PADANG (RIAUPOS.CO) - Ledakan berkekuatan rendah (low explosive) terjadi di lingkungan MAN 3 Kota Padang, Selasa (14/7). Pelakunya diduga seorang siswa yang mengaku menyimpan dendam akibat sering menjadi korban perundungan.
Kapolresta Padang Kombes Pol Apri Wibowo mengatakan, ledakan terjadi di dalam laci meja yang berada di luar kelas. Ledakan itu sendiri diarahkan ke posisi teman korban yang diduga menjadi pelaku perundungan. ”Ledakan berskala rendah itu terjadi sekitar pukul 10.15 WIB,” katanya.
Selain benda yang sempat meledak, polisi juga menemukan tiga jenis bom molotov. Petugas keamanan sekolah dan polisi juga menemukan barang-barang berbahaya yang disimpan oleh pelaku di ransel seperti kotak hitam, tas hitam, telepon genggam, petasan, pisau, anak panah, kelereng, dan baut.
Barang-barang tersebut akan digunakan untuk melampiaskan emosinya kepada teman yang sering merundung pelaku. Apri Wibowo menyebut, jenis bahan yang digunakan masih didalami tim penyidik.
Baca Juga: Perempuan asal Kuansing Tewas di Hotel Dharmasraya
Untuk sementara, benda tersebut diduga merupakan bom rakitan yang dibuat sendiri oleh pelaku. ”Kami masih melakukan pendalaman terkait unsur-unsur yang ada di dalamnya. Untuk sementara diduga bom rakitan,” ujarnya.
Polisi juga melakukan pemeriksaan ke rumah pelaku guna memastikan kemungkinan adanya bahan atau perangkat lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Dari hasil pemeriksaan sementara, pelaku mengaku mempelajari cara merakit benda tersebut melalui internet dan tayangan YouTube.
Aksi peledakan dilakukan saat jam istirahat sekolah ketika kondisi di sekitar lokasi relatif sepi. Apri menjelaskan, pelaku mengaku telah mendapatkan perundungan sejak sekitar setahun lalu. Bahkan ia telah mengalami perundungan sejak masih kecil oleh orang yang berbeda.
Terkait proses hukum, pihak kepolisian masih melakukan kajian lebih lanjut. Mengingat pelaku juga merupakan korban perundungan yang menjadi pemicu aksi peledakan bom tersebut di sekolah.
Baca Juga: 48 Ribu Warga Kota Padang Masih Menganggur
Terinspirasi Kasus di Jakarta
Berdasarkan investigasi awal dari Polda Sumatera Barat bersama Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri, R diketahui bergerak atas inisiatif sendiri. Pemuda ini mengaku terobsesi oleh aksi serupa yang terjadi di luar daerah.
“Pelaku juga mengaku mempelajari pembuatan bahan peledak secara daring dan terinspirasi oleh peristiwa bom di SMA Negeri 72 Jakarta pada tahun 2025. Motif tersebut masih dalam proses pendalaman oleh TIM Penyelidik,” kata Juru Bicara Densus 88 Kombes Mayndra Eka Wardhana dalam keterangannya.
Guna melancarkan aksinya, R bergabung dengan sejumlah grup obrolan daring yang secara spesifik membahas tutorial pembuatan bahan peledak. Aparat penegak hukum bergerak cepat mengamankan barang bukti di lokasi kejadian.
Kepala MAN 3 Kota Padang Marliza saat dikonfirmasi membenarkan adanya insiden tersebut. Namun, ia mengaku tidak mendengar suara ledakan lantaran saat kejadian tengah mengikuti rapat bersama para guru di ruang terpisah.
Baca Juga: Sampah Bernilai, Lingkungan Lestari, Masyarakat Mandiri
”Sekitar pukul 10.00 WIB, saat jam istirahat kami sedang rapat. Kami tidak mendengar suara ledakan. Informasinya justru kami terima dari guru yang berada di luar ruang rapat,” ujar Marliza kepada Rakyat Sumbar (RPG).
Menurutnya, saat itu para siswa sedang menikmati waktu istirahat dan bersiap kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar. Situasi mendadak berubah setelah muncul laporan adanya ledakan di lingkungan sekolah.
”Kami cukup terkejut karena dari ruang rapat sama sekali tidak terdengar suara apa pun. Tiba-tiba ada informasi dari rekan-rekan guru bahwa telah terjadi peristiwa tersebut,” katanya.
Tak lama setelah kejadian, aparat kepolisian bersama unsur TNI langsung mengambil alih pengamanan. Pihak sekolah pun memilih menyerahkan sepenuhnya proses penanganan kepada aparat penegak hukum agar penyelidikan dapat berjalan secara maksimal.
