Permainan Sepak Rago Tinggi merupakan jenis permainan tradisional yang telah dimainkan sejak zaman dahulu oleh nenek moyang. Khususnya yang berasal dari Kenegerian Kopah Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi.
Laporan DESRIANDI CANDRA, Telukkuantan
PERMAINAN tradisional Sepak Rago Tinggi Kenegerian Kopah ini, Senin (23/3/2026) kembali ditampilkan. Tradisi ini, memang selalu ditampilkan pada saat suasana Idulfitri, tepatnya pada hari ketiga Idulfitri.
Lapangan Pasar Sotu Desa Titian Modang Kopah yang menjadi pusat kegiatan, ramai dikunjungi masyarakat Kenegerian Kopah yang ingin menyaksikan penampilan para peserta yang memainkan permainan tradisional itu.
Di antaranya ada terlihat Kepala Dinas Kebudayaan dan Priwisata Ir Emmerson, Camat Kuantan Tengah Eka Putra, Penghulu Suku dan undangan lainnya. Permainan Sepak Rago Tinggi sebenarnya dilandasi adanya sebuah kesepakatan dalam musyawarah masyarakat adat di Kenegerian Kopah pada masa dahulu.
Permainan Sepak Rago Tinggi diperkirakan sudah ada sejak tahun 1833 lalu. Bahkan beberapa sumber ada yang mengatakan Sepak Rago Tinggi berasal dari kesultanan Malaka sekitar abad 15 Masehi. Waktu itu Sepak Rago Tinggi dimainkan khusus oleh keluarga kerajaan saja. Namun di masa sekarang, permainan Sepak Rago Tinggi sudah bisa dimainkan kalangan masyarakat luas dari kelompok usia yang beragam, mulai dari orang tua hingga anak-anak sekali pun.
Dalam prakteknya, permainan Sepak Rago Tinggi berbeda dengan permainan sepak takraw. Sebab Sepak Rago Tinggi dilakukan dalam sebuah garis lingkaran dikelilingi daun kelapa, yang di bagian atasnya tepat di tengah-tengah garis lingkaran ini diletakkan sebuah payung dengan posisi terbalik. Payung itu berfungsi sebagai sasaran bola rago tinggi, atau tempat memasukkan bola rago tinggi.
Menurut Ketua Pusat Sepak Rago Tinggi Kenegerian Kopah (PUSAKO), Riokasyter Wandra, Sepak Rago Tinggi dahulunya dilakukan dengan sistim tim. Namun saat ini tidak berlaku lagi.
Setiap permainan Sepak Rago Tinggi dimainkan tujuh sampai dengan 15 orang. Awal periode yang diperkirakan tahun 1883 hingga 1962 silam, payung yang digunakan saat ini sebenarnya sebagai pengganti alat terdahulu. Di mana dinilai lebih praktis.
Periode sebelum menggunakan payung, orang-orang dahulu menciptakan sendiri payungnya dengan bahan sebatang buluah/bambu/aur yang telah dibelah setiap sisinya. Bambu itulah fungsinya sebagai payung yang sekarang, sebagai penyambut bola rago tinggi. Gunanya menentukan berhasil atau tidaknya memasukkan bola kedalam lingkaran aur tersebut.
Aur yang ujungnya telah dibentuk semacam payung ini posisinya dibalikkan agar bisa menampung bola yang setali dengan bambu sebatang. Barulah kemudian sejak tahun 1962 hingga saat ini, masyarakat Kenegerian Kopah mengganti alat yang lama tadi dengan sebuah payung.
Permainan Sepak Rago Tinggi memiliki aturan yang wajib diikuti oleh para pemain. Dipaparkan Rio, sebelum permainan tradisonal Sepak Rago Tinggi dimulai, para pemain Sepak Rago Tinggi wajib untuk bersuci dengan mengambil wudhu. Pemain Sepak Rago Tinggi berpakaian Melayu, dilengkapi dengan songket atau sarung yang diikat menyamping di sebelah kanan. Setiap pemain menggunakan peci dan alas kulit yang diletakkan di punggung kaki. Penghulu atau niniak mamak membakar kemeyan atau perasapan sebagai spiritual untuk mendoakan permainan Sepak Rago Tinggi berjalan dengan lancar.
Pemain Sepak Rago Tinggi memasuki gelanggang/lapangan. Penghulu atau niniak mamak segera melempar bola rago tinggi kepada seorang pemain, menandakan permainan Sepak Rago Tinggi sudah bisa dilaksanakan. Melempar bola sepak rago di ibaratkan dengan memberikan sirih dan pinang kepada pemain lainnya. Apabila bola di lempar tidak bagus maka bola sepak rago tinggi disambut dan diulang dilemparkan kembali kepada pemain penerima bola sepak rago tinggi.
