Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Myung-bo dan Korsel yang Harap-Harap Cemas

Hary B Koriun • Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:04 WIB
Hary B Koriun
Hary B Koriun

 

Catatang HARY B KORIUN

BAGI sepakbola Korea Selatan (Korsel), Hong Myung-bo dianggap salah satu orang keramat yang tak boleh dihina. Bahkan, jikapun Korsel gagal melaju ke babak kedua Piala Dunia 2026 yang kini sedang berlangsung, kharisma dan namanya tak akan hancur oleh itu. Korsel kalah 0-1 dari Afrika Selatan (Afsel) dalam pertandingan terakhir babak penyisihan Grup A, Kamis (25/6/2026) pagi. Kekalahan itu menggagalkan ambisi Korsel lolos langsung sebagai juara maupun runner-up. Korsel kini harap-harap cemas menunggu kemungkinan mereka bisa menjadi satu dari 8 negara yang lolos lewat jalur peringkat ketiga terbaik.

Per Kamis, negara-negara yang berada di klasemen 8 besar peringkat ketiga terbaik adalah Bosnia & Herzegovina (4 poin), disusul Swedia, Korsel, Kroasia, Aljazair, Paraguay, dan Skotlandia (3), dan Cape Verde (2). Sedangkan Belgia (2), Ekuador, Kongo (1) dan Senegal (0), masih menunggu hingga mereka menyelesaikan pertandingan terakhirnya. Artinya, jika daftar ini tidak banyak berubah, Korsel tetap akan lolos ke babak kedua (32 besar).

Myung-bo berbeda dengan para legenda lain yang bermain di klub-klub besar Eropa. Sekadar menyebut beberapa nama, yakni Park Ji-sung (Manchester United), Lee Yong-pyo (Tottenham Hotspur), Cha Bum-kun (Eintracht Frankfurt, Bayer Leverkusen), Koo Ja-cheol (Wolfsburg), Ahn Jung-hwan (Perugia), Seol Ki-hyeon (Anderlecht, Fulham, Reading), atau generasi terkini seperti Son Heung-min (Bayer Leverkusen, Tottenham Hotspur, Los Angeles FC), Lee Kang-in (Paris SG), Hwang Hee-chan (Wolverhampton), dan sekian nama lainnya. Petualangan terjauh Myung-bo “hanya” bermain untuk Los Angeles Galaxy di Liga Amerika Serikat pada periode 2003-2004.  Namun, dia punya kharisma yang mendapat tempat terindah di hati rakyat Korsel.

Baca Juga: Hattrick Ousmane Dembele di Babak Pertama Bawa Prancis Hajar Nowegia 4-1 dan Jadi Juara Grup I

Pada Piala Dunia 2002, saat Korsel bersama Jepang menjadi tuan rumah, tim yang diasuh Guus Hiddink itu melaju hingga ke semifinal. Sebuah pencapaian yang belum pernah didapat generasi sebelumnya. Hingga kini juga belum terulang lagi. Korsel kalah 0-2 dari Jerman di semifinal. Lalu dalam perebutan tempat ketiga juga kalah 2-3 dari Turki. Saat lawan Turki, gol cepat Ilhan Manzis para menit pertama, dianggap kelalaian Myung-bo sebagai kapten dan orang terakhir di pertahanan. Namun, eforia keberhasilan Korsel masuk 4 besar membuat publik melupakan itu. Myung-bo dan teman-temannya dianggap pahlawan. Hiddink dianggap miseas berkulit putih. Myung-bo dapat penghargaan pribadi sebagai pemain terbaik ketiga turnamen.

Sejak itu, generasi emas Korsel itu sangat dihormati di mana-mana. Pemain-pemainnya mudanya laku keras di klub-klub Eropa. Termasuk Park Ji-sung yang langsung disunting Manchester Merah. Namun, ketika rekan-rekan mudanya berkarir di Eropa, Myung-bo tahu diri. Saat itu usianya tak muda lagi. Dia sudah berumur 33 tahun. Dia kemudian menghabiskan satu musim di Liga Amerika dalam 38 pertandingan. Setelah itu dia pensiun –di klub maupun timnas-- dan pulang ke Korea. Dia mengakhiri karier sebagai pemain timnas dengan 136 pertandingan dan mencetak 10 gol.

