Ketika Safety Bertemu Realitas Lapangan 

Redaksi • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 11:02 WIB
Adi Kurniawan. (JPG)
Adi Kurniawan. (JPG)

Di banyak tempat kerja, sistem keselamatan terlihat sangat lengkap di atas kertas. Ada HIRA, JSA, Permit to Work (PTW), SOP, toolbox meeting, pre-job safety meeting, safety induction, inspeksi, audit, hingga berbagai kampanye keselamatan. Semuanya disusun untuk memastikan pekerjaan berlangsung secara terkendali.

Namun, ketika pekerjaan benar-benar dilakukan di lapangan, situasinya tidak selalu sesederhana dokumen.

Target pekerjaan harus dicapai. Cuaca dapat berubah. Kondisi peralatan tidak selalu ideal. Komunikasi bisa mengalami kendala. Tekanan waktu muncul. Bahkan, kondisi aktual di lapangan terkadang berbeda dengan asumsi ketika prosedur disusun. Dalam keadaan seperti itu, pekerja dan supervisor harus mengambil keputusan berdasarkan situasi yang mereka hadapi.

Baca Juga: Disonansi Moral di Balik Asap 

Di sinilah pertanyaan penting perlu diajukan: apakah safety yang kita bangun benar-benar hidup dalam pekerjaan sehari-hari, atau baru terlihat baik ketika diperiksa melalui dokumen dan audit?

Menurut saya, pertanyaan ini penting bukan untuk mempertentangkan prosedur dengan praktik lapangan. Justru sebaliknya, kita perlu memastikan bahwa keduanya saling terhubung.

Prosedur Penting, Tapi Tidak Bekerja Sendiri

Prosedur dibuat untuk membantu manusia be­kerja dengan aman. Namun, prosedur tidak menjalankan pekerjaan dengan sendirinya. Ia dijalankan oleh manusia yang memiliki pengalaman, keterbatasan, tekanan, pengetahuan, dan cara memahami risiko.

Baca Juga: Korupsi di Indonesia: Membunuh Negara, Manusia hingga Harapan

Perspektif Safety Differently mengajak kita melihat keselamatan tidak hanya sebagai ketiadaan kecelakaan, tetapi juga sebagai kemampuan organisasi untuk membangun kapasitas positif: kepercayaan, kemampuan beradaptasi, komunikasi, keterlibatan, dan kemampuan manusia menyelesaikan masalah.

Karena itu, ketika menemukan pekerja tidak sepenuhnya mengikuti prosedur, respons pertama seharusnya tidak selalu berhenti pada kalimat, “Pekerjanya tidak disiplin.”

Pertanyaan yang lebih berguna adalah: mengapa cara tersebut dipilih? Apakah prosedurnya dapat diterapkan pada kondisi aktual? Apakah terdapat tekanan waktu atau keterbatasan sumber daya? Apakah ada kondisi lapangan yang tidak tertangkap ketika pekerjaan direncanakan?

Baca Juga: Catatan Konstruktif Pertumbuhan Ekonomi Pekanbaru 7,39 Persen

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan berarti membenarkan pelanggaran. Tujuannya adalah memahami kondisi yang membentuk perilaku, sehingga pengendalian yang kita buat benar-benar efektif.

Ketika SHE Hadir di Tempat Pekerjaan

Dalam pengalaman saya, perbedaan antara memberikan pemahaman safety di ruang kelas dan hadir langsung di lapangan terasa cukup jelas.

Ketika memberikan materi ringan mengenai Permit to Work secara langsung di lapangan, diskusi sering menjadi lebih terbuka. Pekerja dapat menghubungkan materi dengan pekerjaan yang sedang mereka hadapi. Pertanyaan yang muncul juga lebih konkret: bagaimana penerapan permit pada kondisi tertentu, bagaimana berkoordinasi dengan pihak lain, atau apa yang harus dilakukan ketika kondisi aktual berubah.

