PEKANBARU (RIAU POS.CO) -- Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Provinsi Riau menggelar seminar bertema "Pembauran Kebangsaan dalam Perspektif Budaya Melayu Riau" pada Sabtu (29/11/2025) di Cititel Hotel, Jalan Sisingamangaraja.
Seminar diikuti 84 paguyuban yang tergabung dalam FPK Riau. Seminar dibuka secara resmi oleh Plt Gubernur Riau SF Hariyanto yang diwakili Asisten I Setdaprov Riau, Zulkifli Syukur dan Ketua FPK Riau, Dr Ramli Walid.
Pada seminar tersebut juga diisi oleh pemateri Dr Elmustian dari LAM Riau dan Dr Ramli Walid juga tampil sebagai pemateri. Dalam sambutannya, Plt Gubri SF Hariyanto yang disampaikan Zulkifli Syukur mengatakan, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkokoh persaudaraan, memperteguh jati diri, dan memperkaya kehidupan kebangsaan di tengah keberagaman masyarakat Riau.
"Tanah Melayu Riau sejak dahulu dikenal sebagai negeri yang beradat, tempat berlabuh berbagai suku, etnis dan budaya yang hidup berdampingan. Falsafah 'di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung' menjadi pedoman luhur dalam merawat keberagaman," ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut bukan hanya ungkapan adat, tetapi telah menjadi jati diri masyarakat Riau yang menjunjung tinggi toleransi dan persatuan.
Menurutnya, di tengah tantangan sosial dan perkembangan teknologi, pembauran kebangsaan bukan lagi sekadar konsep, melainkan kebutuhan nyata untuk menjaga keharmonisan.
"Kita memiliki modal sosial yang kuat, adab, budi, dan budaya Melayu yang menjadi pondasi kokoh bagi persatuan dalam bingkai NKRI," ujarnya.
Plt Gubri berharap seminar ini mampu melahirkan gagasan baru dan pendekatan budaya yang relevan untuk memperkuat dialog antarbudaya serta semangat kebangsaan.
Ia menegaskan, Pemprov Riau akan terus mendukung upaya penguatan karakter kebangsaan, pelestarian nilai budaya Melayu, serta pengembangan ruang publik yang inklusif. "Kita ingin memastikan bahwa di Riau, setiap orang merasa aman, dihargai, dan dapat tumbuh bersama dalam suasana penuh persaudaraan," tambahnya.
Sementara itu, Ketua FPK Riau, Dr Ramli Walid, menekankan bahwa Riau sejak lama menjadi ruang pertemuan berbagai suku dan kebudayaan. Budaya Melayu, mengajarkan kesantunan, keterbukaan, dan keseimbangan, yang menjadi kunci terciptanya keharmonisan di tengah perbedaan. "Semangat pembauran kebangsaan bukan sekadar slogan, tetapi kerja bersama yang melibatkan pemerintah, ormas, lembaga adat, tokoh agama, dan seluruh komponen masyarakat," tegas Ramli.
Ia menambahkan bahwa kearifan lokal Melayu Riau perlu terus digali sebagai pedoman dalam merawat kebhinnekaan. Falsafah Melayu seperti "Yang tua dihormati, yang muda disayangi, yang datang disambut, yang pergi dihantar" menjadi bukti kuatnya nilai kemanusiaan dalam budaya Melayu.
FPK Riau berkomitmen terus memperkuat komunikasi antar-etnis, mendorong dialog sosial, serta mengembangkan program pembauran yang inklusif. "Mari jadikan seminar ini momentum memperkokoh persatuan dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap Provinsi Riau yang kita cintai," pungkasnya.
Editor : Rinaldi