Data kemampuan siswa terbaru dilaporkan Kementerian Pendididikan Dasar dan Menengah dalam Rapor Pendidikan Tahun 2025. Pada bidang numerasi, kompetensi minimum nasional berada di angka 67,94 persen. Di “buku rapor” nasional tersebut, kemampuan siswa di tiap jenjang dan tiap daerah dilaporkan dalam tiga kategori: baik, sedang, dan kurang.
Namun setelah di-breakdown, kemampuan numerasi siswa di sejumlah daerah menunjukkan data yang membuat kita patut merenung bersama. Bukan hanya di daerah pelosok, daerah-daerah perkotaan juga termasuk. Infrastruktur pendidikan di kota yang tergolong maju, banyak sekolah terakreditasi baik, dan akses terhadap teknologi yang mudah, tidak menjamin keterampilan numerasi yang baik.
Sebagai contoh Kota Pekanbaru yang mencatat adanya 21 persen siswa SD dan 13 persen siswa SMP berada di bawah standar kompetensi minimum numerasi nasional.
Data tersebut menunjukkan masalah yang serius, sebab kemampuan numerasi memiliki pengaruh signifikan terhadap kehidupan anak di masa depan. Kecakapan numerasi bukan hanya soal berhitung.
Numerasi merupakan kemampuan untuk memahami dan menggunakan angka dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Keterampilan ini menjadi dasar dalam pengambilan keputusan, pemecahan masalah, serta pengelolaan keuangan dan informasi berbasis data yang kian penting di era digital. Dengan kemampuan numerasi yang baik, seorang anak cenderung lebih siap menghadapi tantangan kehidupan sehari-hari, seperti memahami risiko, menilai tawaran finansial, bahkan membaca data dalam berita dan media sosial.
Jika keterampilan numerasi tidak diperkuat, maka anak-anak kita akan memasuki dunia dewasa dengan kemampuan bertahan yang rapuh.
Bukan Semata Tugas Guru Matematika
Dalam pembelajaran numerasi, guru berperan sebagai fasilitator utama. Guru membentuk pemahaman konseptual siswa, bukan sekadar penyampai rumus. Guru mesti paham, bahwa numerasi tak hanya berkaitan dengan kemampuan menghitung, tetapi juga mencakup pemahaman terhadap data, penalaran logis, serta penerapan matematika dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, peran guru tidak dapat direduksi menjadi “mesin transfer materi”, melainkan sebagai pengarah proses berpikir yang membangun makna dari pengalaman belajar.
Seorang guru numerasi yang efektif menciptakan lingkungan belajar yang mendorong eksplorasi, diskusi, dan pemecahan masalah secara terbuka.
Guru bertanggungjawab menghubungkan materi dengan konteks nyata yang dekat dengan kehidupan siswa agar pembelajaran numerasi lebih relevan, aplikatif, dan kontekstual. Guru harus mampu mengaktifkan potensi kognitif siswa, bukan hanya memberikan jawaban atau prosedur mekanis.
Namun, sebagai pilar utama dalam peningkatan kemampuan numerasi, masih banyak guru yang mengaku terbebani oleh aspek administrasi, padatnya jadwal mengajar, dan belum optimalnya pelatihan berbasis praktik.
Program peningkatan kapasitas guru juga sering kali tidak kontekstual dan tidak berkelanjutan, sehingga tak berdampak pada praktik mengajar di kelas. Berkaca dari fakta ini, guru harus difasilitasi dalam komunitas belajar yang aktif, didampingi mentor, dan diberi waktu untuk berinovasi. Tanpa itu, upaya perbaikan numerasi hanya akan jadi tumpukan kebijakan.
Pelatihan guru yang selama ini bersifat satu arah dan belum menjangkau kebutuhan riil termasuk yang harus dibenahi. Laporan Effective Teacher Professional Development Using Techonolgy (World Bank, 2022) menyimpulkan bahwa pembelajaran yang efektif memerlukan pelatihan guru yang berkelanjutan, berbasis praktik, dan didukung refleksi serta kolaborasi.
Selain itu, pemanfaatan teknologi juga memungkinkan guru mengakses sumber belajar, berbagi praktik baik, dan menyesuaikan metode numerasi sesuai kebutuhan siswa.
Tapi, dibalik semua itu, kita harus sadar, meningkatkan pembelajaran numerasi bukan tugas eksklusif guru matematika, melainkan tanggung jawab kolektif. Guru IPS misalnya dapat mengajak siswa membaca grafik penduduk. Guru Agama Islam bisa melatih siswa menghitung besaran zakat.
