RIAUPOS.CO - Bagi sebagian orang, pekerjaan adalah prioritas utama dibandingkan hal lain. Hal inilah yang membuat mereka memperlakukan pekerjaan sebagai sesuatu yang sakral dan tidak bisa diganggu gugat oleh kegiatan lainnya.
Namun, ada kalanya pekerjaan membawa efek tertentu pada kehidupan seseorang. Mulai dari efek kesehatan fisik maupun kesehatan mental, pekerjaan yang terlalu berat dan dilakukan secara berlebihan bisa berdampak buruk.
Pembahasan terkait efek fisik dari beban kerja berlebih sudah banyak dikupas oleh berbagai pihak. Namun, belum banyak orang yang memperbincangkan efek pekerjaan terhadap kesehatan mental.
Baca Juga: Popda dan Peparpeda 2026 Dibatalkan, Begini Penjelasan Kadispora Riau
Seperti dilansir dari All in Therapy Clinic dan Lightfully, berikut ini merupakan tanda bahwa pekerjaan mulai berdampak pada kesehatan mental
1. Tertekan secara Emosional dan Stres
Tanda pertama adalah stres dan tertekan secara emosional. Selalu merasa khawatir akan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan, seperti tenggat waktu yang sudah dekat, hasil laporan yang salah, dan masih banyak lagi.
Stres menumpuk secara terus-menerus tanpa disadari hingga berdampak buruk bagi kesehatan mental jangka panjang.
2. Hal Kecil Bisa Memicu Amarah
Mudah tersinggung dan merasa kesal terhadap hal-hal yang sebenarnya sederhana ketika bekerja. Hal ini rentan terjadi pada pekerjaan yang memiliki tekanan serta tanggung jawab besar.
Baca Juga: Sapa Para Penggemar, Ini Pesan Perdana Megawati Hangestri ke Pendukung Hyundai Hillstate
3. Merasa Buruk saat Bekerja
Kerap merasa tidak senang dan gundah ketika memasuki area kerja atau saat mendekati hari kerja. Hal ini bisa menjadi tanda bahwa pikiran memiliki persepsi negatif terhadap kantor atau pekerjaan secara keseluruhan.
4. Tidak Ingin Membicarakan Pekerjaan
Pekerjaan biasanya menjadi topik normal yang diangkat saat berbincang dengan orang terdekat. Namun, bagi orang yang kesehatan mentalnya terganggu akibat lingkungan kantor yang toxic, membicarakan pekerjaan saja sudah terasa sangat melelahkan.
Hal ini menyebabkan seseorang enggan, atau bahkan menolak membahas soal pekerjaannya dengan pasangan, teman, maupun keluarga.
5. Menanti Libur atau Resign
Baca Juga: DPRD Rohil Paripurna Penyampaian LKPJ Bupati Rohil Tahun Anggaran 2025
Anda senantiasa menanti waktu libur, resign, atau bahkan pensiun. Dari hari ke hari, hanya menunggu waktu untuk tidak masuk kantor, baik karena hari libur nasional, cuti, atau keinginan untuk berhenti.
Anda merasa tidak sabar untuk berhenti bekerja karena momen tersebut menjadi satu-satunya cara untuk terbebas dari beban pikiran. Padahal, libur dan cuti seharusnya menjadi sarana agar karyawan tidak mengalami burnout.
6. Kehilangan Motivasi dan Minat
Baca Juga: DPRD dan Pemko Pekanbaru Sepakat Tambah Dua OPD Baru
Pekerjaan yang anda lamar idealnya memberikan motivasi untuk berkontribusi. Namun, pada titik tertentu, seseorang bisa kehilangan minat tersebut.
Akibatnya, dalam menjalani keseharian, mereka hanya berusaha untuk sekadar bertahan hidup dan menyelesaikan tugas satu per satu tanpa mencurahkan semangat ke dalamnya.
7. Tidak Suka Berbaur dengan Rekan Kerja
Baca Juga: DPRD Rohil Paripurna Penyampaian LKPJ Bupati Rohil Tahun Anggaran 2025
Dalam situasi kantor yang sehat, bergaul dengan rekan kerja adalah hal yang normal. Namun, bagi mereka yang kondisi mentalnya sudah terdampak, berinteraksi dengan rekan kantor bisa membuat kesehatan mental makin merosot.
Kondisi ini membuat mereka cenderung menghindari atau bahkan mengisolasi diri dari pergaulan kantor.
Ketujuh poin tersebut merupakan tanda bahwa pekerjaan mulai berefek pada kesehatan mental. Jika setelah menelaah Anda menyadari bahwa tanda-tanda tersebut ada, pastikan untuk segera melakukan sesuatu guna menanganinya.
Editor : M. Erizal