Penyepak pertama kali disebut sumandan. Penerima bola rago akan mengambil bola rago tinggi dengan kaki kanannya dan gerakannya menyerupai gerakan silat. Usai bola rago disepak sumandan dilanjutkan lagi pemain kedua. Pemain kedua sebagai penerima bola berikunya disebut dengan tunangan. Posisi antara pemain saling berhadapan. Para tunangan akan berusaha memasukkan bola ke payung yang tingginya bisa mencapai tujuh meter sampai dengan 12 meter dari permukaan tanah.
Selain itu tunangan juga harus selalu berusaha memainkan bola supaya bola selalu berada di atas udara dan sedapat mungkin jangan sampai jatuh ke tanah. Musik tradisonal Rarak mulai dimainkan, permainan sepak rago tinggi berlangsung dan para dayang akan berdiri di sekitar pemain dengan memagang carano yang berisi sirih, pinang dan kapur (isian cerano) akan selalu mengamati seluruh pemain rago tinggi.
Para dayang (gadis) dalam permainan Sepak Rago Tinggi adalah untuk menjemput pemain rago tinggi. Apabila di tengah-tengah permainan, jika pemain Sepak Rago Tinggi ada yang memasukkan bola ke dalam payung atau pemain rago ada yang terjatuh maka dayang yang akan menjemput ke tempat permainan Sepak Rago Tinggi. Diberikan isian yang ada dalam cerano untuk dimakan oleh pemain yang keluar.
Dahulu, apabila pemain Sepak Rago Tinggi masih bujangan, maka dayang adalah goroon (pacar-nya) yang menjadi dayang. Dayang ini lah yang memberikan dukungan atau semangat. Salah satunya dengan meminjamkan songket kesayangan untuk dibawa bermain oleh pemain bujangan tersebut.
Namun bila pemainnya telah berkeluarga, maka para istri biasanya membawa dulang atau jambar yang diisi makanan nasi beserta lauk pauk atau bisa juga buah-buahan hasil kebun sendiri.
Bola yang digunakan dalam Sepak Rago Tinggi tidak sembarangan, tetapi menggunakan bola khusus. Ukurannya lebih kecil, terbuat dari rotan yang dibuat khusus.
"Bola rago dibuat khusus dari rotan yang terlebih dahul direndam ke dalam air. Kemudian di belah-belah kecil menjadi 12 bagian. Minimal panjang rotan dua meter. Bola rago lebih kecil dari bola takraw," kata Rio.
Lingkaran bola rago tinggi lebih kurang 10 cm, memiliki delapan lubang, berbetuk segi lima. Pemain menggunakan dan memakai alas di punggung kaki yang terbuat dari kulit kambing atau kerbau. Kemudian di ikat dengan tali torok, di ikat ke kepergelangan kaki guna menimbulkan bunyi ketika bola rago tinggi di sepak serta menghindari cedera pada pemain.
Musik Rarak Godang dalam permainan sepak rago tinggi untuk memberikan kekuatan dan semangat bermain kepada seluruh pemain rago tinggi.
Ketika melakukan permainan Sepak Rago Tinggi, pemain rago tinggi terdiri tujuh orang sampai dengan 15 orang. Biasanya empat orang yang paling mahir di utus dari suku masing-masing. Di dalam permainan rago tinggi, tunangan menjemput bola kedalam wilayah lingkaran, ketika bola rago masih diatas udara dan bola rago menuju tunangan maka tunangan yang mendapat bola akan berteriak atau bersuara dalam memainkan bola rago tinggi “tabiak” atau ucapan dengan “opp” atau “hauu”, beserta diikuti dengan isyarat tangan kanan menunjuk keatas sejajar dengan bola rago tinggi tersebut.
Pada saat permainan rago tinggi untuk arah jatuh bola rago ke kiri maka pemain yang disebalahnya yang mengambil bola rago. Pemain sepak rago tinggi dalam menyepak bola rago harus denga kaki kanan. Apabila pemain jatuh atau salah satu main lelah maka pemain akan diistirahatkan, kemudian dijemput oleh dayang atau anak gadis kedalam gelanggang permainan. Pemain yang jatuh diajak duduk sambil makan sirih atau yang telah disediakan oleh dayang atau anak gadis yang paling cantik di Kenegerian Kopah.