Bahkan dalam muatan lokal, seperti pendidikan Budaya Melayu Riau, guru bisa mengajak siswa mengidentifikasi bentuk bangun dan menghitung luas rumah adat Melayu Riau.
Sekolah harus membangun budaya numerasi sebagai bagian dari kehidupan sekolah, bukan hanya materi pelajaran. Dengan hadirnya kehidupan sekolah yang kaya akan numerasi, perlahan terbentuk perilaku siswa yang berlandaskan kecakapan numerasi.
Menurut Watson (1913), hal ini sangat mungkin terjadi karena perilaku manusia bisa dibentuk oleh lingkungan melalui pembiasaan stimulus dan respons.
Sinergi Mendongkrak Capaian Numerasi
Langkah mempraktikkan pendekatan numerasi dapat dilakukan di luar pelajaran matematika. Di Kota Pekanbaru misalnya, pembelajaran numerasi mulai diintegrasikan ke pelajaran lain, terutama dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Namun, langkah maju itu belum menjadi gerakan menyeluruh. Untuk itu, numerasi sepatutnya menjadi prioritas lintas sektor, mulai dari pemerintah, masyarakat, hingga swasta. Sekolah-sekolah dengan capaian kemampuan numerasi siswa dalam kategori sedang dan kurang harus menjadi prioritas perbaikan melalui beragam intervensi, seperti bimbingan teknis dan pendampingan.
Kepala sekolah perlu diberi pelatihan manajerial yang memungkinkan mereka menjadi pemimpin pembelajaran, bukan sekadar pengatur laporan. Pelatihan-pelatihan ini bisa dilaksanakan dengan mengoptimalkan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) untuk SD atau Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) untuk SMP.
Guru juga perlu difasilitasi dalam pengembangan modul numerasi yang kontekstual. Hal ini dapat berjalan melalui komunitas belajar sekolah dan/atau antar-sekolah, seperti Kelompok Kerja Guru (KKG) untuk SD atau Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) untuk SMP. Selain itu, guru juga perlu diberi ruang untuk kolaborasi antar-mata pelajaran secara optimal.
Selain fokus pada pelatihan dalam upaya peningkatan kapasitas kepala sekolah dan guru, pemerintah juga bisa melakukan kolaborasi dengan mitra pembangunan, seperti yang dilaksanakan bersama Tanoto Foundation.
Pada 2024, Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru bersinergi dengan Tanoto Foundation dalam program Hibah Fasilitator Daerah. Program ini dilaksanakan guna meningkatkan kapasitas guru-guru SD di Kota Pekanbaru.
Kegiatan yang menyasar kurang lebih 100 guru tersebut dilaksanakan di dua lokasi, yaitu Rumbai Raya dengan topik Penyusunan Soal Numerasi Berbasis Asesmen Kompetensi Minimum, dan di Sukajadi dengan topik Pembelajaran Numerasi Berbasis Digital (Penggunaan Aplikasi Learning Apps dan PhET).
Kegiatan tersebut memberikan dampak positif bagi guru di sekitar 25 sekolah. Program ini juga berkontribusi pada peningkatan capaian numerasi siswa di lebih dari 50% sekolah sasaran berdasarkan data Rapor Pendidikan tahun 2025.
Tidak kalah penting, di samping beragam intervensi pemerintah, keterlibatan orang tua dan masyarakat juga harus diperkuat. Numerasi bisa dilatih kepada anak-anak dari dapur hingga pasar, seperti dengan menakar bahan, membandingkan harga, menghitung diskon.
Kemampuan numerasi menjadi fondasi logika berpikir dan pengambilan keputusan. Anak yang melek angka akan lebih siap menghadapi tantangan ekonomi, sosial, dan teknologi di masa depan. Jika Kota Pekanbaru ingin menyiapkan generasi unggul, maka kecakapan numerasi harus ditanamkan sejak bangku sekolah dasar. Tidak dengan hafalan, tapi dengan keterampilan hidup nyata. Bukan menganggapnya sekadar urusan nilai rapor atau hanya tanggung jawab guru matematika.
Dengan sumber daya yang dimiliki dan kolaborasi semua pihak, Kota Pekanbaru dapat meningkatkan kemampuan numerasi siswa dan berpotensi menjadi percontohan nasional.
Dwi Wahyu Alfajar, System Strengthening Unit Tanoto Foundation
Editor : Rindra Yasin