PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Angka kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV)/ Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) di Provinsi Riau ternyata cukup tinggi. Strategi STOP (Suluh, Temukan, Obati, dan Pertahankan) HIV diterapkan sebagai akselerasi untuk menekan penyebaran dan mencapai target Indonesia bebas AIDS.
Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Riau yang bersumber dari Dinas Kesehatan (Diskes),
hingga Desember 2025, jumlah kasus HIV di Riau telah mencapai 11.336 orang.
Sepanjang tahun 2025 saja, tercatat sebanyak 1.051 kasus baru HIV. Selama kurun waktu 28 tahun atau sejak 1997-2025. Diskes Riau mencatat terdapat 11.336 penderita Orang Dengan Human Immunodeficiency Virus (ODHIV). Dari jumlah tersebut, hingga saat ini 6.990 orang di antaranya masih hidup.
“Sejak tahun 1997 ditemukan 11.336 kasus dengan 6.990 orang masih hidup. Dengan data kasus memasuki stadium AIDS sebanyak 4.480 orang,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Kadiskes) Riau Zulkifli.
Baca Juga: Tim Mulai Panggil Kepala SMA Negeri
Lebih lanjut dikatakannya, data kasus tersebut terus mengalami kenaikan di setiap tahunnya. Di antaranya pada 1997-2005 ada 85 kasus, 2006 sebanyak 80 kasus, 2007 sebanyak 138 kasus, 2008 sebanyak 132 kasus, 2009 sebanyak 217 kasus, 2010 sebanyak 397 kasus, 2011 sebanyak 454 kasus dan 2012 sebanyak 325 kasus.
“Untuk tahun 2013 ditemukan 433 kasus, 2014 sebanyak 569 kasus, 2015 sebanyak 738 kasus, 2016 sebanyak 576 kasus, 2017 sebanyak 741 kasus, 2018 sebanyak 675 kasus, 2019 sebanyak 587 kasus, dan 2020 ditemukan 726 kasus,” paparnya.
Setelahnya pada 2021 ditemukan sebanyak 570 kasus, 2022 sebanyak 835 kasus, 2023 sebanyak 1001, 2024 sebanyak 1.006 kasus, dan terakhir pada 2025 sebanyak 1.051 kasus.
Adapun kasus tersebut dikatakan Zulkifli ditemukan di seluruh kabupaten kota di Riau. Dengan angka terbanyak disumbang Kota Pekanbaru mencapai 58,20 persen. “Terjadi di seluruh daerah di Riau dengan persentase di bawah 10 persen. Sementara di Pekanbaru menyentuh 58,20 persen atau setara dengan 6.598 orang,” ungkapnya.
Dipaparkannya, selain Pekanbaru, kasus terbanyak lainnya ditemukan di Kabupaten Bengkalis 951 kasus, Dumai 855 kasus, Pelalawan 596 kasus, Rokan Hilir 556 kasus, dan Indragiri Hilir 477 kasus. Siak ada 327 kasus, Rokan Hulu 265 kasus, Kepulauan Meranti 223 kasus, Indragiri Hulu 213 kasus, Kampar 170 kasus, dan Kuantan Singingi 105 kasus.
Pihaknya juga mencatat saat ini terdapat 4.222 ODHIV yang menjalani Terapi Antiretroviral (ARV). “Diskes Riau memastikan stok obat yang dialokasikan oleh Kementerian Kesehatan RI untuk provinsi dalam kondisi cukup,” katanya.
Ia menyebutkan, penyebab seseorang dapat tertular HIV diakibatkan oleh terpapar virus HIV dari penderita (ODHIV) dengan tiga transmisi penularan. Yaitu perpindahan melalui darah yang tertular virus HIV, melalui plasenta/darah ibu ke bayi yang dikandung atau lahirkan, serta melalui cairan kelamin atau hubungan seksual.
Adapun langkah yang telah dilakukan dalam mendorong kesadaran masyarakat untuk deteksi dini dengan melakukan strategi STOP HIV (Suluh, Temukan, Obati, dan Pertahankan).
