Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Apa Salah Pelakor?

Redaksi • Sabtu, 3 Januari 2026 | 10:30 WIB
Dian Oka Putra, Penyuluh Agama Islam KUA Marpoyan Damai
Dian Oka Putra, Penyuluh Agama Islam KUA Marpoyan Damai

PELAKOR akhir-akhir ini menjadi pembahasan hangat yang selalu diperbincangkan dikalangan masyarakat kita, seiring perkembangan dunia digital masyarakat dengan mudah mendapatkan berita yang diinginkan. Dalam kurun waktu setahun ini pelakor menjadi trending topic baik itu dari seorang selebritas maupun masyarakat biasa.

Pelakor sebuah istilah yang ditujukan oleh seorang wanita yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga seseorang. Kata pelakor mengambil istilah dari “perebut laki orang”, bak sebuah jamur yang tumbuh di musim hujan merebak kepada semua kalangan.

Dalam pemahaman sebagian orang bahwa pelakor sendiri terbilang “profesi” yang cukup hina, namun kita harus melihat “profesi” ini dari dua sisi, tidak mungkin ada penjual jika tidak ada pembeli, ada proses tawar menawar di sana, ada proses negosiasi yang alot antara kedua belah pihak, profesi in dinilai sebagai bentuk cerminan dari perspektif masyarakat akan stigma negatif dari perempuan penggoda dan penghancur rumah tangga.

Dalam Hukum Keluarga Islam dalam penjelasannya kita harus melihat ini dalam berbagai sisi tak selamanya wanita yang “berprofesi” sebagai perebut suami orang ini disebut salah karena tidak mungkin sebuah perselingkuhan terjadi jika tidak adanya komunikasi yang cukup dekat antara kedua belah pihak.

Ada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda “Barang siapa menipu dan merusak (hubungan) seorang hamba dari tuannya, maka ia bukanlah bagian dari kami. Dan barang siapa merusak (hubungan) seorang wanita dari suaminya, maka ia bukanlah bagian dari kami”.

Dalam hadits ini dapat dipahami bahwa dosa besar bagi seseorang yang mencoba merusak rumah tangga orang, tetapi saya ingin bersikap netral dengan kasus pelakor ini, tidak selamanya pelakor yang dipersalahkan ada baiknya kita tabayyun terhadap diri kita sudah sejauh apa kita memperhatikan keluarga kita?.

Sudah sejauh apa cinta kita terhadap pasangan kita?.”profesi” pelakor memang suatu pekerjaan yang buruk namun selain pelakornya, sang suami turut bersalah karena telah terperdaya dan rela mengkhianati istri dan anak anaknya ini juga tanda lemahnya iman sang suami dan kurang nya pengetahuan agamanya ada beberapa sebab perselingkuhan terjadi dan hadirnya orang ketiga dalam rumah tangga kita

Suami yang ada di puncak karier dengan kepusingan pekerjaan saingan bisnis dan rekan kerja. Tidak dibarengi dengan istri yang peduli terhadap masalah suami dan hanya menuntut kebutuhannya terpenuhi, alhasil kejenuhan dalam berumah tangga menjadi gunung es yang akan meledak ditambah masuknya perhatian seseorang terhadap pasangan kita.

Minimnya pemahaman beragama dan muraaqabatullaah (merasa diawasi oleh Allah). Seseorang yang memiliki ilmu agama dan mengamalkan ilmunya, orang yang bertakwa, lagi sadar dan waspada, tentunya mengetahui bahwa ada malaikat pencatat amal yang senantiasa menuliskan segala tindakan yang dia perbuat dalam catatan mereka, dan ada Allah yang senantiasa terjaga, tidak pernah tidur, dan tidak pernah lalai dalam mengawasi segala gerak-geriknya dari atas ‘Arsy sana. Minimnya komitmen berumah tangga dan kedewasaan berpikir dalam mempertahankan pernikahan.

Kurang matangnya pola pikir seseorang mengenai konsep rumah tangga, juga mengambil peran yang besar dalam memicu perselingkuhan. Ia tidak mau terlalu dibebani dan terikat dengan tanggung jawab serta konsekuensi dalam komitmen berumah tangga. Dalam pikirannya, pernikahan tidak lain hanya sebatas ajang penyaluran nafsu biologis tanpa diiringi adanya hak dan kewajiban yang harus ditunaikan dalam rumah tangga. Walhasil, dia hanya mau “enak-enakan” saja dan “bermain-main” sebagaimana kondisinya ketika berada dalam masa lajangnya.

Bertebaran wanita yang bertabarruj yang memperlihatkan aurat yang seharusnya ditutup dan perhiasan yang seharusnya tidak boleh tampak. Termasuk di dalamnya mengenakan parfum yang baunya tajam hingga bisa tercium kemana-mana, terlebih dengan gayanya yang seronok.

Jadi bukan pelakor yang terus dipersalahkan atas kejadian ini, tetapi suami bahkan isteri ikut membantu hadirnya orang ketiga dalam rumah tangganya, ada baiknya setiap pasangan selalu peduli satu sama lain dan saling menguatkan dalam membina rumah tangga, sangat disayangkan jika kemesraan suami istri paling banyak di awal-awal pernikahan saja.

Setelah berjalan beberapa tahun, ada istri yang mulai merasa bosan, mungkin karena kesibukan mengurus anak dan pekerjaan rumh tangga. Sehingga kemesraan dengan suami berkurang. Suami pulang kerja, istri tidak menyambut ramah, tidak memperbaiki penampilannya, tidak melayani dengan mesra. Ini juga menjadi penyebab suami pun mulai bosan dengan istri dan karena hilangnya kemesraan rumah tangga, suami pun mencari pelarian.

Masalah dunia yang bertumpuk tidak berbanding lurus dengan iman yang kuat dan tidak dibarengi dengan kemampuan dan dan kecerdasan istri dalam menasehati dan menyemangati, sehingga suami sering menyimpan kepusingan dan masalah pekerjaannya sendiri. Sampai akhirnya dia bertemu dengan rekan yang smart, energik dan fashionable.

Kalau suami maupun istri memahami dari sakralnya arti pernikahan dan selalu merasa saling membutuhkan maka rasa kasih sayang akan hadir di antara mereka dan tumbuhlah rasa menerima kekurangan pasangan dan berjuang bersama dalam mengarungi bahtera rumah tangga dengan saling menguatkan dan berujung kepada sakinah mawaddah dan warahmah. Semoga Allah selalu melindungi kita dari kejahatan pelakor dan pebinor. Waallahu alam.***

Editor : Bayu Saputra
#pelakor #Opini riau pos