Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Harimau Memangsa Manusia Lagi di Pelalawan

Hendrawan Kariman • Selasa, 14 Juli 2026 | 09:51 WIB
Tim Gabungan BBKSDA Riau memasang kandang jebak di Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, Jumat (10/7/2026). (BBKSDA Riau UNTUK Riau Pos)
Tim Gabungan BBKSDA Riau memasang kandang jebak di Desa Sungai Ara, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan, Jumat (10/7/2026). (BBKSDA Riau UNTUK Riau Pos)

 

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) – Serangan harimau terhadap pe­kerja kebun perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) kembali terjadi di Kabupa­ten Pelalawan. Jumat (10/7) korban bernama Eko Prastio (29), seorang pekerja kebun PBPH, tewas diterkam harimau sumatera.

Sebelumnya, Selasa (7/7), seorang remaja bernama Jerlin Zalukhu (12) ditemukan tewas di area konsesi antara Sungai Ara dan Pengkalan Terap, Kecamatan Pelalawan. Anak pekerja kebun ini diterkam harimau saat menemani sang kakak mencuci piring di malam hari. 

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Laskar Jaya Permana mengatakan, berdasarkan informasi yang diperoleh Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) yang siaga di lokasi sejak 7 Juli lalu, peristiwa Eko Prasitio diterkam harimau, Jumat (10/7) lalu diperkirakan terjadi pada rentang pukul 21.00 WIB malam hingga Sabtu (11/7) pukul 02.00 WIB dini. Ini adalah jam aktif hewan buas terancam punah itu berburu.

Baca Juga: Plt Gubri Lepas Capaska Tingkat Nasional asal Riau 

Jaya Permana memaparkan, korban Eko Prastio sekitar pukul 19.15 WIB berpamitan kepada rekan satu kamar untuk mencari sinyal telepon guna menyampaikan agenda pekerjaan besok hari melalui grup WhatsApp kru pekerja. Namun hingga pukul 24.00 WIB korban belum kembali ke mess.

Lalu rekan kerja korban bersama seorang karyawan dan petugas keamanan melakukan pencarian di sekitar mes. Dalam proses pencarian di lokasi yang biasa digunakan korban untuk menelepon, tim menemukan sejumlah barang milik korban berupa sandal dan headset, disertai ceceran darah dalam jumlah banyak serta bekas seretan menuju area semak. 

‘’Dekat lokasi itu juga ditemukan jejak harimau sumatera dan jejak anjing yang mengarah ke titik ditemukannya barang-barang milik korban,’’ kata Jaya Permana, Senin (13/7).

Baca Juga: Kapolri dan Jaksa Agung Tegaskan Tetap Solid 

Melihat itu, sekitar pukul 02.30 WIB, petugas keamanan melaporkan kejadian tersebut kepada Tim WRU BBKSDA Riau yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian.  

Tim gabungan BBKSDA Riau tiba di lokasi kejadian sekitar pukul 02.52 WIB. Tim mengidentifikasi ukuran jejak kaki harimau sekitar panjang 16 cm dan lebar 15 sentimeter (cm), yang mengarah dari lokasi korban terakhir berada.

Setelah melakukan pencarian dalam radius sekitar 3 kilometer (km) dari lokasi kejadian hingga pukul 04.00 WIB, tim menghentikan pencarian karena kondisi gelap yang diiringi keterbatasan jarak pandang pada subuh hari.

‘’Baru pada pagi hari, Tim BBKSDA Riau, manajemen perusahaan dan para karyawan  melanjutkan pencarian dengan mengikuti jejak seretan dan ceceran darah. Korban berhasil ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di dalam semak dengan jarak sekitar 650 meter dari lokasi terakhir korban diketahui berada,’’ ujar Jaya Permana.

Terkait apakah yang menyerang Eko adalah harimau yang sama dengan harimau sebelumnya, Jaya Permana menyebutkan, pihaknya masih melakukan analisa. Yang jelas, jarak kematian Eko dan kejadian kematian sebelumnya sekitar 6,5 km.

Usai persitiwa  tragis ini  di kecamatan yang sama, yaitu Kecamatan Pelalawan, BBKSDA Riau langsung memasang kandang jebak. Kendati individi harimau ini tak kunjung teridentifikasi karena tak pernah terdeteksi batang hidungnya.

Baca Juga: Tim Pengabdian Unri Bekali Kelompok Maju Bersama Pembenihan Ikan Baung

‘’Kami memasang box trap dan meminta perusahaan agar menerapkan SOP secara ketat. Kami juga menghimbau seluruh masyarakat, pekerja dan karyawan perusahaan yang beraktivitas di sekitar kawasan habitat harimau sumatera agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak melakukan aktivitas seorang diri terutama pada malam hingga dini hari,’’ terangnya.

BBKSDA Riau juga mengingatkan agar para penanggung jawab para pekeja harus memastikan sistem pengamanan kamp dalam kondisi baik. Mereka juga diminta segera melaporkan kepada petugas apabila mengetahui keberadaan satwa liar di sekitar lokasi.

Dua konflik berdarah manusia dan harimau di Pelalawan ini memperpanjang catatan konflik yang terus terjadi setiap tahunnya. BBKSDA Riau sepanjang 6 tahun terakhir, dari 2020 hingga 2025 saja, mencatatkan lebih dari 100 laporan konflik yang dilaporkan masyarakat. 

Konflik ini baik kemunculan, temuan jejak hingga konflik berdarah. Dari periode yang sama, sebanyak 17 kali terjadi konflik berdarah. Rinciannya, pada 2020 ada 1 kasus, 2021 ada 2 kasus, 2022 ada 4 kasus, 2023 ada 3 kasus, 2024 ada 4 kasus, dan 2025 ada 3 kasus.

Dua kejadian di Pelalawan ini melengkapi empat kasus temuan harimau di Riau tahun ini. Sebelumnya ada dua kejadian lainnya yang melibatkan hewan buas terancam punah tersebut.

Pertama terjadi Teluk Masjid, Sungai Apit, Siak pada awal Januari lalu. Di sini hanya ditemukan jejak harimau tanpa ada laporan korban jiwa. Lalu kejadian di Kuala Kampar, tepatnya di Dermaga PT SPA Serapung pada akhir Februari. Saat itu salah seorang warga diterkam harimau. Sempat mengalami luka-luka, namun korban selamat.(end)

 

Editor : Arif Oktafian
bbksda riau harimau sumatera pelalawan