“Saatnya Korea berganti pemimpin (kapten, red) baru,” katanya ketika itu.

Setelah pensiun sebagai pemain, dia tetap tak bisa jauh dari sepakbola. Setahun setelah itu, dia menjadi asisten pelatih timnas saat dipegang oleh Dick Advocaat dan Pim Verbeek. Tahun berikutnya dia jadi asisten di Korea U-23. Tahun 2009, dia dipercaya sebagai pelatih utama Korea U-20. Setelah lama memilih vakum, pada 2013 dia berguru ke Rusia, menjadi asisten pelatih di klub Anzhi Makhachkala. Tak lama kemudian, dia ditunjuk oleh Federasi Sepakbola Korsel (KFA), menjadi pelatih timnas senior. Dia berhasil membawa Korsel lolos ke Piala Dunia 2014 Brazil. Sayangnya, di sana, Korsel pulang dengan hasil babak belur. Hanya berhasil meraih satu poin dari tiga pertandingan setelah bermain imbang 1-1 dengan Rusia. Selebihnya, kalah 2-4 dari Aljazair dan 0-1 dari Belgia.

Baca Juga: Kemenkum Riau Perkuat Pelayanan Publik Responsif dan Akuntabel, Ikuti Forum 'Pasti Ada Solusi'

Sepulang dari Brazil, dia mengundurkan diri. Publik Korsel tak bereaksi keras karena kegagalan itu. Mereka tahu, setelah era Park Ji-sung dkk berakhir, Korsel seperti kehilangan generasi terbaiknya. Myung-bo dimaklumi karena terjadi alih generasi ketika itu. Bahkan Son Heung-min, kapten Korsel sekarang, baru memulai kebintangannya ketika itu. Ini berbeda dengan ketika Korsel gagal lolos ke babak kedua Piala Dunia 2018 saat ditangangi Shin Tae-yong. Meski sempat mengalahkan Jerman ketika itu, saat pulang, mereka dilempari telur saat tiba di bandara.

Tak perlu waktu lama untuk bangkit, Myung-bo pergi ke Cina pada 2015. Di sana, selama dua musim, dia menangani klub Hangzhou Greentown. Tiga tahun kemudian, 2020, dia kembali ke Korsel dan menangani Ulsan HD selama empat musim. Setelah beberapa hasil buruk timnas di tangan Juergen Klinsman (gagal juara Piala Asia 2023) dan mantan dua rekannya saat jadi pemain di timnas, Hwang Sun-hon dan Kim Do-hon, KFA kemudian meminta Myung-bo lagi menangani Korsel pada 2024 untuk Kualifikasi Piala Dunia 2026.

Kondisi Korsel yang masih berharap pada tim lain agar bisa lolos ke 32 besar, sata ini, memang membuat beberapa orang agak gusar, namun mereka tetap bersikap hormat kepada sang legenda. Salah satu rekannya di timnas, Park Ji-sung, misalnya, mengkritik pendekatan taktik saat kalah 0-1 melawan Afsel. Menurutnya, saat tertinggal, Taeguk Warrior masih punya banyak waktu untuk menyamakan kedudukan. Sayangnya, “Tak banyak pemain kami yang berada di kotak penalti. Saya heran dengan cara bermain yang seperti ini,” ujarnya.

Baca Juga: PUPR-PKPP Riau Gandeng Swasta, Jalan Rusak Minas-Perawang Diperbaiki

Namun dia masih berharap Korsel bisa lolos ke 32 besar dan Myung-bo bisa memperbaiki penampilan timnya jika lolos agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di tahun 2014.

Sebagai salah satu tim Asia yang pernah berprestasi tinggi di Piala Dunia, kita berharap mereka tak pulang cepat. Setidaknya mengikuti jejak tim saat ditangani Paolo Bento di Piala Dunia 2022 yang lolos ke babak kedua (16 besar) saat kejuaraan masih diikuti 32 negara. Sekarang, mestinya Korsel bisa lebih jauh dari itu.***

 

 

 

 

 

 

 

 

Editor : Edwar Yaman
#Myung-bo #harap-harap cemas #korsel #piala dunia