Lima Puncak Energi Alam
Rindra Yasin • Jumat, 3 Februari 2012 | 05:56 WIB
Mari kita simak informasi Allah SWT dalam Al-Quran, dalam Tafsir Rahmat halaman 555 Surat Al-Israa (Memperjalankan Di Malam Hari). Surat (17):78: Dirikanlah salat sesudah matahari tergelincir (Zuhur dan Asar) sampai gelap malam, (Magrib dan Isya). Dan dirikan pulalah salat Subuh. Sesungguhnya salat Subuh itu disaksikan malaikat.
Mari kita simak pula Sabda Rasulullah saw berikut ini, Waktu salat Zuhur diawali jika matahari telah condong (ke barat) hingga bayang-bayang seseorang sama dengan tinggi tubuhnya atau selama waktu Asar belum tiba. Waktu salat Asar adalah selama matahari belum terlihat menguning. Waktu salat Maghrib adalah selama awan merah (syafaq) belum menghilang. Sedangkan waktu salat Isya hingga tengah malam. Sedangkan waktu salat subuh adalah semenjak terbitnya fajar (fajar shadiq) hingga matahari terbit. (HR Muslim).
Dalam hadist lain, Rasulullah menekankan bahwa amalan yang paling mulia adalah salat di awal waktu. Prof Riset Dr Ir H Osly Rachman Ms dalam bukunya The Science of Shalat, menguraikan dengan logika perintah Allah tentang salat.
Beberapa fragmen menarik yang saya kutip, antara lain sebagai berikut ini. Kita mungkin pernah bertanya-tanya mengapa salat harus dikerjakan sebanyak lima kali dalam sehari semalam dan sebaiknya dilakukan di awal waktu? Jawabannya atas pertanyaan itu sangat terkait dengan rahasia di balik waktu-waktu di mana kita diperintahkan untuk mengerjakan salat-shlat tersebut.
Rahasia itu terungkap berdasarkan beberapa penelitian dan pengamatan para pakar dibidangnya. Setiap peralihan waktu salat sebenarnya bersamaan dengan terjadinya perubahan energi alam yang dapat diukur dan dirasakan melalui perubahan warna alam.
Penelitian para ilmuan Cina sebagaimana terekam dalam buku I Cing (Yi Jing) mengungkapkan bahwa dalam kosmologi terdapat hubungan yang erat antara manusia dan alam raya ini. Hubungan itu berupa sirkulasi yang seimbang antara fluktuasi energi alam raya (energi kosmos) dan magnetis manusia). Seandainya fluktuasi energi itu digambarkan pada salib sumbu dengan sumbu X sebagai waktu 24 jam dan sumbu Y sebagai nilai energi, akan terbentuk kurva pangkat tiga (kubik). Kurva ini membentuk 55 puncak, yang mana lima puncak di antaranya menunjukkan puncak energi yang sangat tinggi di alam raya.
Para ilmuan di atas menyatakan kekaguman setelah mereka menemukan bahwa lima puncak energi tinggi (mayor) tersebut bertepatan waktunya dengan awal waktu salat-salat wajib. Dengan kata lain, waktu-waktu salat yang ditetapkan di dalam QS. An-Nisa (4): 103 dan QS. Hud (11): 114 besereta hadist Nabi menyertai adalah waktu munculnya energi kosmos yang sangat tinggi. Apabila kita patuh terhadap perintah Allah SWT, maka keberuntunganlah yang kita dapatkan, sebab energi tersebut mudah diserap oleh tubuh kita. Energi tersebut paling banyak diserap melalui telapak tangan ketika kita takbir.
Marilah kita lihat sisi lain, hubungan waktu salat harus lima kali dalam sehari semalam, dengan energi alam. Menurut (Sumber : Indah Mulya, Edisi Nomor 477 Th. VI 15 Juni 2008), dengan mengutip beberapa pendapat ilmuan Cina. Ada energi api akan keluar pada waktu jam 12.00 siang sampai sore, untuk mengobati jantung dan ginjal itu. Dalam gerakan salat Ashar adalah siklus dari panas ke dingin mereka menyebutnya terapi kandung kemih. Secara alamiah gerakan Ashar itu ternyata memisahkan zat-zat kimia dalam tubuh kita. Ada energi air yang keluar pada waktu jam enam sore setelah terbenamnya matahari yang mereka menyebutnya bahwa Maghrib itu menerapi ginjal.
Gerakan Isya yaitu setelah mega merah hilang, ini mereka menyebutnya sebagai terapi yang mengurangi kelebihan energi. Ada energi kayu yang keluar pada waktu jam 11 malam, dia yang menghancurkan racun-racun yang ada dibadan kita, dan menurut ilmuwan Cina racun itu bakar kayu untuk membuang racun di otak. Kemudian jam dua pagi otak dibersihkan oleh energi kayu, dan selanjutnya Allah menyediakan dan mengisinya untuk salat Tahajud pada waktu sepertiga malam.
Prof Dr Sholeh seorang guru besar Universitas Airlangga, telah membuktikan bahwa Tahadjud yang teratur dan disiplin akan mencegah kanker, stres dan infeksi oleh sebab itu jika orang melakukan dengan teratur memiliki emosi yang positif. Energi udara keluar pada jam dua jam tiga pagi energi logam yang menterapi kita. Jam enam pagi melakukan salat Dhuha untuk menterapi pencernaan.
Dalam gerakan salat dianggap oleh para ilmuwan Cina, menyerupai gerakan suprayoga karena energi itu akan masuk ke syaraf di tangan dan cara yang paling tepat untuk menangkap energi itu karena kita takbir waktu mengawali salat, takbir waktu bangun dari ruku disitulah energi masuk.
Menurut Rasulullah SAW meletakkan pergelangan tangan kanan di atas pergelangan tangan kiri yang berarti tangan kiri dijepit oleh jari tangan kanan, menjepit pembuluh balik tangan kiri yang menyebabkan pembuluh tangan kanan mengembang selama imam membacakan al fatihah dan surah. Di saat kita mau ruku tangan diangkat semprotan dari tangan kanan itu langsung ke telinga ke mata dan sebahagian otak.
Ruku melenturkan memori otak dan ginjal. Sujud menurut para ilmuwan Cina korener dan oksigen, posisi Sujud pembuluh jantung mengembang. Duduk pada tahiyat awal mereka mengatakan pembakaran mengefektifkan kelenjar keringat dan pencegahan pengapuran dan tahiyat akhir menterapi keseimbangan dan wasir.
Duduk antara dua Sujud mereka menyebutnya duduk keperkasaan karena menarik syaraf di bawah lutut dan dipangkal paha.
Jadi kita tidak heran bahwa Allah menekankan gerakan salat dan waktu salat, ini merupakan syariah yang menerapi kita dan harus diperhatikan dan itulah makna asholatu imanuddin dan salat merupakan tiang agama. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk dan kemudahan bagi kita. Amien.***
Rony Ardiansyah
Peminat Sains Quran/Dosen Pasca Sarjana Magister Teknik Sipil UIR Editor : Rindra Yasin