Baca Juga: Pramuka sebagai Fondasi Pembentukan Karakter Anak Bangsa (Refleksi Hari Pramuka)

Situasi ini berbeda dengan workshop yang dilaksanakan di ruang kelas atau hotel. Bukan berarti pelatihan di kelas tidak penting. Keduanya memiliki fungsi masing-masing. Namun, ketika SHE hadir langsung di area kerja, jarak antara teori dan praktik menjadi lebih kecil.

Ada ruang untuk berdiskusi tanpa sekat. SHE dapat melihat bagaimana pekerjaan dilakukan, sementara pekerja dapat menyampaikan kendala berdasarkan pengalaman mereka sendiri.

Bagi saya, di situlah salah satu bentuk safety leadership terlihat: bukan hanya menyampaikan aturan, tetapi hadir untuk memahami bagaimana pekerjaan benar-benar dilakukan.

Baca Juga: Fakta Framing, Tak Tersentuh Hukum

SHE Officer: Polisi Keselamatan atau Partner?

Di lapangan, fungsi SHE terkadang dipersepsikan sebagai “polisi keselamatan”—datang untuk mencari pelanggaran, menegur pekerja, kemudian membuat laporan.

Padahal, safety leadership membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan mengingatkan aturan. Kredibilitas, kepercayaan, kemampuan mendengar, dan persuasi merupakan bagian penting dalam membangun pengaruh keselamatan.

Kredibilitas juga tidak hanya lahir dari sertifikat atau jabatan. Ia dibangun melalui kompetensi, kejujuran, kemauan mendengar, keterbukaan terhadap keterbatasan, dan kemauan memahami pekerjaan.

Baca Juga: Ketika Perlindungan Konsumen Disalahpahami

Seorang SHE yang hanya bertanya, “Mana SOP-nya?” mungkin benar dari sisi administratif. Tetapi SHE yang juga bertanya, “Bagaimana pekerjaan ini sebenarnya dilakukan?” sedang berusaha memahami risiko secara lebih utuh.

Menurut saya, peran SHE yang efektif bukan menjadi orang yang paling sering mengatakan “tidak boleh”, tetapi menjadi partner yang membantu memastikan pekerjaan dapat dilakukan dengan cara yang aman, sesuai persyaratan, dan realistis.

SWA: Apakah Pekerja Benar-benar Berani Menggunakannya?

Banyak organisasi memiliki Stop Work Authority (SWA), yaitu hak untuk menghentikan pekerjaan ketika terdapat kondisi yang dianggap tidak aman.

Baca Juga: Matematika Langit: Membaca Janji Sedekah dengan Nalar dan Tauhid

Secara prosedural, konsepnya sederhana. Tetapi dalam praktik, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah pekerja benar-benar merasa aman untuk menggunakan hak tersebut?

Di sinilah psychological safety menjadi penting. Pekerja perlu merasa bahwa menyampaikan kekhawatiran, bertanya, melaporkan kondisi tidak aman, atau menghentikan pekerjaan tidak akan membuat mereka dipermalukan maupun mendapatkan tekanan yang tidak semestinya.

Ukuran keberhasilan SWA bukan hanya keberadaan prosedurnya atau poster yang terpasang di lokasi. Ukurannya terlihat dari respons ketika seorang pekerja mengatakan, “Stop, kondisi ini belum aman.”

Baca Juga: Ketika Perlindungan Konsumen Disalahpahami

Bagaimana respons supervisor? Bagaimana respons rekan kerja? Bagaimana respons manajemen?

Jawaban atas pertanyaan tersebut dapat memberikan gambaran yang lebih nyata tentang budaya keselamatan daripada sekadar keberadaan dokumen SWA.

Budaya Safety Terlihat Ketika SHE Tidak Ada

Budaya keselamatan sering dibicarakan dalam rapat, pelatihan, audit, dan berbagai kampanye. Namun, ada satu pertanyaan sederhana yang menurut saya layak kita gunakan sebagai refleksi:

“Bagaimana pekerjaan dilakukan ketika tidak ada SHE di lokasi?”

