Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Pasang Surut Laut Dumai dan Banjir

Rindra Yasin • Rabu, 10 Mei 2017 - 11:27 WIB
RIAUPOS.CO - Ketika menyempatkan diri pulang ke Dumai untuk menghadiri kenduri arwah ibu saya dan menyambut bulan puasa, saya yang secara kebetulan “disambut” oleh fenomena alam bulanan yang pasti dialami oleh setiap warga pesisir; pasang air laut. Namun kejadian fenomena alam ini, jika tidak ditangani dengan baik akan memberikan dampak negatif bagi wilayah yang tepat berada di pinggir pantai. Salah satu kota di Provinsi Riau yang berhadapan langsung dengan tepian laut adalah Kota Dumai. Kota ini merupakan kota strategis yang berada di pesisir utara Pulau Sumatera, sehingga secara ekonomis memberikan harapan dan peluang bagi masyarakat untuk menetap dan beraktivitas di kota terbesar di Indonesia berdasarkan luas wilayahnya. Persoalan muncul belakangan ketika aktivitas urbanisasi meningkat di Kota Dumai, dengan tingginya aktivitas masyarakat dan pembangunan, memberikan dampak luar biasa terhadap persoalan lingkungan, terutama yang berkaitan dengan fenomena alam pasang surut air laut.

Masih jelas dalam ingatan saya ketika tumbuh di kota ini saat masa kecil, pasang air laut memang tidak bisa dihindari, menyebabkan banjir meski hujan tidak turun di Kota Dumai. Namun kini persoalan itu semakin besar, di mana ketika saat terjadinya pasang surut, maka banjir yang dulunya hanya berada di sekitar daerah muara sungai dan sekitar bibir pantai, kini meluas hingga ke sebagian besar wilayah kota. Sebagai perbandingan, tempat saya tumbuh di kota ini adalah di Jalan Sidorejo yang terletak di Kecamatan Dumai Selatan, Kelurahan Ratu Sima, yang merupakan wilayah selatan dari kota ini dan laut yang berada di depan Kota Dumai terletak di wilayah utara kini sebagiannya sudah terendam air pasang yang tingginya bisa mencapai betis orang dewasa. Data satelit memperlihatkan Jalan Sidorejo secara garis lurus berjarak 2,5 kilometer dari laut Kota Dumai. Ini menjadi persoalan penting buat Kota Dumai saat ini dalam usaha menyongsong sebagai tuan rumah Kota Industri Strategis Nasional.

Hasil pengamatan lapangan membuktikan saat terjadi pasang air laut, daerah setengah kota mulai dari kawasan muara hingga ke daerah bagian tengah kota sudah tenggelam. Jika dibandingkan dengan masa lalu (dalam hitungan dua dekade), daerah Kota Dumai yang mengalami banjir akibat pasang air laut mengalami peningkatan, artinya sebaran daerah yang terkena dampak banjir akibat pasang ini kini meluas hingga ke tengah kota. Persoalan ini jika dibiarkan terus menerus akan membuat Kota Dumai suatu hari nanti akan “tenggelam” ketika pasang air laut terjadi. Hitungan waktu ini tergantung dengan laju pertumbuhan pembangunan dan peningkatan urbanisasi di Kota Dumai, apalagi sejak ditetapkannya Dumai sebagai salah satu Kota Industri Strategis Nasional, bukan tidak mungkin “tenggelamnya” Kota Dumai akan semakin cepat.   

Permasalahan
Sebagai kota yang berada di pesisir pantai, tentunya Kota Dumai mengalami persoalan yang tak terlepas dari pengaruh pasang air laut. Persoalan ini juga dihadapi oleh kota-kota di belahan dunia lain, sebut saja Kota Chiba di Jepang, Amsterdam di Belanda, Goaldcoast di Australia dan lain-lain. Namun kota-kota di negara maju tersebut tidak pernah mengalami banjir saat pasang laut terjadi. Hal ini juga tentunya dipengaruhi oleh tata kelola pemukiman yang baik di kota ini.  

Permasalahan yang dihadapi oleh Kota Dumai tidak terlepas dari tingginya angka urbanisasi yang terjadi di kota ini, data pusat statistik menunjukkan terjadinya perubahan yang signifikan terhadap lajunya pertumbuhan penduduk di kota ini yang sebagian besarnya menumpuk di area pusat kota. Dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 3,51 persen (data dari BPS Dumai), menunjukkan bahwa kota ini sedang berbenah menjadi kota besar.

