Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Banjir 1,2 Meter, Warga Terpaksa Pakai Sampan, Sungai Nilo Meluap

M Amin Amran • Rabu, 9 April 2025 | 09:26 WIB
Warga Desa Air Hitam, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, terpaksa menggunakan sampan untuk beraktivitas karena jalan digenangi air luapan Sungai Nilo.
Warga Desa Air Hitam, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan, terpaksa menggunakan sampan untuk beraktivitas karena jalan digenangi air luapan Sungai Nilo.

PANGKALANKERINCI (RIAUPOS.CO) - Curah hujan yang deras mengguyur wilayah Kabupaten Pelalawan, khususnya Kecamatan Ukui menyebabkan air Sungai Nilo meluap dan Desa Air Hitam mulai dilanda banjir. Badan jalan dan pekarangan rumah masyarakat di desa itu digenangi air dengan ketinggian mencapai 120 sentimeter (cm) atau 1,2 meter.

Tidak hanya itu, sebanyak 150 unit rumah masyarakat dan 150 kepala keluarga (KK) di desa tersebut ikut terdampak banjir.

Akses jalan tidak bisa dilalui masyarakat menggunakan sepeda motor dan kendaraan roda empat ke atas. Dan warga terpaksa pakai sampan atau pompong untuk beraktivitas.

Banjir diketahui mulai terjadi sejak Ahad (6/4) lalu dengan ketinggian 1,2 meter lebih di titik terdalam. 

Tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), perangkat desa, perangkat kecamatan, kepolisian, dan TNI turun ke lokasi untuk melakukan penanganan bencana banjir.

“Ya, dampak meluapnya air Sungai Nilo telah menyebabkan ruas jalan darat di Desa Air Hitam direndam air dengan ketinggian 1 meter lebih,” terang Kepala BPBD Pelalawan Zulfan SPi MSi kepada Riau Pos, Selasa (8/4).

Lebih lanjut Zulfan mengatakan, berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, air Sungai Nilo mengalami peningkatan hingga mencapai 150 cm.

Kenaikan level air Sungai Nilo ini dipengaruhi oleh hutan di kawasan hulu Sungai Nilo yakni wilayah Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang sudah gundul akibat pembalakan maupun perambahan.

Pembalakan menyebabkan terjadinya erosi dan sedimentasi di aliran sungai akibat hilangnya vegetasi hutan sehingga mengurangi kapasitas sungai menampung air, khususnya saat curah hujan tinggi.

“Atas kondisi tersebut, air Sungai Nilo meluap sehingga menyebabkan akses jalan darat sepanjang 100-200 meter terputus akibat terendam air. Sebanyak 150 KK juga ikut terdampak banjir akibat pekarangan rumah mereka tergenang air,” paparnya.

Namun banjir tidak sampai merendam rumah warga.

Pasalnya, warga yang telah terbiasa mengalami bencana tahunan ini terlebih dahulu melakukan antisipasi dengan membuat rumah panggung setinggi 3 hingga 5 meter dari ketinggian air Sungai Nilo. Dan sejauh ini, tidak ada warga yang mengungsi.

 

“Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, areal permukiman warga yang terendam hanya sebatas pekarangan serta badan jalan. Belum ada rumah yang terdampak,” ujarnya.

Mantan Sekretaris Dinas Perikanan Pelalawan mengatakan, banjir mulai mengalami penyurutan. Banjir diperkirakan akan semakin surut apabila curah hujan tidak meningkat di lokasi banjir.

 “Jadi, berdasarkan pantauan di lapangan,hari ini (kemarin, red), banjir telah mulai surut drastis. Saat ini debit air tinggal 30 sentimeter di titik terdalam. Artinya, banjir ini sifatnya sementara atau hanya air yang lewat. Karena curah hujan, air sungai meluap,’’ ujarnya.

Dilanjutkannya, jika hujan berhenti maka akan kembali surut.

Namun demikian, masyarakat yang berada di sekitar bantaran sungai, khususnya Sungai Nilo, diimbau agar tidak melakukan banyak aktivitas dan tetap waspada terhadap potensi banjir.

‘’Apalagi kondisi saat ini intensitas curah hujan masih cukup tinggi,” tambahnya.

Hujan Lebat Berpotensi Terjadi sampai Akhir April

Hujan lebat diperkirakan masih mengguyur sebagian wilayah Indonesia sampai akhir bulan ini. Meskipun tidak sebesar pada Maret lalu, hujan di bulan ini tetap harus diwaspadai.

Khususnya di daerah aliran sungai serta dataran tinggi yang berpotensi terjadi bencana alam.

Analisa cuaca itu disampaikan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Erma Yulihastin. Dia mengatakan, ada sedikit perbedaan pemicu hujan pada Maret dan April ini.

“Bulan lalu disebabkan aktivitas pusaran-pusaran badai yang ramai terbentuk di Samudera Hindia,” katanya, Senin (7/4).

Sedangkan hujan bulan ini lebih disebabkan gelombang di atmosfer yang meningkat. Gelombang atmosfer yang dia maksud itu adalah Kelvin, Madden Julian Oscillation (MJO), Rossby, dan tekanan udara yang rendah.

Dia menjelaskan, terjadi pertemuan gelombang Kelvin dan MJO di utara khatulistiwa, tepatnya di sekitar Sumatera Utara dan Aceh.

 

Pertemuan gelombang ini terjadi pada pekan pertama April dan memicu pembentukan awan konventif. Awan ini membawa potensi hujan di wilayah Sumatera.

Di sisi lain, fenomena tekanan udara rendah terbentuk di Kalimantan hingga Laut Jawa bagian utara Jawa Timur. Kondisi ini menyebabkan klaster awan masih dapat terbentuk di Kalimantan bagian tengah dan selatan.

“Pembentukan awan bisa meluas sampai Jawa Timur,” katanya.

Sedangkan untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, hujan intensitas tinggi diperkirakan terjadi pada 10 hari terakhir April.

Pemicunya adalah pertemuan gelombang Kelvin dan Rossby di wilayah Sumatera bagian selatan.

Sementara itu, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muharin mengatakan, sejumlah bencana hidrometeorologi basah yang didominasi oleh kejadian banjir melanda beberapa wilayah Indonesia.

“Per Senin (7/4), BNPB mencatat beberapa kejadian bencana signifikan yang dilaporkan oleh BPBD,” paparnya.(amn/jpg)

Editor : Arif Oktafian
#banjir pelalawan #sampan #banjir akibat hujan deras #banjir di riau #kabupaten pelalawan #jalan terendam banjir #cuaca di riau #Banjir 1 meter 20 cm #sungai meluap #Warga pakai sampan #Sungai Nilo