Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Khawatir Sejarah Sagu Meranti Sirna

Administrator • Rabu, 30 Oktober 2019 | 11:12 WIB
MENGULITI: 
 Beberapa buruh kilang sagu di pinggir anak Sungai Suir Kanan, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, tampak sibuk menguliti potongan batang pohon sagu, belum lama ini. Proses tersebut dilakukan sebelum memasuki proses pema
MENGULITI: Beberapa buruh kilang sagu di pinggir anak Sungai Suir Kanan, Kecamatan Tebingtinggi Barat, Kabupaten Kepulauan Meranti, tampak sibuk menguliti potongan batang pohon sagu, belum lama ini. Proses tersebut dilakukan sebelum memasuki proses pema

MERANTI (RIAUPOS.CO) -- Wakil Bupati Kepulauan Meranti H  Said Hasyim membuka secara resmi kegiatan Dialog Kesejarahan Sagu Meranti Dalam Persepektif Sejarah.  Kegiatan dalam rangka menggali kembali asal muasal Meranti sebagai Kota Sagu.  

Kegiatan diselenggarakan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNP) Provinsi Riau Kepri di Selatpanjang, Selasa (29/10) kemarin  juga dihadiri Kepala BPNP Provinsi Riau-Kepri, Toto Sucipto.

Selain Toto, juga ada Budayawan Riau Taufik Ikram Jamil, Kasi Sejarah Dinas Pendidikan Meranti Abdullah  serta para peserta utusan sejumlah sekolah dan instansi.

Wakil Bupati Said Hasyim mengapresiasi kegiatan ini,  untuk itu ia minta Dinas Pendidikan Meranti dapat memasukan sejarah sagu dalam muatan lokal, sehingga dapat diteruskan kepada anak didik di sekolah.

Selain itu, Said Hasyim juga mengajak para peserta bukan saja mempelajari sejarah sagu Meranti, tetapi dapat membuat dan menciptakan aneka kuliner berbahan dasar dari sagu.  Seperti ghobak, lempeng sagu, sempolet, sagu rendang dan lainya.

"Sehingga, sagu tidak lagi menjadi makanan kelas dua tetapi menjadi makanan yang nikmat dan paling sehat dikonsumsi. Dulu badan orang Selatpanjang besar-besar dan kuat menebang pohon dan mengarungi lautan karena makan sagu. Sekarang, sejak banyak mengkonsumsi beras justru kecil-kecil," ujar Said Hasyim.

Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNP) Provinsi Riau Kepri, Toto Sucipto mengatakan, dulunya Selatpanjang dikenal sebagai Kota Sagu, namun seiring waktu julukan itu semakin memudar karena masyarakat Meranti sudah mulai meningalkan sagu sebagai makanan pokok dan diganti dengan beras.

Hal ini menurut Toto Sucipto tentunya mengkhawatirkan bagi kelestarian sagu di masa akan datang. Ia menilai sejarah sagu sangat penting untuk pengembalian kecintaan masyarakat mengkonsumsi dan menjadikannya sumber makanan pokok.

Hal senada juga disampaikan Taufik Ikram Jamil yang ikut mengajak masyarakat jangan sampai melupakan sejarah sagu agar tidak terlempar dari makna-makna yang tersimpan didalamnya.
"Tidaklah kehilangan sejarah itu menyebabkan kitapun terlempar dari makna-makna, karena makna tersimpan di dalam tanda. Di sisi lain manusia pada hekekatnya mencari makna melalui tanda yang dapat dijumpai dalam sejarah," jelasnya.

Berdasarkan data, Meranti memiliki potensi kebun sagu yang cukup luas kurang lebih 40 ribu Ha, dengan produksi 243 juta ton/tahun. Saat ini dari hasil pengolahan Sagu telah berhasil diciptakan 300 lebih jenis makanan dan minuman dan telah pula mendapat Sertifikat Rekor MURI  2016 lalu.(wir)

Editor : Administrator
#kegiatan dialog kesejarahan #sagu meranti #bupati kepulauan meranti