Tingginya urbanisasi Kota Dumai tentu berbanding lurus dengan pembangunan, saat ini di Kota Dumai pembangunan sebagai faktor pendukung aktivitas ekonomi tidak bisa terelakkan. Namun, tingginya pembangunan ini turut serta membawa permasalahan, contoh yang paling nyata adalah hilangnya ruang terbuka yang berfungsi sebagai resapan air saat terjadinya peningkatan volume air tersebut.

Tingginya angka pembangunan memberikan persoalan baru untuk memikirkan bagaimana “melarikan” air dari tergenang. Saat ini memang Pemko Dumai sedang giat membuat drainase, namun drainase ini masih belum mampu menampung kelebihan debit air saat terjadinya pasang maupun hujan. Kondisi drainase yang belum memadai ini diperburuk dengan rendahnya kesadaran masyarakat yang masih belum menjaga kebersihan, banyak sampah yang menumpuk pada drainase sehingga menyebabkan proses aliran air jadi terhambat.

Pembahasan dan Solusi
Sebagai contoh pengelolaan persoalan banjir buat kota yang berada di pesisir, beberapa kota melaksanakan tata kelola yang pastinya harus sesuai dengan kondisi geologi dan geografi serta morfologi kota tersebut. Kota Chiba di Jepang misalnya, Pemko Chiba membuat kanal-kanal terusan yang lebar, dalam dan berpalang pintu sebagai pengontrol laju air saat terjadinya peningkatan volume air yang naik ke darat, kanal-kanal ini tersebar di beberapa titik potensial di dalam kota ini. Kota Goaldcost di Australia mengatur penambahan sedimentasi ke arah laut dengan pola pelandaian kedalaman pantai, sehingga arus laut yang sampai ke bibir pantai menjadi lemah.

Tentunya pengaturan tata ruang daerah terhadap pengaruh pasang berbeda-beda berdasarkan geologi, geografi dan topografi daerah tersebut. Untuk Kota Dumai, sebenarnya sangat diuntungkan secara geografi, karena di depan kota ini ada Pulau Rupat yang secara alami menjadi tameng pelindung dari derasnya arus yang datang dari Selat Melaka. Secara geologi, batuan penyusun Kota Dumai terdiri dari pasir dan gambut yang secara logikanya merupakan sistem yang baik untuk menyerap air karena pasir dan gambut merupakan material yang memiliki porositas yang tinggi. Secara topografi, Kota dumai berada pada ketinggian rata-rata tiga meter di atas permukaan air laut, sehingga sebenarnya kota ini bisa terhindar dari banjir akibat pasang yang terjadi.

Data satelit menunjukkan aliran sungai yang terdapat di Kota Dumai terdiri dari sungai meander yang berarti sungai berliku, ini menguntungkan Kota Dumai karena dengan sistem sungai berliku ini bisa menampung jumlah debit air yang banyak, sehingga jika dimanfaatkan dengan baik sungai-sungai, misalnya dengan melakukan penambahan kedalaman, ini bisa berfungsi sebagai daerah tampungan kelebihan debit air yang ditimbulkan oleh fenomena pasang surut laut di Dumai. Terlebih Kota Dumai didukung oleh 15 sungai, sehingga saat pasang terjadi, persoalan ini bisa teratasi dengan baik, karena data penelitian menunjukkan pasang maksimal yang terjadi hanya setinggi tiga meter.

Hal lain yang bisa dijadikan pertimbangan adalah dengan membuat pintu air yang tentunya harus lebih tinggi dari saat pasang maksimal. Saat pasang terjadi, pintu-pintu air yang terdapat pada aliran air yang mengarah ke laut bisa ditutup sehingga pada saat pasang, air tidak terlalu banyak masuk ke daratan.

Usulan lain adalah dengan melakukan pola water bank trapping, konsep ini dibuat dengan merekayasa aliran air dengan membuat kanal di beberapa titik dan dikumpulkan dalam satu area tangkapan. Ini bisa dikembangkan ke arah lain, misalnya menjadikan danau buatan sebagai salah satu alternatif hiburan wisata bagi warga di Dumai.

Terakhir, tentu saja dengan memanfaatkan peran serta perusahaan-perusahaan yang beraktifitas di tepian laut Kota Dumai. Pemko berhak meminta mereka turut serta untuk aktif membenahi pantai, misalnya dengan meninggikan area tepi pantai, membuat pintu air aliran muara, dan lain sebagainya yang sesuai agar persoalan banjir pasang teratasi.

Semoga Dumai bebas banjir pasang.***
Editor : Rindra Yasin