Baca Juga: Arus Balik Idulfitri di Jalur Lintas Tengah Ramai Lancar, Belum Ada Peristiwa Laka
Dalam permainan rago tinggi harus diiringi rarak godang (sejenis musik tradisional asli kopah dan ditambah dengan nada ogung godang, dengan pukulan sesekali). Pakaian yang dikenakan dalam permainan sepak rago, baik sumandan dan tunangan sama yakni baju adat melayu lengkap lapisan songket dan pakai peci dikepala, dayang memakai pakaian khas adat di kenegerian Kopah. Setelah permainan selesai para pemain akan berkumpul sambil makan konji (makanan khas kenegerian kopah)
Permainan Sepak Rago Tinggo dimainkan 15 menit sampai dengan 60 menit. Biasanya, sebelum dilaksanakan permainan Sepak Rago Tinggi, maka akan diumumkan dengan canang di seluruh kampung untuk mengikuti dan menghadiri pertunjukan permainan tradisional sepak rago tinggi. Permainan ini dilaksanakan di depan balai adat atau rumah godang yang ada di kenegerian Kopah, atau di lapangan terbuka yang nantinya akan disaksikan oleh banyak orang.
Biasanya permainan rago tinggi ini dilakukan pada saat tertentu, seperti sewaktu musim panen padi, atau hari besar agama seperti hari raya Idulfitri menjelang sore harinya. Merupakan keharusan setiap dilangsung permainan rago tinggi, payelenggara wajib mengundang Penghulu, Ninik-mamak, cerdik pandai serta para menti atau Dubalang dari empat suku yang ada di Kenegerian Kopah (Melayu, Patopang, Chaniago, Piliang).
Permainan Sepak Rago Tinggi selesai para niniak mamak berunding untuk menentukan pemberian hadiah bagi pemain yang berhasil memasukkan bola paling banyak ke dalam payung atau menyelamatkan bola tidak sampai jatuh ke tanah. Untuk hadiah bagi pemenang biasanya akan mendapatkan kain sarung lengkap dengan peci.
Sepak Rago Tinggi memiliki unsur-unsur gerakan silat, olahraga, tradisi musik Rarak tradisional, tadisi mangonji (masakan khas kenegerian kopah yang terbuat dari tepung beras, dimasakan didalam kanca), ritual adat, pertandingan, kekompakan, kebersamaan dan gotong royong di tengah-tengah masyarakat.
Selain itu, permainan ini mengandung falsapah yang dalam. Antara lain, membela dan mensyiarkan agama Islam. Menjalin silaturami antara pemain Sepak Rago Tinggi dan silaturahmi di masyarakat. Kebersihan hati dan kebersihan diri. Di mana pemain rago sebelum barmain harus berwudhu, dan pemain harus betul-betul tulus sehingga pemain akan mencapai tujuan memasukan bola rago tinggi kedalam payung. Bentuk bersyukur pada setiap keadaan dan menjalin kebersamaan serta kompetisi yang sehat di dalam masyarakat, duduk sama rendah tegak sama tinggi.
Dalam perjalannya itu, kata Rio, Sepak Rago Tinggi sudah mengukir banyak prestasi yang gemilang. Pernah meraih peringkat VI Nasional dalam Festival Olahraga Asli Daerah Indonesia (FORTINA) 2020 Kemenpora RI di Jakarta
Peringkat VIII Nasional Festival Olahraga Tradisional Tingkat Nasional (FOTNAS) 2022 Kemenpora RI di Solo, Jawa Tengah
Peringkat III Nasional, Nominasi Atraksi Budaya Anugerah Pesona Indonesia (API) 2023 Kementerian Kebudayaan RI. Festival Sepak Rago Tinggi tingkat Kabupaten Kuantan Singingi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kuantan Singingi tahun 2023. Ikut berpartisipasi pada acara Festival Olahraga Masyarakat di Desa Wisata (Fordewisata) tahun 2024 di Kota Padang
Sumatera Barat.
Saat ini, Sepak Rago Tinggi sudah tercatat dalam Pencatatan Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) Kementerian Hukum RI. Beberapa kali tampil di liputan TV Nasional Jejak Petualang Trans 7 Tahun 2019 dan Pesona Indonesia TVRI Tahun 2025.
"Mudah-mudahan Sepak Rago Tinggi nanti bisa menjadi warisan budaya tak benda Indonesia asal Kabupaten Kuansing," ujar Rio.
Kepala Dinas Budpar Kuansing, Ir Emmerson menilai, Sepak Rago Tinggi Kenegerian Kopah memiliki khasanah budaya dan tradisi yang tinggi. Dimana sebelum permainan di mulai, ada doa yang dipanjatkan pada yang Maha Kuasa, berpakaian Melayu dan semua pemain wajib berwudhu. Disaksikan para penghulu, ninik mamak dan orang se kampung. Begitu pula dalam permainan, ada aturan yang harus diikuti.
Permainan tradisional yang turun temurun ini, harus lah terus di jaga dan di lestarikan. Sehingga keberadaannya tetap bisa di saksikan oleh masyarakat Kuansing secara luas.
Dinas Budpar Kuansing sendiri, sekarang sedang mengusulkan ke Kementerian Kebudayaan RI sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) milik Indonesia.***
Editor : Edwar Yaman