Sesuai standar operasional prosedur (SOP), kasus ini masih dalam penyidikan pihak kepolisian. Nanti setelah disurati Polres, pihaknya akan melakukan pendampingan. "Pendampingan secara hukum dan psikologi oleh mediator, lalu kami melakukan assessment," terang Noni.
Biasanya saat pendampingan, mereka akan terbuka kepada psikolog atas persoalan yang menjerat mereka. "Tidak bijak dalam menggunakan gawai sehingga menyasar kepada konten pornografi menjadi penyebab hal ini bisa terjadi," terang Noni.
Menjadi tanggung jawab bersama dalam melakukan pencegahan. Tapi hal yang terpenting, anak-anak merupakan tanggung jawab orangtua, terutama di luar sekolah. Pengawasan ekstra mesti dilakukan jika ingin melakukan penyelamatan. "Pertanyaannya sekarang, orangtua ke mana, pola asuhnya seperti apa," tanya Noni.
Jika sudah kejadian seperti ini, pihaknya akan berperan melakukan pendampingan dan bagaimana mereka pulih. Lebih jauh dikatakan Noni, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Ternyata rapat komite sudah dilakukan. Namun, saat rapat komite, sejumlah orangtua tidak hadir karena bekerja. Sehingga pesan yang diberikan tidak sampai kepada para orangtua.
Noni menyadari menonton adegan itu lebih merusak syaraf, terutama anak di bawah umur. Dan setelah ditelusuri, ada anak yang kedua orangtuanya bekerja.
Sejauh ini, kami tak henti melakukan sosialisasi, bersama TP-PKK, dan pihak kepolisian dengan cara turun ke sekolah sekolah. "Pencegahan kami lakukan sejak dini, dengan memberikan sosialisasi bagaimana pola asuh di zaman digitalisasi," jelas Noni.
Tapi kejadian ini, membuka mata semua untuk terus waspada dan bergandengan tangan melakukan penyelamatan generasi muda.
Editor : RP Rinaldi