Suluh adalah memberikan edukasi masif guna meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai HIV/AIDS dengan cara menggencarkan sosialisasi pencegahan, menghapus stigma negatif terhadap ODHIV, serta menargetkan agar minimal 90 persen masyarakat memiliki pengetahuan yang benar.
Baca Juga: KPK Sebut Suhardiman Akui Pemberian Amplop ke Menhut
Temukan (percepatan tes dini) adalah mendeteksi status infeksi sedini mungkin pada kelompok rentan atau masyarakat umum. Langkah yang dilakukan adalah memperluas akses layanan skrining (tes HIV) di berbagai fasilitas kesehatan, melakukan pelacakan (tracing), dan mendorong tes sukarela agar 95 persen ODHIV menyadari statusnya.
Obati (Terapi ARV Segera) adalah memastikan semua orang yang terdiagnosis positif langsung mendapatkan pengobatan medis. Adapun langkah yang dilakukan adalah memberikan terapi obat Antiretroviral (ARV) sesegera mungkin tanpa menunda, guna menekan perkembangan virus di dalam tubuh.
Pertahankan (perawatan berkelanjutan) adalah memastikan pasien tetap patuh mengonsumsi obat secara rutin seumur hidup. Langkah yang dilakukan adalah menyediakan layanan konseling pendampingan, memantau retensi pengobatan, serta melakukan tes viral load berkala hingga jumlah virus tersupresi (tidak terdeteksi). Pasien dengan virus tersupresi tidak lagi menularkan HIV kepada pasangannya.
“Diskes Riau telah melakukan berbagai strategi dalam mendorong kesadaran masyarakat. Mulai dari penyuluhan pencegahan HIV ke masyarakat yang dilakukan oleh dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota serta layanan kesehatan,” katanya.
Pada Maret 2026, Diskes Riau telah menyosialisasikan pencegahan HIV ke sektor Kemenag melalui zoom meeting dan telah mengundang lebih dari 1.000 tenaga di Kementerian Agama (Kemenag), yang terbagi dari penghulu 372, penyuluh agama 700, dan pengawas madrasah 80 untuk menjadi perpanjangan tangan utk menyampaikan bahaya HIV ke masyarakat.
“Kemudian juga melakukan sosialisasi bahaya HIV kepada mahasiswa. Kita juga melakukan sosialisasi ke sektor PKK dan perguruan tinggi, serta turun ke masyarakat. Pada Desember 2025, kami telah mengedukasi secara langsung dan serentak sebanyak 5.609 orang bekerja sama dengan Perdoski (Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesi) Riau dan tercatat sebagai rekor MURI sosialisasi pencegahan HIV terbanyak,” sebutnya.
Kemudian, pada segmen mendeteksi, Diskes Riau melakukan testing sebanyak mungkin untuk memutus mata rantai penularan. Di mana, pada 2025 telah melakukan tes sebanyak 195.298 orang.
“Untuk obati, meskipun tidak dapat disembuhkan. Kami berkomitmen mendampingi dalam pemberian obat. Hal ini mengacu kepada strategi nasional penanggulangan HIV dengan tujuan untuk memutus mata rantai penularan karena pemberian pengobatan bisa menekan kadar virus dalam darah ODHIV,” paparnya.
Kemudian, mempertahankan kadar virus agar tersupresi atau ditekan dan tidak menularkan kepada orang lain, sehingga memutus mata rantai penularan. “Dinas kesehatan berkomitmen untuk menanggulangi HIV di Provinsi Riau. Namun, perlu adanya dukungan semua pihak dan sinergitas semua sektor karena masalah HIV bukan tanggung jawab dinas kesehatan semata tetapi menjadi tanggung jawab bersama,” ujarnya.
Baca Juga: Kejari Pekanbaru Eksekusi Terpidana Perintangan Penyidikan ke Rutan
Jadi Perhatian Bersama
Staf Program Yayasan SIKLUS, Wahyudi mengatakan, kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama, terutama pemerintah daerah. Sebagai lembaga yang melakukan pendampingan terhadap orang dengan HIV secara mandiri, pihaknya masih menemukan berbagai hambatan di lapangan, mulai dari aspek pencegahan hingga pengobatan.
