PEKANBARU (RP) - Sepatu menjadi salah satu benda yang tidak bisa terlepas dalam aktivitas sehari-hari. Baik itu untuk bekerja, olahraga, hingga hang out. Seiring perkembangan zaman, berbagai jenis sepatu muncul dan menjadi sangat ikonik. Salah satunya adalah sneakers, yang paling banyak digunakan dalam memenuhi kebutuhan alas kaki.
Salah seorang penggemar sneakers asal Kota Pekanbaru, Fitra Rahmawan mengatakan, sneakers lebih banyak digunakan sebagai alas kaki karena modelnya yang bisa menyesuaikan dengan berbagai kebutuhan penampilan. Seperti saat bekerja (semiformal), saat berolahraga dan lainnya.
Menurut dia, perbedaan sneakers dengan jenis sepatu lainnya terletak pada model dari sepatu tersebut. Seperti pantofel yang lebih cenderung dengan sepatu formal. Ada juga jenis sepatu running atau sports. Sedangkan sneakers, lebih identik dengan gaya namun tetap nyaman digunakan.
“Tapi kalau dari literatur yang saya baca, sneakers jenis sepatu yang tujuan pembuatannya memang khusus untuk kebutuhan aktivitas sehari-hari. Awalnya nih, produsen memproduksinya untuk kebutuhan khusus olahraga. Dengan desain sol dan bahan yang kuat. Namun seiring berjalannya waktu, sepatu ini menjadi pilihan untuk berbagai aktivitas,” paparnya.
Dikatakan dia, saat ini bahkan tidak sedikit yang menjadi penggemar sneakers merek-merek tertentu. Sebut saja New Balance berbagai tipe, Nike Air Jordan, Nike Air Force dam yang kekinian ialah Asics Gel dari berbagai series. Menurut dia sneakers juga memiliki beragam ciri khas dan model.
“Kalau kayak Air Jordan itu kan dia lebih cenderung kayak sepatu pemain basket. Namun didesain lebih fashionabel, dengan campuran warna dan model yang ikonik. Ini menjadi daya tarik khusus penggemar sneakers,” sambungnya.
Sementara itu, penggemar sneakers asal Pekanbaru lainnya, Dewi Atmaja mengatakan, untuk keseharian, penggunaan sneakers memang lebih nyaman. Sebab hampir rata-rata sneakers memiliki keunggulan di bagian sole dan insole. Terlepas dari modelnya yang beragam, ia mengaku cukup fanatik dengan sneakers.
“Apalagi yang kayak aku kerja di event organizer, kan di lapangan. Jadi selain butuh sepatu yang nyaman juga dari sisi penampilan juga cukup menunjang. Bahkan saat rapat-rapat sama klien, kan biasanya semi formal ya, emang lebih nyaman pakai sneakers,” tuturnya.
Dia sendiri mengaku memiliki belasan koleksi sneakers dari berbagai jenis dan merek. Namun untuk beberapa jenis sneakers, ia lebih suka dengan model canvas sneakers dan hig-top. Keduanya memiliki model dan ciri khas yang berbeda. Bila canvas lebih identik dengan bahan kanvas, high top lebih ke kulit sintetis dan suede.
Kata Dewi, kedua jenis sneakers tersebut paling cocok digunakan untuk kegiatan sehari-hari. Bahkan saat bekerja, dirinya merasa bisa terlihat casual namun tetap tidak menghilangkan kesan formalnya. Apalagi dibawa hang out. Juga tetap tidak ketinggalan gaya.
“Misalkan itu vans itu kan canvas. Kalau pakai rapat-rapat menurut saya sih bisa saja. Tinggal penyesuaian warnanya aja. Bisa hitan putih, kayak yang polos-polos gitu aja. Kalau bawa hang out juga masuk-masuk aja sih,” imbuhnya.
Diakui dia, tren belakangan menjadikan sneakers lebih bervariasi. Seperti munculnya skena yang membuat seseorang menggunakan jenis sneakers tertentu dan merek tertentu.
“Kalau 2023 kemaren skenanya itu make New Balance ya. Series 550 ga salah. Kalau sekarang 2024 ini katanya lagi hype Asics. Ya semua oke-oke aja sih. Tergantung selera dan kecocokan dengan fashion pakaiannya juga,” pungkasnya.
Bisa Jadi Investasi
Perkembangan fashion saat ini membuat produsen sepatu memproduksi beberapa jenis sneakers dengan kategori terbatas. Termasuk juga dengan mengkolaborasikan seri yang diluncurkan dengan merek dagang lain. Seperti Nike dengan merek dagang Supreme, New Balance dengan Stone Island.
Hal ini menyebabkan harga sepatu yang dijual melambung bahkan cocok digunakan sebagai investasi. Hal ini sebagaimana diungkapkan salah seorang penggemar sneakers asal Pekanbaru, Fitra (27). Ia sendiri pernah membeli sneakers merek Nike kolaborasi dengan Tiffany & co. Di retail, ia membeli sepatu tersebut beberapa tahun lalu dengan banderol Rp7,2 juta.
“Tapi sekarang saya lihat harganya tembus Rp18 juta. Ini kan bisa jadi investasi ya karena kenaikannya cukup tinggi. Memang dari Nike-nya sendiri produksinya terbatas. Jadi sekarang bisa dibilang buat dapetin series itu yang baru agak susah. Sehingga harganya melambung,” ungkapnya.
Dia juga mencontohkan beberapa jenis sneakers yang memiliki harga fantastis. Seperti Nike Air Yeezy yang rilis pada 2019 lalu. Sepatu yang berkolaborasi dengan selebriti Holywood, Kanye West ini saat dijual diawal harganya berkisar antara Rp3-4 juta. Saat ini harga sepasang Nike Air Yeezy bisa tembus di angka belasan juta rupiah.
“Kemarin tuh yang lebih gila lagi. Adidas 4D sampe Rp 60 juta. Itu gila sih. Emang karena model dan kualitasnya bagus, dia juga limited. Sehingga harganya melambung. Itu sneakers head (sebutan penggemar sneakers, red) berebut nyari yang limited,” tuturnya.
Bagi penggila sneakers dan ingin menjadikan koleksinya sebagai barang investasti, Fitra punya beberapa tips yang patut untuk dicontoh. Beberapa di antaranya ialah dari sisi tren. Di mana sneakers dengan kolaborasi bersama tokoh ternama, pastinya akan memiliki antusias dari penggemar.
“Kayak kolaborasi dengan Kanye West. Penggemar Kanye West pasti bela-belain buat beli. Sehingga harganya bisa naik. Kemudian kalau ga salah ada sneakers yang kolaborasi dengan Michael Jackson, itu juga bisa sih,” paparnya.
Kemudian bisa dilihat dari sisi jumlah produksi, material yang digunakan hingga model dari sneakers itu sendiri. Biasanya, sneakers dengan jumlah produksi terbatas, itu bisa menjadi lebih mahal harganya dibanding saat dijual perdana. Sebab, sneakers tersebut akan memiliki nilai ekonomi.
“Kan kalau jumlah sedikit tapi pembeli banyak otomatis harga naik. Nah itu kayak Nike Tiffany & co saya itu. Bahkan untuk bekasnya aja jauh lebih mahal dari barunya dulu. Ya memang lihat kondisinya juga. Tapi rata-rata sepatu limited pasti jarang dipakai. Sehingga kondisinya masih bagus dan terawat,” pungkasnya.(nda)
Editor : Rindra Yasin