Baca Juga: Dari Laporan Menjadi Dampak: Saat AI Mengubah Cara Kita Melihat CSR 

Jika pekerjaan tetap dilakukan dengan aman karena pekerja memahami risiko, memiliki kompetensi, saling mengingatkan, dan merasa memiliki tanggung jawab, maka safety mulai menjadi bagian dari cara bekerja.

Saya juga melihat bahwa ketika personel SHE terba­tas, fungsi keselamatan tidak boleh berhenti. Bagian lain perlu mengambil peran dalam menjalankan tanggung jawab keselamatan, misalnya melalui safety briefing, SHE meeting, komunikasi risiko, dan pengawasan pekerjaan.

Ini menunjukkan bahwa safety bukan hanya tugas orang SHE. SHE memang memiliki fungsi untuk mengarahkan, memastikan, memfasilitasi, dan mengembangkan sistem. Tetapi keselamatan pada akhirnya merupakan tanggung jawab bersama.

Baca Juga: Kabut Asap Bukan Sekadar Urusan Api, Saatnya Melindungi Masyarakat dengan Promosi Kesehatan

Dari “Siapa yang Salah?” Menjadi “Apa yang Bisa Dipelajari?”

Cara kita merespons sebuah insiden juga menunjukkan kematangan budaya keselamatan.

Investigasi yang hanya berorientasi pada siapa yang melakukan kesalahan berisiko membuat pembelajaran menjadi sempit. Kita mungkin menemukan orang yang melakukan tindakan terakhir, tetapi belum tentu menemukan kondisi yang membuat tindakan tersebut terjadi.

Investigasi perlu melihat rangkaian kondisi yang membentuk kejadian: bagaimana pekerjaan direncanakan, bagaimana komunikasi berlangsung, apakah sumber daya tersedia, bagaimana pengawasan dilakukan, apakah prosedur sesuai dengan kondisi lapangan, dan bagaimana keputusan diambil.

Dengan pendekatan tersebut, tujuan investigasi bukan menghilangkan akuntabilitas, tetapi memperluas pembelajaran. Kita tidak hanya bertanya siapa yang melakukan tindakan, tetapi juga apa yang dapat diperbaiki dari sistem agar kejadian serupa tidak berulang.

Baca Juga: Membangun Soliditas Team

Bagi praktisi SHE, perubahan cara bertanya ini sangat penting. Dari mencari kesalahan menuju memahami pekerjaan dan sistem secara lebih utuh.

Safety Harus Menjadi Cara Kita Bekerja

Pada akhirnya, keselamatan tidak cukup hanya menjadi dokumen, slogan, atau target tanpa kecelakaan. Safety harus hadir dalam cara kita merencanakan pekerjaan, mengambil keputusan, berkomunikasi, menyelesaikan masalah, dan memperlakukan orang di tempat kerja.

Prosedur tetap penting. Audit tetap penting. Pengawasan tetap penting. Namun semuanya memiliki keterbatasan jika manusia yang menjalankannya tidak memiliki kompetensi, dukungan, kepercayaan, dan ruang untuk berbicara.

Baca Juga: Siapa Berwenang Menghitung Kerugian Keuangan Negara?

Mungkin sudah waktunya kita tidak hanya bertanya: “Apakah pekerja mengikuti prosedur?”

Kita juga perlu bertanya: “Apakah prosedur kita sesuai dengan pekerjaan yang sebenarnya?”

“Apakah pekerja merasa aman untuk berbicara?” “Apakah supervisor mendengarkan?” “Apakah SHE hadir sebagai partner?” “Dan jika tidak ada yang mengawasi, apakah pekerjaan tetap dilakukan dengan aman?”

Baca Juga: Jerubu 2026: Mengapa Kita Kembali ke Titik yang Sama?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin jauh lebih menggambarkan budaya keselamatan kita daripada tebalnya dokumen yang tersimpan di lemari. Karena pada akhirnya, safety bukan hanya tentang bagaimana kita menulis aturan. Safety adalah tentang bagaimana kita bekerja.*** 

 

Editor : Arif Oktafian
Safety Leadership SHE keselamatan kerja k3