TEHERAN (RIAUPOS.CO) - Pemerintah Iran berencana melanjutkan perundingan dengan Amerika Serikat setelah seluruh rangkaian pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei selesai. Namun, langkah diplomatik tersebut dihadapkan pada tekanan kuat dari kelompok garis keras dan masyarakat yang menuntut pembalasan atas kematian pemimpin tertinggi mereka.
Ratusan ribu warga memadati jalan-jalan Teheran pada Ahad (5/7) hingga Senin (6/7) untuk mengiringi prosesi pemakaman Ali Khamenei. Peti jenazah yang diselimuti bendera Iran diarak dari Kompleks Grand Mosalla menuju Bandara Internasional Mehrabad sebelum diterbangkan ke Mashhad untuk dimakamkan.
Di sepanjang prosesi, para pelayat tak hanya menyampaikan penghormatan terakhir, tetapi juga melontarkan seruan balas dendam terhadap Amerika Serikat dan Israel. Sejumlah massa membawa poster yang menyerukan pembunuhan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Boneka menyerupai Trump juga terlihat digantung di sepanjang rute iring-iringan jenazah.
“Hari ini (kemarin, red) bukan untuk mengucapkan selamat tinggal kepada pemimpin kami. Kami datang untuk membalas dendam, dan kami akan melakukannya,” ujar salah seorang pelayat, Fatima Hassan, seperti dikutip The Times of Israel.
Baca Juga: Demi Keamanan, Mojtaba Khamenei Tak Hadiri Pemakaman Ayah
Perdebatan Negosiator
Meski suasana berkabung diwarnai kemarahan, pemerintah Iran menegaskan pembicaraan dengan Washington hanya ditunda sementara hingga prosesi pemakaman selesai. Setelah itu, proses negosiasi akan kembali dilanjutkan.
Laporan Iran International menyebut perdebatan di kalangan elite Iran kini bukan lagi mengenai perlu atau tidaknya berunding dengan Amerika Serikat, melainkan siapa yang akan memimpin proses negosiasi tersebut.
Kelompok garis keras mendesak pemerintah tetap mengutamakan pembalasan atas kematian Ali Khamenei serta mempertahankan program rudal Iran sebagai aset strategis. Mereka juga mengkritik pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf yang dinilai terlalu lunak dalam pendekatan terhadap Washington.
Kontroversi semakin menguat setelah muncul laporan bahwa sebagian kapal dagang internasional mulai beralih menggunakan jalur pelayaran di sisi Oman di Selat Hormuz. Kelompok konservatif menuding pemerintah telah melemahkan posisi strategis Iran di kawasan.(lyn/gas/jpg)
Editor : Arif Oktafian