dari divisi pengembangan keahlian pinjaman pelajar di Departemen Pendidikan.
Dalam surat pengunduran dirinya, ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap pemerintah AS karena diam ketika jumlah korban jiwa di Palestina terus meningkat.
"Saya tidak bisa tinggal diam karena pemerintahan ini menutup mata terhadap kekejaman yang dilakukan terhadap warga Palestina yang tidak bersalah. Dalam apa yang disebut oleh para ahli hak asasi manusia terkemuka sebagai kampanye genosida oleh pemerintah Israel,” ujarnya.
Sebelumnya, Josh Paul, mantan pejabat Departemen Luar Negeri, mengundurkan diri dari pemerintahan Biden pada bulan Oktober sebagai protes atas diamnya AS terhadap warga Palestina. Sementara itu, berbagai pejabat di AS juga telah mendesak Biden untuk segera melakukan gencatan senjata di Gaza.
Pada bulan November, lebih dari 1.000 pejabat di Badan Pembangunan Internasional AS (USAID), bagian dari Departemen Luar Negeri, menandatangani surat terbuka yang mendesak pemerintahan Biden untuk menyerukan gencatan senjata segera.
Pada bulan selanjutnya , beberapa staf pemerintahan Biden mengadakan aksi dekat Gedung Putih untuk menuntut gencatan senjata di Gaza. Tidak hanya pejabat di pemerintahan, staf kampanye pencalonan Biden sebagai Presiden pada 2024 juga melakukan aksi yang sama.
“Staf Biden untuk Presiden telah melihat banyak sukarelawan yang mengundurkan diri secara berbondong-bondong. Adapun orang-orang yang telah memilih selama beberapa dekade merasa tidak yakin melakukan hal tersebut untuk pertama kalinya, karena konflik ini," tulis para staf tersebut dalam sebuah surat.
Editor : RP Edwar Yaman