JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Jagat dunia maya dibuat heboh dengan kabar diduga perselingkuhan Azizah yang merupakan istri Pratama Arhan dengan kekasih Rachel Vennya yang bernama Salim.
Bahkan di medsos X kasus perselingkuhan ini menjadi trending mengalahkan putusan MK soal Pilkada. Keyword Azizah, Andre Rosiade, Fuji, Arhan, selingkuh menjadi pembahasan utama warganet.
Dalam unggahan Rachel Vennya membenarkan bahwa hubungan asmaranya telah kandas dengan Salim Nauderer. Meskipun sebelumnya dia sangat bucin, nyaris tidak mau dipisahkan dari sang kekasih.
Rachel Vennya rupanya mengetahui dugaan perselingkuhan Salim Nauderer dengan Azizah Salsha. Kabarnya, dia mengetahui kali pertama di sebuah acara pernikahan. Akibatnya, Rachel langsung menjerit karena tidak kuasa menahan rasa sedih.
Selain itu, Rachel Vennya juga dikabarkan mendapat kabar tak sedap ini dari Pratama Arhan secara langsung.
"Aku dikasih tahu lakinya, Arhan telepon aku semalam. Mana mungkin aku gimmick gini,” tulis Rachel Vennya dalam tangkapan layar yang beredar di media sosial X.
Banyak netizen kecewa atas kabar perselingkuhan Salim Nauderer dengan Azizah Salsha. Apalagi keduanya sudah memiliki pasangan yang sejatinya harus dijaga perasaannya.
"Effort, ketulusan, sayang Arhan ke Zize (panggilan Azizah) pun masih nggak cukup buat Zize. Awalnya ngira Arhan kok kayak cinta sendirian, terus kepikiran mungkin Zize-nya juga bucin tapi private. Eh sekarang ada berita selingkuh sama Salim pacarnya Rachel," keluh salah satu netizen.
Profil Pratama Arhan
Untuk diketahui Pratama Arhan, pemain muda berbakat asal Indonesia, telah menarik perhatian dunia sepakbola sejak usia dini. Lahir pada 21 September 2002 di Rembang, Jawa Tengah, Arhan dikenal sebagai full-back yang memiliki kemampuan luar biasa di sektor pertahanan.
Ketangguhannya dalam menjaga sisi kiri lapangan, dikombinasikan dengan kecepatannya, menjadikannya salah satu talenta muda paling menjanjikan dari Indonesia.
Namun, meskipun namanya semakin dikenal di panggung internasional, perjalanan karier Arhan di luar negeri tidak selalu berjalan mulus. Salah satu contohnya adalah di Suwon FC, Korea Selatan, di mana dia baru bermain selama 3 menit.
Karier sepakbola Arhan dimulai sejak usia muda. Dia tumbuh di lingkungan yang mencintai sepakbola dan mengasah bakatnya di berbagai akademi lokal sebelum bergabung dengan PSIS Semarang pada 2018.
Di klub tersebut, Arhan dengan cepat menonjol berkat permainan defensifnya yang solid dan juga kemampuan menyerang yang mengejutkan. Dalam 13 penampilan bersama PSIS, Arhan mencatatkan 2 gol dan 1 assist, angka yang luar biasa untuk seorang full-back.
Penampilan apiknya membuat Arhan hanya mendapatkan satu kartu kuning selama 988 menit bermain, menunjukkan kedewasaannya dalam bermain di level kompetitif.
Tidak lama kemudian, Arhan dipanggil untuk memperkuat Timnas Indonesia. Panggilan ini menjadi titik balik dalam kariernya, membawanya ke panggung yang lebih besar di Asia Tenggara dan akhirnya internasional.
Debutnya bersama Timnas Indonesia mengukuhkan reputasinya sebagai pemain bertalenta. Kemampuannya dalam menjaga lini belakang, ditambah dengan kemampuan menyerang dari sisi lapangan, menjadikan Arhan salah satu pemain yang paling dinantikan untuk berkembang lebih jauh. Bahkan, banyak pengamat sepakbola yang menyebutnya sebagai bek masa depan Timnas Indonesia.
Kemampuan Arhan tidak hanya menarik perhatian di dalam negeri. Klub-klub internasional mulai melirik pemain muda ini. Pada 2022, Arhan mendapat kesempatan emas ketika Tokyo Verdy, klub asal Jepang, memutuskan untuk merekrutnya.
Kepindahan ini adalah langkah besar dalam karier Arhan, menandai perjalanan pertamanya bermain di luar negeri. Namun, bermain di liga yang lebih kompetitif seperti J2 League bukanlah tugas yang mudah.
Di Tokyo Verdy, Arhan hanya bermain dalam 4 pertandingan dengan total 255 menit bermain. Selama periode itu, dia hanya mendapatkan satu kartu kuning.
Meski menit bermainnya terbatas, pengalaman di Jepang memberikan banyak pelajaran bagi Arhan dalam menghadapi sepak bola dengan intensitas dan kecepatan yang lebih tinggi.
Editor : RP Edwir Sulaiman