ATLANTA (RIAUPOS.CO) - Gelandang serang Inggris Jude Bellingham dan kapten Argentina Lionel Messi termotivasi oleh sosok yang sama dalam semifinal Piala Dunia 2026 di Mercedes-Benz Stadium, Atlanta, dini hari nanti (siaran langsung TVRI Nasional/TVRI Sport pukul 02.00 WIB). Sosok yang dimaksud adalah legenda mendiang Diego Armando Maradona.
Bellingham sejatinya sudah menyamai rekor Maradona dengan mencetak dua gol (brace) secara beruntun di fase gugur Piala Dunia. Masing-masing ke gawang Meksiko di 16 besar (6/7) dan Norwegia di perempatfinal (12/7). Meski begitu, pemain Real Madrid itu bersemangat untuk melanjutkan streak di semifinal.
”Luar biasa ketika aku bisa menyamainya (Maradona). Tetapi, dia sepuluh juta kali lebih hebat dibandingkan aku,” ucap Bellingham seperti dilansir dari The Sun.
Sementara itu, Messi memburu rekor Maradona yang sukses membawa Argentina mencapai final Piala Dunia berturut-turut. Maradona mengantarkan La Albiceleste, julukan Argentina ke laga perebutan juara Piala Dunia pada edisi 1986 dan 1990. Messi sudah melakukannya di Qatar empat tahun lalu.
Bagi Messi, laga lawan Inggris sangat dinantikannya karena ini kali pertama dia melawan timnas berjuluk The Three Lions tersebut. ”Menghadapi Inggris akan jadi laga yang spesial bagiku. Aku sudah sering menghadapi negara lain, hanya Inggris yang aku belum pernah. Mereka tim yang hebat, kekuatan besar sepakbola. Akan selalu menyenangkan menghadapi tim seperti mereka,” tuturnya.
Siap Adu Penalti
Kiper Inggris Jordan Pickford dan portero Argentina Emiliano Martinez mencatatkan rekor 100 persen dalam adu penalti di Piala Dunia. Picky, sapaan akrab Pickford sekali. Sementara Emi, sapaan akrab Martinez sudah dua kali.
Mereka pun sama-sama siap jika laga dini hari nanti berlangsung sampai babak tos-tosan. ”Semua orang pasti akan membahas caraku mencegah gol Messi. Tenang, kami punya kemampuan melimitasinya,” klaim Picky seperti dilansir dari Daily Mail.
Di sisi lain, Emi bakal termotivasi dengan laga ini karena namanya akan tercatat sebagai kiper Argentina yang terbanyak bermain di Piala Dunia. Dia akan melakoni laga ke-13 dan bersanding dengan jumlah laga Ubaldo Fillol.
Drama, Rel Kereta, dan La Cuarta Estrella
Pelatih Argentina Lionel Scaloni boleh saja berusaha meredam tensi panas duel menghadapi Inggris. Namun, yang terjadi di lapangan berkata lain. “Ini hanyalah laga sepakbola, titik. Jangan mencari hal-hal yang lain,” ungkap Scaloni, seperti dikutip dari BBC seusai tim asuhannya menundukkan Swiss di perempat final, Ahad (12/7) dini hari WIB lalu.
Namun, dalam video yang beredar di sejumlah platform, para fans dan pemain Argentina langsung meneriakkan chant La Cuarta Estrella (Bintang Keempat), baik di tribun maupun ruang ganti: Por Malvinas, por El Diego (Untuk Malvinas, untuk Diego), Por la última de Leo (Untuk Leo terakhir kalinya), Argentina quiero verte bicampeón (Argentina, aku ingin melihatmu mempertahankan gelar).
Itu saja, tanpa harus melihat rivalitas panjang kedua negara, sudah cukup menggambarkan betapa laga dini hari nanti WIB tidak seperti yang diklaim Scaloni. Ini laga dengan timbunan sekam yang bisa menjadikannya bara: dari perang, gol Tangan Tuhan, sampai drama kartu merah.
Perang itu adalah Malvinas atau Falklands. Argentina kalah dalam perang pada April hingga Juni 1982 tersebut, tetapi masih terus berusaha mendapatkan kembali pulau di lepas pantainya itu melalui jalur diplomasi. Menteri Luar Negeri Argentina Pablo Quirno juga sudah mengungkitnya kembali.
Baca Juga: Spanyol Singkirkan Prancis untuk Kali Ketiga, Melaju Lagi ke Final Piala Dunia setelah 16 Tahun
Potrero sebagai Perlawanan
Orang-orang Inggris dan Skotlandia yang bekerja sebagai pekerja rel kereta api memang yang membawa sepakbola ke Argentina pada abad ke-19. Namun, orang-orang Argentina “melawannya” melalui sepakbola ala potrero (jalanan dan tanah lapang) yang menonjolkan sisi kreativitas, kecerdikan, dan improvisasi.
Dengan gaya itu, Argentina telah tiga kali menjadi juara dunia, sedangkan Inggris baru sekali. Dan, dini hari nanti WIB, kesempatan mereka untuk mendekat kepada La Cuarta Estrella terbuka. “Tim ini tidak pernah berhenti bermimpi. Percayalah,” kata kapten Argentina Lionel Messi, seperti dikutip dari Diario AS.
Namun, Inggris sudah pasti juga memiliki mimpi yang sama, apalagi setelah menunggu demikian lama. Kemenangan sulit atas Meksiko dan Norwegia, bagi Thomas Tuchel, adalah bukti resiliensi tim asuhannya itu. Tim yang memiliki, sesuai lagu Oasis yang kerap dinyanyikan fans Inggris seusai laga, Wonderwall. “Tim ini tidak pernah menyerah,” kata Tuchel.
Mengulang Edisi 1986
Meski berstatus tim away, Argentina sejatinya masih bisa mengenakan jersey kandang biru muda bergaris ketika menantang Inggris. Akan tetapi, La Albiceleste, julukan Argentina memilih untuk mengenakan jersey tandang berwarna biru tua.
La Albiceleste beralasan ingin merepetisi kisah sukses saat menyingkirkan Inggris dalam perempat final Piala Dunia 1986. Saat itu, Argentina yang diperkuat Diego Maradona, Daniel Passarella, Jorge Burruchaga, hingga Jorge Valdano bablas menjadi juara.
”Kami berharap ini (jersey biru tua) akan memberi dorongan bagi kami dari sisi psikologis,” ungkap entrenador Argentina Lionel Scaloni seperti dikutip dari TyC Sports. Di Piala Dunia 2026, Argentina pernah sekali mengenakan jersey biru tua, yaitu saat menekuk Jordania 3-1 di fase grup (28/6).(ren/dns/jpg)
Editor : Arif Oktafian