Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Dosen UIR Paparkan Penyebab Gempa Bumi Besar Terkini serta Kesiapsiagaan

Herianto Baserah • Jumat, 22 Agustus 2025 | 09:49 WIB
PKM Fakultas Teknik UIR yang dipimpin Catur Cahyaningsih menggelar sosialisasi kebencanaan di SMK Migas Teknologi Riau
PKM Fakultas Teknik UIR yang dipimpin Catur Cahyaningsih menggelar sosialisasi kebencanaan di SMK Migas Teknologi Riau

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) — Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Teknik (FT) Universitas Islam Riau (UIR) yang dipimpi Catur Cahyaningsih menggelar sosialisasi kebencanaan di SMK Migas Teknologi Riau, baru-baru ini. Membahas rangkaian gempa bumi besar yang belakangan terjadi di berbagai belahan dunia, sekaligus menegaskan langkah-langkah kesiapsiagaan yang relevan bagi warga di sekolah tersebut.

Gempa bumi besar yang belakangan terjadi di 2025, diantaranya, Kamchatka Rusia 30 Juli 2025. Berkekuatan sekitar Mw 8,8 mengguncang lepas pantai Semenanjung Kamchatka dan memicu tsunami lintas Pasifik. Gelombang tinggi hingga 5 meter, akibatnya kerusakan infrastruktur dan sejumlah korban luka. Peringatan dan evakuasi juga terjadi di Jepang dan Hawai. Myanmar pada 28 Maret 2025 Gempa bumi Mw 7,7 menewaskan lebih dari 3.000 orang pada pekan pertama. Laporan lembaga kemanusiaan memperkirakan sekitar 3.700–5.300 korban jiwa termasuk korban di Thailand. Puluhan ribu luka-luka, dan kerusakan luas pada permukiman serta fasilitas umum.  Dataran Tinggi Tibet, Tiongkok pada 7 Januari 2025, kekuatan sekitar Mw 7,1, 126 korban jiwa dan ratusan luka-luka, seribu rumah dilaporkan rusak di wilayah pegunungan yang jarang penduduk.

Apakah gempa bumi merambat ke Indonesia?. Tim menegaskan bahwa gempa bumi tidak menjalar seperti gelombang permukaan ke benua lain untuk memicu gempa besar secara langsung. Namun, aktivitas tektonik global sama-sama mencerminkan dinamika Lempeng Pasifik, Indo-Australia, Eurasia, dan mikro-lempeng lain. Ancaman utama Indonesia bersumber dari subduksi Sunda zona megathrust dan sesar-sesar aktif lokal. Bukan rambatan dari Myanmar, Tibet, Turki, atau Kamchatka. Dengan kata lain, risiko Indonesia berdiri sendiri karena berada di Cincin Api Pasifik.

Tim mengimbuhkan bahwa Bagian Indonesia yang paling berisiko gempa bumi besar diantaranya, Pesisir Barat Sumatra Aceh, Mentawai dan Selatan Jawa, Bali,Nusa Tenggara karena dekat zona megathrust pemicu gempa besar dan tsunami. Sesar Great Sumatran Fault (Sesar Besar Sumatra), patahan di Sulawesi (Sesar Palu Koro, dsb.), Maluku, dan Papua, potensi gempa darat merusak. Sementara kondisi Riau berada di Paparan Sunda yang relatif jauh dari sumber utama, sehingga risiko gempa merusak lebih rendah, tetapi guncangan tetap terasa dari gempa besar di Sumatra Barat atau lepas pantai.

Catur Cahyaningsih mengharapkan masyarakat Riau tetap waspada dan siap siaga. Bahwa jarak dari sumber utama bukan alasan untuk abai. Kunci keselamatan adalah kewaspadaan dan siaga dengan memahami sumber bahaya di sekitar Riau yang berpotensi mendapatkan guncangan jauh dari megathrust Sumatra dan Sesar Besar Sumatra kadang terasa hingga Riau. Bangunan bertingkat, tanah lunak/uruk, dan tepi sungai dapat menguatkan guncangan. Selain itu, risiko tsunami langsung di pesisir Riau rendah karena berhadapan dengan Selat Malaka dan paparan dangkal, namun warga yang beraktivitas di pesisir dan pulau terluar perlu mengetahui jalur evakuasi jika sedang berada di kawasan pantai lain.  “Fokus kami adalah memahami sumber bahaya, mengurangi risiko melalui perkuatan bangunan dan tata ruang, serta membangun kebiasaan respon yang tepat. Warga Riau memang jauh dari sesar utama, namun kesiapsiagaan adalah investasi keselamatan,” ujar Catur dalam sesi tanya jawab.(nto/c)

Editor : Rindra Yasin
#gempa bumi #Pengabdian kepada masyarakat #universitas islam riau #fakultas teknik #uir #PKM