“Dari total kasus yang ditemukan, sekitar 6.598 kasus atau 58,20 persen berada di Kota Pekanbaru. Kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena Pekanbaru sebagai ibu kota Provinsi Riau menjadi barometer penanganan berbagai persoalan kesehatan, termasuk HIV dan AIDS,” ujarnya.
Menurut Wahyudi, upaya penanggulangan yang selama ini dilakukan perlu terus diperkuat melalui sinergi seluruh pihak, baik pemerintah, lembaga masyarakat maupun masyarakat luas.
Ia mengungkapkan, kasus HIV/AIDS saat ini banyak ditemukan pada tiga kelompok utama, yakni usia produktif, laki-laki, serta ibu rumah tangga yang jumlahnya mulai mengalami peningkatan.
Situasi tersebut dinilai cukup memprihatinkan karena kelompok-kelompok tersebut memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan keluarga. “Kondisi ini berpotensi meningkatkan penularan di lingkungan keluarga atau rumah tangga apabila tidak ditangani secara serius,” katanya.
Karena itu, Yayasan SIKLUS mendorong penguatan langkah pencegahan yang menyasar kelompok perempuan dan ibu rumah tangga. Pendekatan berbasis keluarga dinilai menjadi salah satu strategi penting untuk menekan laju penyebaran HIV/AIDS.
Wahyudi menambahkan, kampanye untuk memperkuat ketahanan keluarga perlu terus digencarkan dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk tokoh masyarakat dan tokoh agama.
“Kita tidak ingin epidemi HIV/AIDS semakin masuk dan berkembang di lingkungan keluarga. Karena itu diperlukan peran bersama untuk meningkatkan kesadaran, pencegahan, serta dukungan terhadap upaya penanggulangan HIV dan AIDS,” tuturnya.
Didominasi akibat Hubungan LSL
Diskes Riau mencatat, selama kurun waktu Januari-Desember 2025 telah dilakukan testing HIV terhadap 195.298 orang. Dari jumlah testing tersebut, ditemukan sebanyak 1.170 orang yang positif.
Kadiskes Riau Zulkifli mengatakan, dari 1.170 orang positif tersebut kelompok yang paling tinggi kasus HIV adalah Lelaki Seks Lelaki (LSL) yaitu 462 (39,48 persen). Untuk mengantisipasi peningkatan kasus Diskes Riau telah melakukan berbagai langkah dan upaya.
“Di antaranya dengan melakukan sosialisasi pencegahan HIV ke sektor Kementerian Agama Provinsi Riau dengan membekali penghulu, penyuluh agama (semua agama Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha) pengawas madrasah (termasuk pengawas pesantren) untuk menyampaikan pesan ke masyarakat terkait bahaya HIV serta pentingnya memperkuat iman dan takwa di arus globalisasi saat ini,” katanya.
Diskes Riau juga telah bekerja sama dengan Diskes Pekanbaru, dan telah melakukan Sosialisasi Pencegahan HIV dan Infeksi Penyakit Menular Seksual (IMS) kepada seluruh lapisan masyarakat. Yakni dengan mengedukasi sebanyak 5.609 orang secara langsung dan serentak, bahkan telah meraih rekor MURI sebagai Sosialisasi Pencegahan HIV dan IMS serentak terbanyak pada Januari 2026.
“Kami bersama Komisi Penanggulangan AIDS Riau juga telah melakukan audiensi ke beberapa kampus besar di kota Pekanbaru. Seperti Unri, UIR, UIN, Umri, PCR, Unilak, Abdurrab, dan Universitas Hang Tuah untuk bekerja sama serta dukungan pencegahan penularan HIV di lingkungan kampus,” paparnya.
Selain itu, Diskes Riau juga telah melakukan Sosialisasi Pencegahan HIV ke pengurus PKK Riau dan pengurus PKK Pekanbaru dengan harapan meningkatkan peran keluarga sebagai benteng pertahanan agar terhindar dari perilaku-perilaku yang bisa mengakibatkan tertular HIV.(sol/ilo/das)
Editor : Arif Oktafian