”Polisi langsung datang ke lokasi. Kebetulan Babinsa juga sudah berada di sekolah. Kami belum sempat menggali informasi lebih jauh karena seluruh penanganan sudah diambil alih oleh pihak kepolisian,” ungkap Marliza.
Ia menambahkan, pihak sekolah belum meminta keterangan dari siswa yang diduga berkaitan dengan peristiwa tersebut. Menurutnya, langkah itu dilakukan agar tidak mengganggu proses penyelidikan yang sedang dilakukan polisi.
”Kami belum bisa memberikan penjelasan lebih jauh karena semuanya masih dalam proses penyelidikan. Kami menunggu hasil resmi dari kepolisian,” tuturnya.
Gen Z Teralienasi
Apa yang menjadi pemicu ledakan bom rakitan di MAN 3 Padang ini, memang masih sebatas dugaan. Meskipun demikian, pakar sosial Erianjoni menilai, inilah gejala Gen Z yang meyelesaikan masalah secara sendiri karena teralienasi dengan lingkungan sosial.
Hal tersebut terjadi karena mereka lebih cenderung berinteraksi dengan dunia virtual ketimbang dunia sosial. Akibatnya, berdampak pada perilaku sosialnya yang individualistis. ”Di tambah sekolah tidak sensitif dengan perundungan yang ada di lingkungannnya sehingga tidak ada pengendalian sosial preventif terhadap perilaku perundungan,’’ ujarnya.
‘’Selain itu, kalau toh disampaikan ke sekolah tidak akan menyelesaikan masalah dan malah menimbulkan masalah baru dan salah tindakan malah korban dipojokkan,” tambah Guru Besar dari Universitas Negeri Padang itu kepada Padang Ekspres (RPG).
Ia menyampaikan, pemerintah sudah melahirkan regulasi tentang perundungan, namun ditataran implementasi sekolah belum maksimal dalam mencegah perundungan karena tidak punya mekanisme yang jelas dan kadang hanya represif.
”Setelah ada peristiwa, baru ada tindakan, namun tak ada evaluasi terhadap kegagalan sekolah, sehingga kasus perundungan terus terjadi dan korban ada yang coba melawan seperti pada kasus di MAN 3 Padang ini,” ucapnya.
Senada, pakar pendidikan Fitri Arsih mengingatkan, sekolah tidak boleh hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga harus memastikan setiap peserta didik merasa aman, dihargai, dan terlindungi. Banyak kasus perundungan berkembang tanpa terdeteksi hingga akhirnya menimbulkan dampak yang lebih besar.
Menurutnya, lemahnya deteksi dini menjadi salah satu penyebab utama kasus bullying terus berulang di berbagai sekolah. ”Banyak kasus berkembang tanpa diketahui guru ataupun pihak sekolah hingga akhirnya menimbulkan dampak serius. Bahkan di beberapa lingkungan pendidikan, budaya kekerasan dan perpeloncoan masih dianggap lumrah sehingga tanpa disadari terus diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.
Fitri menegaskan, sekolah harus memiliki kebijakan anti-bullying yang jelas dan dipahami seluruh warga sekolah. Aturan tersebut tidak boleh berhenti sebagai dokumen administratif, tetapi harus menjadi budaya yang diterapkan dalam setiap aktivitas pendidikan.
”Sekolah perlu memiliki komitmen bahwa tidak ada toleransi terhadap segala bentuk perundungan. Anak-anak harus memahami sejak awal mana yang masih sebatas candaan dan mana yang sudah masuk kategori bullying. Edukasi seperti ini harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika muncul kasus,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan, penanganan terhadap pelaku tidak cukup hanya dengan memberikan hukuman. Pendekatan edukatif dan pembinaan perlu dilakukan untuk mengetahui akar persoalan yang mendorong seorang anak melakukan kekerasan terhadap teman sebayanya.
”Kita perlu mencari tahu mengapa seorang anak melakukan bullying. Bisa jadi ada masalah di rumah, kurang perhatian, atau terbiasa melihat kekerasan sebagai sesuatu yang normal. Karena itu, pelaku juga membutuhkan pembinaan agar perilakunya berubah, bukan sekadar dihukum,” tuturnya.
Fitri menegaskan, pencegahan bullying tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah. Orang tua, guru, pemerintah, dan masyarakat harus membangun sistem perlindungan anak yang saling terhubung melalui penguatan pendidikan karakter, peningkatan pengawasan, penyediaan saluran pelaporan yang aman, serta pendampingan psikologis bagi korban maupun pelaku.
”Tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan anak yang cerdas secara akademik, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki empati, menghargai perbedaan, dan mampu hidup berdampingan dengan orang lain. Ketika nilai-nilai itu benar-benar menjadi budaya di sekolah, maka ruang bagi bullying akan semakin sempit,” ujarnya.(yud/cip/edg/rpg)
Editor : Arif Oktafian