TELUKKUANTAN(RIAUPOS.CO) - Anak-anak di Kabupaten Kuanyan Singingi (Kuansing) ternyata lumayan gemar membaca. Ini bisa dilihat dari tren kunjungan anak-anak Kuansing ke perpustakaan Prof Dr H Muchtar Lutfi di Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kuansing, Jalan Abdoer Rauf Telukkuantan.
Animo baca anak-anak menunjukkan tren yang semakin positif, terutama pada layanan kunjungan terjadwal sekolah, pojok literasi tematik, serta kegiatan literasi berbasis kreativitas seperti mendongeng, bedah buku anak, dan kelas literasi digital.
Dalam tiga tahun terakhir, tingkat kunjungan ke perpustakaan Prof Dr H Muchtar Lutfi milik Pemkab Kuansing itu, terus meningkat. Dari daftar kunjungan tahun 2023 ada sebanyak 1.880 orang anak berkunjung. Lalu pada tahun 2024 sebanyak 2.078 orang, dan tahun 2025 sebanyak 2.262 orang.
Sementara di tahun 2026, dalam kurun dua bulan jumlah kunjungan sudah 349 orang. 103 orang di Januari 2026 dan 246 orang hingga minggu keempat di bulan Februari 2026.
"Alhamdulillah, tren anak-anak berkunjung ke perpustakaan kita setiap tahunnya menunjukkan peningkatan," kata Plt Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kuansing, Shanti Evi Dimeti SH, Selasa (24/2/2026).
Menurut Shanti, saat ini anak-anak tidak lagi datang hanya untuk membaca secara konvensional, tetapi juga untuk berinteraksi, bereksplorasi, dan belajar secara kontekstual. Dimana itu menjadi proyeksi dari program perpustakaan daerah di bawah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kuansing.
Perpustakaan Daerah tidak lagi diposisikan semata sebagai book warehouse, melainkan sebagai pusat pembelajaran sepanjang hayat (lifelong learning center) yang inklusif dan adaptif terhadap dinamika zaman.
Dalam kerangka transformasi layanan, Dimas Perpustakaan dan Kearsipan mengintegrasikan literasi dasar, literasi digital, literasi numerasi, hingga literasi budaya dan kewargaan sebagai bagian dari penguatan kualitas sumber daya manusia daerah.
Penguatan animo baca ini juga didorong melalui pendekatan kolaborasi pentahelix, dengan melibatkan pemerintah, satuan pendidikan, komunitas literasi, dunia usaha, media, dan keluarga sebagai ekosistem pendukung. Dengan begitu, perpustakaan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi simpul strategis dalam membangun budaya baca yang berkelanjutan.
"Bagi kami, meningkatnya kunjungan anak-anak bukan sekadar angka statistik, melainkan indikator tumbuhnya kesadaran literasi sebagai fondasi peradaban. Dan itu adalah investasi jangka panjang bagi kemajuan daerah," kata Shanti.
Konsep kolaborasi pentahelix, pada Desember 2025 yang lalu juga sudah dicanangkan, pada Festival Literasi Kabupaten Kuantan Singingi tahun 2025.(dac)
Editor : Edwar Yaman